Ibu

People are asleep and when they die, they awaken

Hadith of the Prophet Muhammad

Know that you are imagination, and all that you perceive

And about which yous say “that’s not me”, is imagination.

So the whole existence is imagination within imagination

Ibn Arabi

 

 “Ah! Aku paling nggak suka kalau kamu terus suruh aku salat,” bentakku sambil memuntahkan kepalan ke lemari baju.

Dialah Aminah, ibu kandungku, yang selalu cerewet menyuruhku untuk salat, puasa dan segala ritus pra-ilmiah lainnya. Biasanya aku hanya berkata “ya” setiap ia mulai berceramah, sialnya kini aku sedang mendapat banyak masalah. Bentakan ini adalah puncak kekesalan itu.

“Alif…,” panggilnya lirih dengan air mata menetes, “Salat itu kewajiban, kalau kamu nggak salat apa bedanya kamu sama orang kafir. Allah perintahkan itu semua lewat Al-Quran. Kitab ini surat cinta dari Allah bagi manusia. Ibu nggak mau kamu nanti dapat adzab karena menyepelekan salat. Salat ya, Nak. Salat..”

Aku muntab dibuatnya. Aku tahu ia ibuku. Guru sekolah dasarku mengajariku untuk hormat dan berbakti padanya. Tapi hari ini.. Ah.. persetan!

“Udah ibu nggak usah ngurusin hidup Alif. Mau Alif salat, pindah agama, atau nggak percaya sama Al-Quran itu urusan Alif! Ini hidup Alif! Alif bebas untuk milih, Bu!” bentakku kasar sambil menunjuk tepat ke hidung ibuku.

Tanpa berbicara ibuku meninggalkan kamar. Jilbabnya basah oleh air mata. Setelah kepergiannya aku merasakan sesal menyeruak di dalam hati. Buru-buru aku menampiknya, “Kau benar Alif, kau benar.”

***

 Aku berjalan di sebuah hutan pinus. Sekitarku hampir semuanya berwarna merah. Di langit tidak ada satu pun bintang menggantung. Bahkan di waktu yang tidak jelas pukul berapa ini, tidak ada suara binatang apapun. Entah itu jangkrik atau nyamuk liar yang mencari darah.

Dari kejauhan aku melihat sebuah gubuk tua tidak terawat. Sebuah bangunan gaya kolonial dengan cat putih dan sulur yang menjalar menutupi tiang dan atap merahnya.

Ketika akan melangkahkan kaki ke gubuk itu, aku melihat sosok ibu. Samar. Tersembunyi dalam gelap dan pekat hutan yang berwarna darah. Ia berjalan cepat menuju gubuk yang sama.

“Ibu! Ibu mau kemana! Tunggu Alif, Ibu!”

Panggilanku tidak menghentikan langkah kakinya, bahkan ia semakin cepat meninggalkanku jauh dibelakang.

“Ibu tunggu Alif, Ibu. Tunggu…” jeritku semakin parau di tengah segala kebingungan.

Akhirnya aku sampai di gubuk itu. Nafasku terengah-engah. Aku mendapati sosok ibu duduk di sebuah meja usang dengan gelas dan piring di depannya. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Jilbabnya yang kusam dan kepalanya yang tertunduk membuatku bertanya-tanya, “benarkah ini ibuku?”

“Duduk.” serunya datar.

Aku mematuhi perintahnya. Kugeser kursi reyot itu. Sambil mengambil posisi duduk aku pandang lekat sosok ibu di hadapanku. Aku mulai ragu, apakah dia ibuku? Tapi kemudian aku mulai memberanikan diri untuk bertanya.

“Kita ada dimana, Bu? Kenapa ibu begitu pucat, kenapa ibu tidak kembali saat Alif panggil?”

Sosok ibuku terdiam lama. Aku mengulang pertanyaan yang sama namun ia tetap bergeming. Tidak ada angin, tidak ada suara nafas, tidak ada percakapan. Penantian ini adalah siksaan terberat dalam hidupku.

Tiba-tiba saja sosok ibu membuka percakapan.

“Ibu? Hahahaha.. Aku bukan ibumu. Aku bukan ibumu. Tidakah kau mengenal ibumu? Bukankah kau yang dilahirkannya, disapihnya, diberinya pengetahuan, didoakannya, tapi kau tidak mengenal ibumu. Hahahaha..”

Setelah tawa itu lepas ia terdiam. Kembali kepada sikap angker semula. Perlahan ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah kiri. Sontak mataku mengikuti arah telunjuknya. Sebuah kamar besar dengan pintu lebar. Di tengahnya ada kasur dengan kelambu nyamuk yang sudah berdebu. Sebuah lilin yang sudah tinggal seperempat adalah satu-satunya alat bantu penerangan. Dalam samar aku melihat sosok tubuh yang terbujur kaku.

“Siapa dia?”

“Kau lihat sendiri”, senyumnya terlihat ganjil.

Aku beranjak dari kursiku. Berjalan perlahan ke arah kasur itu. Di pintu kamar aku berusaha membersihkan sarang laba-laba yang menutupi jalan masuk. Saat berada di dalam kamar aku terkejut. Tiba-tiba dinding-dinding kamar berubah menjadi padang rumput yang luas.

Astagfirullah. Kemana rumah tadi. Aku ini dimana?”

Saat aku berbalik, aku tidak lagi melihat sosok wanita misterius tadi. Sepanjang mata hanyalah padang stepa tanpa ujung. Pada momen itu hanya ada aku dan sosok terbujur kaku di dalam kasur di tengah ruang waktu yang bahkan tidak aku pahami.

Di antara kengerian dan kebingungan itu aku lanjutkan perjalanan menuju kasur. Walaupun terlihat dekat namun langkah-langkahku terasa berat seperti tertahan oleh tangan-tangan imajiner.

Aku membuka kelambu itu sambil terbatuk-batuk. Debu masuk ke dalam hidung dan mataku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku gosok mataku perlahan. Saat mataku jernih kembali, aku bisa jelas melihat tubuh itu. Aku terkejut. Bingung. Hampa.

“Ibu..! Ibu kenapa.. Ibu jangan ninggalin Alif. Ibu maafin Alif.. Ibuuu!”

Itu ibuku. Itu ibuku yang terbujur kaku. Wajahnya pucat. Ia tidak bernapas. Ia mati pikirku.

Ia mati dan aku sendiri.

***

“Suster! Ambil cepat alat kejut jantung!”

“Baik, dokter!”

Tubuh itu tidak berdaya. Luka bakar tampak memenuhi sekujur tubuhnya. Wajahnya rusak. Bentuknya sudah tidak lagi dikenali.

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tubuh itu terangkat beberapa senti dari kasur. Tangannya bergerak tidak beraturan. Namun mesin di sebelah kepalanya belum menandakan adanya tanda kehidupan.

“Tambah lagi daya listriknya, Suster!”

“Satu.. Dua.. Tiga..!”

Tiba-tiba saja aku merasa tertarik dari semburat cahaya warna-wani yang tidak beraturan. Aku melihat fragmen-fragmen samar ingatan yang berkelibatan seperti film: rumah tua, wanita misterius, hutan pinus merah, padang luas dan ibuku yang terbujur kaku. Kesadaran mulai masuk ke dalam tubuhku. Perlahan-lahan aku membuka mata.

“Siapa kalian? Aku dimana? Dimana ibuku?”

“Tenang, Dek. Kamu belum sehat. Tidak perlu bertanya dulu.”

“Tolong Dok jelaskan semuanya, dimana aku, dimana ibuku?”

Dokter itu terdiam.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

Aku terus bertanya. Memaksa. Merajuk sambil meraung-raung.

“Dok kenapa diam saja.. dimana aku? Dimana ibuku?”

“Ibumu? Bukankah ibumu mati. Hahahaaha..”

Aku terkejut kenapa dokter itu tertawa memberitakan kematian ibuku. Sialnya ia terus tertawa sambil memperlihatkan gigi serinya yang berjarak. Ia terus tertawa sambil memegang perut dan menahan derai air mata. Ia terus tertawa.

Di tengah kebingungan itu, aku mengalihkan pandangan kepada sosok suster di sebelahnya. Ia tidak ikut tertawa dan tampak misterius. Saat aku perhatikan ia malah memalingkan muka. Tapi aku seperti mengenal wajah itu. Wajah yang sudah tidak asing lagi.

“Suster! Kenapa dokter gila ini tertawa. Dimana ibuku? Dimana aku?”

Tiba-tiba kepalanya berbalik tanpa membalikan tubuh. Seperti burung hantu di dahan pohon yang melihat tikus di semak belukar.

“Sudah ku bilang ibumu terbujur kaku di ranjang itu! Hahahaha..”

Aku merinding dibuatnya. Siapa dia? Kenapa semua mentertawakanku. Ruangan itu pecah oleh suara tawa yang lebih menyerupai jerit hantu dikuburan. Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku coba duduk. Kucabut infus yang menempel di nadiku. Aku tabrak tubuh dokter itu. Tapi saat akan mencapai pintu, sebuah benda keras menghajar kepalaku. Aku kehilangan keseimbangan. Kemudian semuanya gelap belaka.

***

“Alifff.. Alifff.. bangun, Nak. Ibu sudah siapkan sarapan. Kamu kan sebentar lagi sekolah!”

Aku terbangun mendengar teriakan ibuku dan ketukan di pintu. Tiba-tiba air mata menganak sungai. Aku merasakan kebingungan yang luar biasa dan rindu kepada ibuku, “Ibu? Itu kah ibu?”

Ibu langsung membuka pintu. Saat mendapat anaknya dalam kebingungan ia mendekat. Wajahnya teduh dan menenangkan.

“Alif, kamu kenapa?”

Melihatnya mendekat tubuhku gemetar. Aku tidak lagi bisa berkata apa-apa. Aku langsung bersimpuh dan mencium kaki ibuku. Aku rangkul kaki ibuku sambil menundukan kepala. Tangisku pecah. Aku rindu ibuku. Aku ingin memeluknya dan tidak mau lagi mencelanya. Aku sayang ibuku.

Ibuku tidak berkata apa-apa. Ia melihatku lekat-lekat seperti seorang bocah yang terjatuh saat bermain layangan. Ia mengelus kepalaku perlahan. Aku merasakan kedamaian. Aku tenang. Aku hidup. Aku tercerahkan. Kemudian aku berdoa di dalam hati, “Ya Allah, semoga kenyataan ini bukan sebuah mimpi.”

“Say: Come. I will recite unto you that which your Lord has made a sacred duty for you; that you ascribe nothing as partner unto Him and that you do good to parents…” (Quran 6:151)


Ferry Fadillah, April 2016

tulisan ini pernah dikirim untuk lomba cerpen festival seni budaya Masjid Baitul Mal (2016), STAN, dan memperoleh peringkat ketiga

, , , , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: