Pemuda Hijrah: Antara Gaul-Sekuler dan Cupu-Islamis

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”, Pidi Baiq.

Kalimat ini ditulis di bawah jembatan penyebrangan khas kolonial sekitar alun-alun Kota Bandung. Ditulis seniman asli kota ini yang dikenal melalui novel romansanya berjudul Dilan: Dia adalah Dilanku 1990. Sayangnya kita tidak akan membahas Pidi Baiq dan novel populernya itu. Tulisan ini akan membahas “itu melibatkan perasaan” kalimat dimuka yang akan membawa lamunan indah tentang kota kembang.

Bandung berhasil memikat setiap orang yang pernah bertandang walau sesaat. Setiap akhir pekan, mungkin, ribuan mobil bernomor polisi “B” memenuhi ruas tol Pasteur dan Buah Batu. Mereka membawa uang yang akan menambah pundi-pundi para pengusaha kota kreatif ini. Kuliner yang enak, café disekitar dago yang romantis, harga barang yang murah dan taman tematik yang menawan adalah produk wisata kota ini yang selalu dirindukan oleh pendatang. Terutama bagi mereka yang dapat membeli apapun dengan uang.

Perantau yang bekerja di luar Bandung juga merindukan hal serupa. Bandung yang berkabut di tengah lampu temaram Jalan Braga, kerlap-kerlip neon pemukiman yang indah dari perbukitan dago dan pemusik jalanan yang lihai bermain harmonika bersamaan dengan gitar di perempatan jalan adalah lembar-lembar grafis di alam bawah sadar yang selalu mengingatkan perantau tentang orang tua mereka, persahabatan atau kisah cinta yang pernah kandas.

Tapi apakah Bandung hanyalah tentang makanan, belanja dan pemandangan belaka? Mula-mulanya itulah yang saya rindukan. Namun, setelah mengenal sebuah gerakan islam di masjid Al-latif paradigma ini berubah.

Gerakan Pemuda Hijrah dimotori oleh event organizer bernama SHIFT yang menjadikan Masjid Al-Latif sebagai markas besarnya. Seperti namanya, hampir setiap hari kegiatan ini diikuti oleh pemuda edisi 90an. Mereka menemukan jalan hijrah melalui para dai di atas mimbar yang kerap menggunakan bahasa populer dalam menyampaikan risalah Islam. Misalnya kajian yang diberikan oleh Ustadz Evie Effendi. Dai nyentrik dengan busana gaul  ini selalu menyelipkan puisi, bahasa sunda gaul, dan lagu populer sembari menyelipkan tauhid dan syariat Islam kepada para jamaah. Walaupun isi ceramahnya tidak dalam, tapi tampilan dan gaya bahasanya berhasil memikat psikologi para pemuda yang baru menempuh jalan hijrah. Sehingga pemandangan anak muda dengan kaos oblong yang menangis dalam ceramahnya adalah hal lumrah sekaligus mengagumkan.

Metode dakwah semacam ini mengingatkan saya cara dakwah Marxian ala Martin Suryajaya (2014) dalam essainya berjudul “Marxisme dan Propaganda ” yang saya bahasakan ulang sesuai iman Islam:

Sebaliknya, mulailah dengan cara ortodoks: (1) abaikan semua kosakata Islami, (2) masuk ke dalam kosakata sang subjek, (3) ikuti penalaran si subjek dan rekonstruksi metodenya, (4) ekplisitkan atau beri penekanan pada “Iman Islam” yang sebetulnya sudah inheren dalam penjelasan sang subjek tanpa sekalipun menggunakan kosakata Islam, atau tunjukan kekeliruan dari metode pemikiran yang ia gunakan dengan penjelasan yang selaras bagi sekema dan kosakata berpikirnya, (4) tunjukan bahwa Islam itu punya konsekuensi  pada gagasan tertentu tentang kenyataan seperti yang dikupas Al-Quran dan Al-Hadist.

Bagaimana langkah-langkah ini bekerja dalam metodologi dakwah pemuda hijrah? Selain gaya bahasa para dai yang populer dan menghindari kedalaman materi. Para marketing pemuda hijrah pandai menyebarkan gagasan melalui jejaring sosial seperti instagram, twitter dan line. Tajuk-tajuk setiap pertemuan juga mengambil kalimat populer yang muda diingat. Seperti Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Dusta Pembawa Sengsara, Ladies Day: The Real Miss Universe, Defend Your Faith, Light and Dark Side, Math of God  dan lain sebagainya. Selain itu, hijrahnya pemain band, pentolan klub motor dan mantan narapidana berhasil memikat orang-orang senasib sehingga menghilangkan rasa sungkan calon jamaah untuk ikut mendengarkan ceramah di Masjid Al-latif.

Hal paling menarik dari kegiatan ini adalah keberhasilan panitia acara untuk mengajak ratusan jamaah muda di malam minggu, hingga masjid di pusat kota ini penuh sesak. Kalau hal ini terjadi di malam senin tentu hal biasa. Malam minggu! Alih-alih kongkow sambil ngobrol ngalor-ngidul ditemani kopi dan rokok atau pacaran bergandengan tangan di Paris van Java, mereka malah merelakan waktu untuk berdesakan sambil duduk bersila mendengar wejangan para ustadz. Sebuah bentuk militansi yang mengagumkan ditengah nikmat hedonisme yang selalu menggoda.

Pertanyaan kemudian yang layak diajukan adalah mengapa anak muda kota Bandung tertarik dengan kegiatan ini?

Saya sebagai warga kota Bandung yang lahir di tahun 90-an berusaha menjawab dengan pengamatan sederhana selama bersekolah di Jalan Citarum. Bandung pada masa itu (hingga kini?) adalah surga bagi para pemusik. Band-band lokal banyak yang mendapatkan ketenaran di tingkat nasional karena berhasil meramu lagu unik dan sederhana yang mudah diingat kawula muda. Gaya hidup anak muda juga terfasilitasi oleh investor swasta maupun koperasi angkatan darat. Arena billiard, bowling, kolam renang, bioskop, café, restaurant, taman tematik atau minimarket 24 jam menjadi destinasi kongkow sekaligus monumen gaya hidup urban yang sayang untuk ditinggalkan. Pemuda yang berkubang dalam gaya hidup seperti ini saya sebut ‘pemuda dalam kondisi pertama’.

Di lain sisi, ‘pemuda dalam kondisi kedua’ adalah mereka yang kebetulan terlahir dalam keluarga relijius. Umumnya mereka akan sibuk dengan urusan akhirat di masjid-masjid, berkumpul secara eksklusif bersama komunitas islami dan memiliki wawasan dunia seputar keislaman semata hingga –beberapa-  lupa untuk menerangi kejahiliahan menuju cahaya seperti yang diamanatkan Muhammad SAW. Bagi pemuda dalam kondisi pertama, mereka dilabeli sok relijius atau nggak gaul.

Saya yakin bahwa -bagi pemuda dalam kondisi pertama- hasrat yang terus disalurkan dengan kesenangan pasti akan menemukan titik jenuh. Mereka akan merasakan kekosongan kemudian depresi. Pada saat itu pertanyaan eksistensial akan mengemuka. Siapa Aku? Kenapa aku diciptakan? Mengapa Aku ada? Saat pemuda di dalam kondisi kedua mengambil jarak dari permasalahan mereka, pemuda dalam kondisi pertama akan sangat mudah terjerumus kepada tindakan amoral seperti penggunaaan narkotika, seks bebas bahkan dalam kondisi ekstrim dapat mengakhiri hidupnya dengan menenggak segelas baygon cair di kamar kost.

Gerakan pemuda hijrah seolah hadir untuk menghubungkan kedua kondisi pemuda ini. Seperti Nabi yang selalu menggunakan bahasa kaumnya untuk berdakwah. Pemuda hijrah juga menggunakan bahasa populer untuk berdakwah. Sehingga distingsi antara pemuda gaul-sekuler dengan cupu-islamis dapat dirombak dan dikonstruksi menjadi ukhuwah tauhid yang egaliter.

Tampaknya kalau gerakan ini tetap istiqomah dan secara teratur menghasilkan pemuda yang militan dalam Islam, ‘Bandung Juara’ tidak lagi berwujud tata kelola kota yang semata-mata estetis dan ramah anak tapi juga melimpahnya berkah dari Sang Pencipta di jantung Priangan.

Semoga.

Ferry Fadillah. Bandung, 16 April 2016.

, , , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: