Percikan Pemikiran

Aku salah mengenal shubuh. Aku pernah melaluinya dengan selimut tebal dan kasur empuk. Samar suara adzan dari masjid komplek tidak pernah menembus telingaku; bahkan tidurku semakin dalam dan pulas.

Ada saat dalam kebodohan itu, aku terbangun begitu saja ketika muadzin hampir usai melantunkan adzan. Shalat itu lebih baik daripada tidur. Aku tahu itu. Sejak kecil aku mengaji di taman pendidikan Al-Quran. Belajar aqidah dan etika islam. Tapi saat dewasa, aku rasa bekas-bekas pengajian itu memudar perlahan. Dimulai dari cita-cita ku yang semakin banal.

Dulu aku bercita-cita mejadi seorang ustadz. Tapi setelah melihat kehidupan guru ngaji komplek yang sederhana, aku mengurungkan niat itu. Kemudian aku bercita-cita menjadi dokter. Hidup mereka berkah, menolong orang lain dan kekayaan seakan tidak ada habisnya menghampiri mereka.

Tapi takdir berkata lain. Aku tidak pernah tahu apa yang ditulisNya di lauhul mahfudz. Aku tidak pernah tahu akan menjadi seperti apa aku kelak. Dan ketika aku bersalaman dengan filsafat aku juga berpikir: kenapa aku diciptakan?

Bukankah dunia itu tempat segala dosa. Bukankah adzab neraka itu pedih? Kenapa Tuhan membiarkan makhluknya bersentuhan dengan dosa? Kalau neraka diciptakan sebelum penciptaan bumi, berarti sudah ada makhlukNya yang dipastikan menghuni tempat itu? Lalu kenapa mereka diciptakan untuk dimusnahkan?

Aku tidak pernah sempat menjawab itu semua. Aku juga belum pernah menanyakan kepada para alim. Ah, mereka itu, aku tidak suka dengan retorika-komersial nan dangkal itu. Mereka tidak pernah memuaskan dahaga filsofiku. Bahkan aku mengambil jarak dan mulai mengaji dengan mereka yang melabeli diri sebagai filsuf dan teolog.

Apakah aku salah?

Aku kira ayat-ayatNya terhampar tidak hanya dalam teks-teks suci. Gunung, lembah, laut, pasir, batu, bintang, langit, musim juga ayat-ayatnya. Juga manusia itu sendiri. Aku takut ketika teks-teks itu menguasai diriku, aku tidak lagi bisa memahami manusia. Aku hanya bisa memahami teks tapi tidak bisa memahami manusia. Aku tidak mau seperti itu. Bukankah Sang Nabi terlebih dahulu memahami karakter bangsanya, istrinya, kaulanya sebelum menerima perintah iqra? Bukankah yang mengenal dirinya sendiri maka ia akan mengenal Tuhannya?

Cukup. Aku tidak pernah terampil menyusun kata-kata. Paragraf-paragraf ini hanyalah percikan-percikan pemikiran yang tidak terarah. Kau tidak perlu terlalu serius membacanya.

Ferry Fadillah. Bandung, 12 Maret 2016

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: