The Three Metamorphosis: Interpretasi Sederhana atas Wacana Zarathustra

Ini merupakan kali pertama saya mengenal Friedrich Nietzche melalui karyanya Also Sprach Zarathustra yang diterjemahkan dengan kurang baik ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Thus Spoke Zarathustra oleh H.B. Jassin, Ari Wijaya,dan Hartono Hadikusumo melalui Penerbit Narasi. Oleh karena kekurangan terjemahan itu maka saya harus membandingkan karya itu dengan terjemahan Bahasa Inggris yang ditulis oleh Bill Chapko sekaligus menandai kata yang ambigu di beberapa paragraf dan membuat terjemahan amatiran pada sisi kiri dan kanan buku.

 Secara umum buku ini berbicara mengenai teori Ubermensch yang diterjemahkan menjadi Manusia Unggul, superman, atau overman; sebuah istilah bagi manusia yang sudah melampaui manusia rata-rata. Teori mengenai Manusia Unggul ini banyak dibahas dalam Prolog dalam bentuk metaforis yang membingungkan. Pada intinya konsep Manusia Unggul menandakan sebuah kondisi dimana manusia memiliki kehendak bebas atas dirinya sendiri, menciptakan nilai-nilainya sendiri, tidak terikat konstruksi moral tertentu dan memiliki kreativitas tanpa batas.

Dalam ceramah pertama Zarathustra yang berjudul The Three Metamorphosis, Nietzche memberikan tahap-tahap spiritualitas untuk mencapai Manusia Unggul. Dalam wacana itu, dia menceritakannya dalam bentuk alegoris sehingga beberapa pembaca memiliki interpretasi yang beraneka ragam; sebagian melihatnya sebagai transformasi individu, sebagian lagi sebagai transformasi masyarakat. Dalam ulasan ini saya akan membahasnya dari segi individu.

Metamorfosis paling pertama dideskripsikan oleh Nitzhche sebagai seekor unta yang dituliskannya sebagai berikut:

“Apakah berat? Demikianlah bertanya si roh pemanggul beban demikianlah ia berlutut bagai unta, ingin dipunggah beban sepantasnya. Apakah hal yang paling berat, hai pahlawan, demikianlah bertanya si roh pemanggul beban (the spirit that would bear much), sehingga aku boleh memanggulnya dan bergembira dengan kekuatanku?”

Setelah kalimat ini Nietzche menjelaskan hal-hal yang dianggap berat oleh ruh tersebut. Salah satunya tergambarkan dalam ucapan ini:

“Ataukah hal ini: mencintai mereka yang memusuhi kita dan mengulurkan tangan kita kepada sang hantu ketika ia akan menakuti kita?”

Fase menjadi unta menandakan ketertundukan kepada aturan, norma, agama dan konstruksi eksternal yang menentukan cara pandang manusia. Hal ini dimetaforakan menjadi ruh yang berlutut seperti unta. Selain itu untuk mencapai dua tahap selanjutnya ruh harus merasakan derita, kegamangan, penderitaan, pengasingan agar memiliki kesiapan mental memasuki tahap selanjutnya.

Sang Unta kemudian berjalan sendiri menuju gurunnya sendiri. Sebuah fase yang menandakan kesadaran bahwa dengan penderitaan dalam hidup yang  dipanggulnya telah membedakannya dari manusia lain. Dalam kesendirian itu ia mempertanyakan segalanya: agama, norma, budaya, dan kesusilaan. Pada fase ini ia mendapati bahwa tidak ada kebenaran universal dan kebajikan adalah omong kosong. Biasanya dalam kondisi ini manusia merasakan bahwa hidupnya tidak memiliki makna dan memilih satu di antara dua jalan: bunuh diri atau menciptakan nilai/maknanya sendiri. Untuk menjadi Manusia Unggul ia harus menciptakan maknanya sendiri dan masuk ke fase berikutnya.

“Tetapi di gurun yang paling sunyi terjadi metamorphosis yang kedua: roh menjadi singa, ia ingin merdeka dan menjadi tuan di gurunnya sendiri. Ia mencari tuannya yang terakhir: ia akan melawannya dan Tuhan terakhirnya; untuk kemenangan yang akbar dia akan melawan Si Naga Besar. Siapakah Si Naga Besar yang tak lagi hendak dipanggil Tuan dan Tuhan ? “Engkau Harus (Thou shalt)” adalah nama Si Naga Besar. Tetapi roh si Singa berkata “Aku Hendak (I will)”

Dalam paragraf ini Nietzhe berusaha untuk mempertentangkan ruh Singa yang identik dengan sifat marah, liar, dan berani dengan Si Naga Besar yang menamai dirinya “Engkau Harus”. Pertentangan ini juga menandakan bahwa ruh pada fase kedua harus berani untuk menolak semua kebenaran universal (agama, budaya dsb) yang berusaha dicangkokan pihak eksternal untuk membentuk dirirnya. Untuk menolak ini tentu ruh tidak bisa berwujud menjadi unta yang penurut tapi harus menjelama menjadi singa yang berani. Setelah semua penolakan atas konstruk eksternal, ruh harus membuat nilai-nilainya sendiri –hal ini kemudian disebut dengan nihilisme.

Fase terakhir adalah menjadi anak-anak (child) karena:

“Si anak itu lugu dan pelupa, suatu awal baru, sebuah permainan, roda yang berputar sendiri suatu gerak pertama dan suatu “Ya” yang suci”

Mungkin Nietzche menyarankan agar ruh dalam wujud singa untuk melupakan fase-fase sebelumnya; seperti anak-anak yang polos dan ceria. Melupakan dalam artian tetap menjaga rasa penasaran dan pertanyaan kritis atas segala sesuatu sehingga temuan-temuan nilai baru dapat dilakukan melalui tahap-tahap metamorphosis. Pada fase inilah Manusia Unggul itu tercapai saat ruh mencapai kebebasan dan memiliki makna yang terbebas dari konstruksi eksternal.

Pertanyaan selanjutnya adalah apabila moralitas dikembalikan kepada subjeknya (nihilis) bagaimana menentukan suatu perbuatan itu salah atau benar (seperti pembunuhan, pemerkosaan dsb)? Sepertinya untuk memahami ini penulis harus banyak membaca lagi karya Nietzche lainnya.

Sekian.

Ferry Fadillah. Juni, 2016.

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: