Braga Weg

Sepenggal syair dan secangkir kopi
tidak pernah berkhianat. Tapi kedai-kedai angkuh itu diam-diam berontak dari kesederhanaan. Menjaga jarak antara kopi dan gelas murah dua ribuan.

Jalan batu sepanjang terik tidak pernah mengeluh kepada Tuhan. Dalam diam ia menerima sepatu mewah, sendal jepit roda mobil atau kepala pejalan yang jatuh siang itu.

Gedung-gedung kolonial masih berbaris menantang langit. Mereka adalah bukti penindasan yang dikutuki langit dan bumi.

Tuan-tuan kulit putih sudah pulang ke negeri kincir. Tapi di pojok jalan itu seorang renta bermandi cahaya tampak lelah. Para pejalan memasang raut iba tanpa berbuat suatu apa.

Ferry Fadillah

  1. #1 by kutukamus on March 22, 2016 - 17:04

    Sepertinya
    Potret kita
    Begitulah adanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: