Hikayat Tiga Tahanan

Alam priyangan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. Pepohonan hijau nan rindang menutupi bukit-bukit di sepanjang patahan vulkanik. Air jernih mengular dari hulu gunung Sunda menuju sungai-sungai di hilirnya. Memberi kehidupan bagi tumbuhan, serangga, ikan dan burung; semua demi kelangsungan siklus kehidupan. Sekumpulan kera hutan bercengkrama di bawah pohon mahoni besar, berusaha keras membuka ubi yang baru saja dicuri dari petani sekitar. Anak-anak mereka –berukuran sebesar telapak tangan orang dewasa- berlari ke sana ke mari; tanpa khawatir seolah dunia adalah milik mereka. Benih-benih pohon mulai tumbuh dengan menghisap unsur hara dari tanah, perlahan namun pasti akarnya mulai melebar ke segala arah sumber air, batang mudanya menengadah ke langit memohon sinar matahari; perlambang kasih dari Sang Hyang Tunggal.

Di bawah Gunung Sunda terdapat sebuah gua purbakala. Gua ini terbentuk akibat desakan larva gunung api yang mendesak keluar dari punggung gunung ribuan tahun lalu. Mulut guanya tidak terlalu lebar, kira-kira lima orang bershaf rapat di depannya sudah dapat menutup mulut gua. Tinggi gua di dekat mulutnya pun rendah. Orang harus menundukan punggung menyerupai gerakan rukuk sebelum memasuki gua. Tidak ada penerangan di dalamnya. Beberapa kelelawar hilir mudik mencari makanan di malam hari dan berisitirahat di siang hari. Menariknya, udara di dalam gua tidak lembab. Udara yang memasuki celah-celah gua ditambah rimbunnya pohon disekitarnya menciptakan iklim sejuk di dalam gua.

***

Syahdan, hiduplah tiga orang tahanan di dalam gua itu yang dijaga tentara Kerajaan Dayeuhluhur. Danaraja, Danurwinda , dan Darmakusuma. Mereka adalah keluarga kerajaan di pedalaman Priyangan. Leluhur mereka merupakan tahanan politik zaman kelaliman Raja Dayeuhluhur, Sri Maharaja Sakwasangka. Konon dahulu sang raja adalah penganut agama leluhur yang taat, namun harta dan tahta telah lama merenggut ketaatan itu. Tanpa lagi mempedulikan ajaran luhur Kitab Pangabeda, ia menghisap habis tenaga dan kekayaan petani dan pekerja di wilayah itu.

Kekejamannya bertambah parah ketika Portugis menguasai Kerajaan Malaka dan membuka hubungan dagang dengan Kerajaan Dayeuhluhur. Para pekerja dipaksa pindah ke Sunda Kelapa membangun benteng Portugis dan kuil pemujaan dewa mereka; bangunan itu semua terbentuk dari batu bata, beberapa ornamennya dilengkapi patung manusia bersayap dan patung seorang pria berambut panjang dan berjenggot sebagai pusat. Para petani dipaksa menjual hasil bumi priyangan dengan harga murah kepada pedagang-pedagang Portugis. Di pedalaman, resi-resi mereka menyebarkan agama baru sampai-sampai kalangan muda melupakan ajaran Sang Hyang Tunggal dan mulai bertingkah seperti orang-orang Portugis.

Pada bulan ke empat perhitungan Candrakala, tiga orang bangsawan berpengaruh di Kerajaan Dayeuhluhur, setelah melihat kerusakan ekonomi dan sosial di Priyangan, bersepakat untuk menggulingkan kuasa sang raja. Rencana makar disusun; rakyat yang marah dipropaganda di setiap balai desa dan dipersenjatai dengan pedang serta panah. Wanita dan anak-anak diperintahkan bersiap mengungsi bilamana pemberontakan ini gagal.

Suatu malam, ketika Raja Sakwasangka sedang bermain-main dengan para selirnya di keputrian, terdengar suara lengkingan terompet dari arah pegunungan, diikuti pekik perang tentara rakyat. Itulah awal mula revolusi fisik di bumi priyangan. Tentara kerajaan merasa kewalahan membedakan rakyat yang memberontak dengan yang tidak. Ribuan tubuh tumbang bersimbah darah. Mata-mata geram dengan kujang terhunus berusaha membabibuta membunuh setiap musuh yang dihadapi.

Setelah pertempuran berlangsung selama dua belas jam, jumlah kekuatan tentara rakyat mulai berkurang. Beberapa bahkan melarikan diri ke gunung selatan. Wajar, tentara itu masih perlu dipupuk keahlian perang dan moralitas seorang pendekar sejati. Tentara kerajaan merasa di atas angin, hanya dalam beberapa jam semua tentara rakyat yang tersisa tumpas tanpa bekas, termasuk ketiga bangsawan yang menjadi provokator revolusi itu. Seketika bumi yang subur dan asri itu dipenuhi lautan mayat.

Penderitaan tentara rakyat tidak sampai di situ. Raja Sakwasangka memerintahkan untuk membunuh keluarga para pemberontak termasuk setiap bayi yang baru lahir. Mereka semua dipaksa keluar dari rumah mereka pagi-pagi buta dengan tangan dan kaki terikat. Di alun-alun kota mereka di kumpulkan. Ribuan jumlahnya. Dengan pedang tumpul, ratusan tentara kerajaan membuat formasi lingkaran, menutupi para keluarga pemberontak. Letusan meriam ke udara terdengar nyaring, pembataian terbesar sepanjang sejarah terjadi malam itu.

Beruntung bagi Danaraja, Danurwinda, dan Darmakusuma, yang kala itu berusia 3 tahun. Mereka luput dari bencana itu. Semua karena bujuk rayu Ibu Permaisuri. Dengan lemah lembut ia menyatakan keberatannya kepada Raja Sakwasangka. Alasannya, walaupun ayah mereka melakukan makar, mereka tidak terlibat dalam dosa itu dan ketiganya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sang Raja. Luluh karena bujukan ibunya, raja pun memerintahkan ke tiga anak itu untuk tidak dieksekusi dan dibawa ke Keraton.

Bukan Sakwasangka namanya kalau tidak penuh dengan prasangka buruk. Ketika ibunya mengunjungi wakil kerajaan di Samudra Pasai, ia perintahkan punggawa kerajaan untuk mengikat mereka bertiga di gua angker di bawah kaki Gunung Sunda. Leher mereka diikat seperti anjing, kaki dan tangan mereka dibelenggu dengan rantai besar yang saling berhubungan. Setiap pagi dan malam petugas kerajaan bergantian mengantarkan makanan dan minuman. Itulah awal bagi Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma kecil menjalani hukuman kurung; dalam kegelapan dan keterkucilan.

***

Dua puluh tahun sejak hukuman kurung, Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma mulai melupakan dunia luar. Mereka lupa warna air dan pepohonan, bentuk gunung di sekeliling Priyangan, suara gamelan, geguritan di pendopo ibu kota serta gerak lincah kera liar yang kadang masuk ke kampung mereka. Warna sudah luluh dalam gelap, rasa sudah lebur dalam pahit, bunyi sudah campur dalam hening. Kini dunia mereka adalah kesunyian dan kegelapan.

Wajah mereka bertiga menghadap ke tembok gua yang datar. Ketika malam menjelang, suhu di dalam gua sangat dingin, maka penjaga menaruh tumpukan api unggun di balik tembok tahanan. Mereka bergantian menjaga agar api itu selalu menyala. Cahayanya menerangi seluruh isi gua, namun para tahanan tidak bisa melihat sekitar dengan jelas. Mereka hanya bisa melihat pantulan bayangan dari para petugas dan benda-benda yang hilir mudik di balik tembok. Seperti arena menonton pertunjukan wayang kulit di balai desa.

“Ah, Darmakusuma, lama-lama aku merasa bosan. Berdiam puluhan di sini, yang bahkan aku pun tidak tahu pasti tahun keberapa sekarang, di ruang sempit dengan belenggu menahan kita,” celoteh Danurwinda memulai percakapan.

“Ya begitulah nasib kita. Kata penjaga, ini merupakan karma buruk leluhur kita yang harus ditebus hingga muncul belas kasih Sang Maharaja,” balas Darmakusuma berusaha menenangkan.

“Tenang bagaimana maksudmu, Darmakusuma, apa kita harus berdiam di sini hingga akhir hayat kita? Persetan dengan welas asih Sang Maharaja. Mengharapkannya hanyalah memupuk harapan palsu,”bentak Danareja.

“Tenang saja saudara-saudaraku, kita memang ditahan, namun kita masih punya pikiran di bawah sini. Dengan pikiran itu kita dapat mendiskusikan apa saja, saling menarik kesimpulan atas setiap fenomena. Bukankah diskusi kita ketika melihat bayang-bayang di dinding gua dan suara-suara di belakang kita telah berhasil membunuh rasa jenuh dalam diri kita?”

“Ah, betul juga kau Darmakusuma, kau memang orang yang bijak, kalau begitu ayo kita mulai lagi diskusi kita kali ini!”

Tiba-tiba segerombolan orang memasuki gua. Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga diiringi gelak tawa dan aroma tuak di udara. Di antara gelak tawa itu terdengar sayup-sayup jerit tangis wanita yang sangat memilukan hati. Jerit tangis itu berhenti ketika suara berat membentak dan memaki mereka. Dari tempat mereka bertiga, hanya bayangan yang tampak, berduyun-duyun, beragam bentuk, melewati api unggun di balik tembok satu persatu.

“Nah,” Darmakusuma memulai, “kita mulai diskusi kita. Menurut kalian ada berapa orang yang lewat di belakang tembok kita?”

“Sepuluh!”

“Bukan, dua puluh. Aku bisa jelas melihat bayangan mereka”

“Hai, Danurwinda, tidakkah kau dengar gelak tawa mereka. Pendengaran ku tajam, penglihatanku jeli, aku bisa tahu jumlah mereka. Semuanya adalah dua puluh orang!”

“Sombong sekali kau Danaraja, bagaimana kau bisa begitu saja mempercayai pendengaran dan penglihatanmu, padahal kita sejak kecil sudah berada di sini. Makan sama banyak, melihat sama warna. Sejak kapan kau merasa lebih daripada kita. Aku tetap dalam keyakinanku, jumlah mereka adalah sepuluh”

“Sudah, sudah, mengapa kalian jadi bersitegang begini. Aku hanya ingin kalian berdiskusi dengan kepala dingin. Bukan merasa paling benar. Aku sendiri belum berani memutuskan berapa jumlah mereka, mungkin setelah mereka kembali dari bawah, aku akan kembali menghitung bayang-bayang mereka dan mengujinya dengan kesimpulan kalian”

“Sial kau Darmakusuma, aku kira sikap bijaksanamu perlambang kecerdasanmu, ternyata tidak. Kau tidak lebih dari seorang pengecut yang tidak berani berargumen”

“Tutup mulutmu, Danareja, setidaknya ia tidak pernah menyakiti hatiku!”

Perdebatan panjang dimulai. Mereka tidak berhenti saling membantah, yang satu merasa lebih benar daripada yang lain sedangkan Darmakusuma tetap dalam sikapnya yang berhati-hati. Untung saja lengan dan kaki mereka terbelenggu. Kalau tidak, tentu pembunuhan pertama di dalam gua itu akan terjadi.

“Asu buntung, anjing sial, bisa kalian semua diam!,” bentak penjaga dari ujung gua.

Seketika mereka pun terdiam. Dan perdebatan itu untuk sementara terhenti.

“Ini salah kalian, penjaga sampai marah terhadap kita. Bagaimana kalau mereka marah dan menumpahkan kekesalannya terhadap kita. Bisa habis nyawa kita hari ini”

“Diam kau, Danurwinda, mereka tidak akan berminat melukai kita. Apalah harga kita dihadapan mereka. Lagipula mereka tidak lebih dari seekor anjing yang tindakannya ditentukan oleh titah raja keparat itu!”

“Ya, tapi jangan hanya karena bentakan seorang petugas, kita menghentikan diskusi kita, satu-satunya kesenangan kita di tempat ini”

“Apalagi yang ingin kau diskusikan, Darmakusuma?”

“Begini. Setiap malam, ketika serigala gunung melolong dan kelelawar mulai beterbangan di atas kita, aku melihat penampakan aneh di dinding gua. Sebuah mahluk aneh kerap melewati kita. Jalannya mundur ke belakang, ia memiliki paruh, namun memiliki leher yan sangat tipis untuk ukuran kepalanya. Bunyinya berdecit seperti tikus yang setiap hari bermain di bawah kaki kita. Apakah itu kira-kira, Saudaraku?”

“Sebentar, aku harus berpikir sejenak. Mungkin saja itu adalah burung unta yang bernyanyi dan mencari makan di dasar gua”

“Ringan sekali mulutmu, Danurwinda, mana pernah kau melihat burung unta. Apalagi yang ini berjalan mundur. Burung apa yang berjalan mundur?!”

“Aku benar, Danaraja, paruh itu jelas paruh burung. Masalah ia berjalan mundur itu bukan urusanku, urusanku hanyalah menilai berdasarkan apa yang terlihat. Sedangkan suara berdecit itu jelas-jelas suara unta. Dan burung yang bersuara seperti onta tidak lain dan tidak bukan disebut burung unta”

“Kau terlalu gegabah dalam menyimpulkan, Danurwinda”

“Kau menyela tanpa memberikan solusi, sekarang apa yang bisa kau jelaskan!”

“Itu jelas belalai seekor gajah yang ditekuk menyerupai paruh burung. Suara berdecit itu adalah bunyi gesekan kulit sang gajah dengan dinding gua di kiri kanannya yang terlalu kecil untuk tubuhnya yang besar.”

“Kalau memang gajah itu besar. Mengapa bumi di bawah kita tidak bergetar ketika mahluk itu lewat. Bahkan bumi bergeming ketika bayangan itu melewati kita.”

“Kau benar juga, Danareja,” bela Darmakusuma, “namun sekali lagi maafkan keraguanku, Saudaraku. Aku masih belum bisa menyimpulkan apakah gerangan bayangan itu seekor burung unta atau seekor gajah atau bahkan mahluk lain yang belum pernah kita lihat sebelumnya.”

Pembelaan Darmakusuma tidak memantik percakapan lain. Hari sudah malam dan ereka sudah lelah berdiskusi sepanjang hari. Tidak hanya kali ini; Setiap hari mereka berdebat tentang benda-benda yang terpantul menjadi bayang-bayang di dinding gua. Perdebatan itu tidak pernah berujung. Masing-masing pihak memiliki argumennya sendiri yang tampak meyakinkan. Terkadang caci maki keluar dari mulut mereka apabila sudah terdesak. Namun, jauh di dalam hati mereka muncul kesadaran, bahwa kebenaran itu jauh dari apa yang mereka lihat dan dengar, hal inilah lebih dalam dipikirkan oleh Darmakusuma. Tapi karena lamanya mereka di tahan, suara hati itu lenyap, mereka merasa pendapat merekalah yang benar bahkan bayang-bayang dan pantulan suara di gua adalah kebenaran itu sendiri.

***

Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Musim hujan berubah menjadi musim kering. Kerajaan Dayeuhluhur yang subur mengalami masa-masa sulit tahun ini. Koalisi politik tidak dapat dibangun dengan kokoh. Kekecewaan bangsawan terjadi dimana-mana. Tidak heran jika terjadi pemberontakan di kota-kota pesisir.

Portugis yang menjadi sekutu kerajaan mengalami kekalahan di Malaka. Adipati Unus dari Kerajaan Demak berhasil menggalang pasukan gabungan Aceh-Pasai-Gowa untuk menghantam kekuatan Portugis di Malaka. Pelabuhan dunia itu dikuasai koalisi gabungan. Di priyangan, Portugis tidak lebih dari pesakitan yang meminta perlindungan kepada Raja dengan musuh dimana-mana.

***

Pada suatu malam, bulan purnama menampakan keanggunannya. Serigala gunung takzim melihat sang dewi, melolong lirih sebagai tanda syukur. Ikan-ikan sungai Cikapundung mencari batu-batuan, mulai mengeluarkan telur mereka yang kelak dibuahi para penjantan. Kera-kera hutan merasakan energi yang luar biasa dari bulan, mereka mulai mencari pasangan dan menggodanya dengan teriakan-teriakan. Inilah malam dimana semua makhluk melampiaskan hasrat mereka, tanpa mereka sadari, demi kelangsungan hidup bangsa mereka.

Jauh di dasar gua, di bawah gunung Sunda, dimana mitos bertemu dengan kekacauan politik, seorang penjaga keluar dari pos jaga dan tergopoh-gopoh menuruni tangga gua yang curam. Menuju tempat ketiga tahanan dibelenggu.

“Sampurasun. Sampurasun. Hei, salah satu dari kalian, dengar!” teriak penjaga kepada para tahanan.

Sayang, mereka sudah tertidur pulas. Namun tidak bagi Darmakusuma, ia memang selalu tidur larut, memikirkan apa yang tidak kedua saudaranya pikirkan.

“Rampes. Ya, ada apa? Siapa kau?”

“Aku penjagamu yang biasa menjaga agar api unggun di belakang kalian tetap menyala, dan memastikan belenggu di tangan dan kaki kalian tetap terkunci”

“Ya, apa keperluanmu sehingga selarut ini datang dan mengganggu istirahat kami”

“Begini. Aku mendapat laporan dari para bangsawan yang memberontak, bahwa Raja telah tiada, tubuhnya ditusuk keris oleh abdi setianya yang membelot. Tahta kerajaan jatuh ke tangan putra mahkota yang bijak dan menaruh hormat kepada ajaran Kitab Pangabeda. Semua penduduk merasa senang dengan bertahtanya sang raja muda ini. Panen berlimpah dan berdagangan dengan kerajaan lain mulai dibuka. Beberapa tahanan di kota dibebaskan. Sayangnya, kalian adalah tahanan politik. Dewan kerajaan tidak setuju jika kalian dibebaskan begitu saja, khawatir pemberontakan tanpa akhir akan terjadi lagi di Dayeuhluhur”

“Syukur kepada Hyang Tunggal atas terpilihnya raja bijaksana lagi paham akan ajaran linuhung. Tapi aku belum mengerti mengapa dewan kerajaan bersikap keras terhadap kami. Padahal kami tidak melakukan kesalahan apapun semenjak kami kecil.”

“Aku tidak paham karena aku hanya menyampaikan berita. Janganlah berkecil hati. Besok, seluruh penjaga gua ini akan dipanggil ke alun-alun kerajaan untuk merayakan hari ulang tahun ibu permaisuri. Perjalan dari sini ke ibu kota kerajaan memakan waktu 3 hari dan kembali 3 hari. Aku bisa membantu kalian keluar menghirup udara bebas selama itu. Tapi ingat, aku tidak bisa membantu kalian bertiga sekaligus. Satu per satu dari kalian akan keluar pada pagi hari dan kembali ke bawah setelah hari ke dua. Jika kalian ingkar dan memilih untuk kabur, maka anjing-anjing lapar penjaga gua akan memakan kalian bulat-bulat!”

“Ah, sungguh! Terimakasih penjaga. Sudah lama aku memimpikan melihat dunia luar. Melihat yang belum pernah terlihat dan menghirup yang belum pernah terhirup”

“Tidak usah kau berterima kasih. Aku juga berharap kelak Raja akan membebaskan kalian dan menghapus catatan dusta tentang kalian. Cepat kembali tidur! Besok pagi kau bersiap. Kabarkan kepada semua saudaramu yang masih terlelap”

“Terimakasih penjaga, terimakasih sekali lagi”

Pikiran Darmakusuma melayang-layang sebelum tidur. Membayangkan segala kemungkinan yang muncul di luar sana. Sebuah dunia yang berbeda dari dunianya sekarang, dunia yang memiliki warna dan rasa, yang diliputi kebenaran tanpa kepalsuan. Ketika lamunannya mulai mencapai titik yang tak terbayangkan, sarafnya mulai tenang, jiwanya pergi menuju genggamaNya, ia tertidur pulas.

***

Matahari keluar dari singgasananya. Menyinari bumi persada dengan sinar hangatnya. Para petani mulai beraktivitas. Lembu-lembu kekar dikerahkan untuk membajak sawah. Para istri sibuk mengumpulkan kaya bakar untuk menyediakan makanan bagi keluarga mereka. Setelah sarapan, penjaga gua mengambil kunci belenggu. Dengan langkah berat ia mulai memasuki mulut gua, menundukan punggungnya dan berhati-hati menuruni anak tangga yang licin akibat hujan deras tadi malam. Pembebasan Darmakusuma pun dimulai.

“Terima kasih petugas, aku sangat terharu kau rela melakukan ini demi kami.”

“Ah, bukankah ajaran leluhur kita mengajarkan memperlakukan manusia layaknya manusia. Dan kau adalah manusia, tidak peduli apa dosa yang telah kau perbuat.”

“Iya terimakasih, semoga Sang Hyang Tunggal memberkati engkau.”

Darmakusuma melakukan olahraga ringan. Punggungnya terasa kaku. Lehernya pun berat, begitu juga dengan kaki dan lengannya. Setelah perederan darah lancar mengaliri seluruh anggota tubuhnya, ia mulai berjalan perlahan menaiki tangga gua. Di ujung ia melihat cahaya yang sangat terang benderang. Rasa penasaran meluap-luap dalam jiwa Darmakusuma. Cepat-cepat ia berjalan menuju mulut gua. Ketika ia sudah sampai di mulut gua, ia terkejut.

“Ah, apa ini! Cahaya apa ini! Sial aku tidak bisa melihat apapun!”

Darmakusumu merasakan matanya terbakar. Ia tidak terbiasa dengan sinar matahari. Berkali-kali ia menggosok matanya dan mencoba membuka untuk melihat sekitar. Namun rasa perih itu terus ada. Bahkan bertambah-tambah ketika melihat ke langit.

Ketika hari beranjak petang, ketika ayam-ayam hutan kembali ke lubang persembunyiannya, Darmakusuma mulai bisa melihat sekitarnya perlahan-lahan. Yang pertama ia lihat adalah pantulan dirinya di sungai. Ia melihat wujud yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bentuk mata, hidung dan telinga. Rambut, janggut dan bentuk dada. Ia menyaksikan dirinya sendiri, yang bahkan dahulu ia tidak percaya bahwa dirinya benar-benar ada. Setelah itu, ia melihat hutan dihadapannya. Indah, sungguh indah, pepohonan itu hijau dan teduh. Di dahannya ratusan burung bernyanyi dan berterbangan ke dahan pohon berikutnya. Ia juga melihat gunung yang bertumpuk di utara gua. Halimun senja menutupi puncak gunung, menciptakan suasana mistis dan syahdu. Tak dirasa, air matanya menganak sungai melihat keajaiban itu.

“Terimakasih Sang Hyang Tunggal, kini aku paham apa itu kebenaran, apa itu kepalsuan. Sungguh indah alam yang terbentang dihadapanku. Warna dan suara yang belum pernah aku dengar kini berwujud dan terpatri di dalam jiwaku. Matahari menyinari sekelilingku, menyibak kebenaran yang selama ini terbenam dalam kegelapan. Setelah ini aku arus memberitahu Danaraja dan Danurwinda, bahwa penglihatan kita selama ini adalah palsu dan diskusi kita selama ini adalah omong kosong.”

Langit mulai gelap dan matahari kembali keperaduannya. Darmakusuma mengambil obor dan menyusuri jalan setapak menuju mulut gua. Penjaga mengikutinya dari belakang. Setelah berada di tembok tahanan penjaga kembali mengunci tangan dan kaki Darmakusuma dengan belenggu. Sesaat sebelum meninggalkannya, penjaga mematikan obor dan kembali ke atas tanpa bersuara.

“Celaka, kenapa kini mataku tidak bisa melihat dalam gelap. Ah kemana penjaga tadi mengapa ia mematikan obor dan api unggun di belakang tembok!”

Lagi-lagi matanya merasa perih. Kali ini kegelapan dimana ia bermulalah yang menyebabkan kepedihan itu. Matanya tidak dapat lagi melihat dalam gelap, bahkan oleh cahaya sedikit dari obor penjaga yang lalu lalang di belakang tembok, matanya masih juga tidak melihat. Ia mulai menyesali keputusannya melihat dunia luar.

“Kalau gua gelap ini adalah keabadian dalam hiduku, mengapa aku harus melihat dunia luar yang terang benderang, yang hanya dapat aku nikmati sementara dan bahkan kini menghilangkan penglihatanku, sumber kesenanganku, sumber diskusiku bersama saudara-saudaraku,” bisik Darmakusuma di dalam hati.

“Hai Darmakusuma, apa yang kau pikirkan, mengapa kau tampak seperti orang bingung, bukankah kau tadi mampir ke dunia luar, seharusnya kau merasakan kebahagiaan?”

“Aku pada mulanya sangat bahagia ketika melihat dunia luar. Aku bisa melihat warna langit ketika senja datang dan nyanyian burung hutan bersahut-sahut menyambut malam. Namun ketika aku tahu bahwa dunia luar itu sementara dan kepastian adalah mendekam dalam gua ini bersama kalian, penglihatanku mulai tidak terbiasa dengan kegelapan, bahkan aku tidak bisa melihat lagi wajah kalian dari dekat. Ah, sungguh meruginya diriku ini, Saudaraku.”

“Asu buntung, kenapa kemarin kau terima begitu saja bujuk rayu penjaga untuk melihat dunia luar, Darmakusuma. Sekarang kau rasakan akibatnya. Kebijaksanaanmu telah menyeretmu kedalam lembah kecelakaan!”

“Kau sungguh-sungguh kehilangan penglihatanmu, Darmakusuma?”

“Ya, aku tidak berdusta, aku tidak lagi bisa melihat kalian. Aku kira kita akan mendapatkan kebahagiaan setelah melihat dunia luar. Ternyata kebutaan yang aku dapat. Kalau ini yang akan terjadi tentu aku akan menolak tawaran penjaga tadi malam.”

“Tenang Darmakusuma, mungkin penglihatanmu akan pulih kembali seiiring berjalannya waktu. Kita berdoa saja kepada Sang Hyang Tunggal.”

“Terima kasih, saudaraku”

“Kalau begitu, besok jika penjaga itu datang, kita tolak saja semua kebaikannya, kalau perlu kita maki dan ludahi wajahnya. Bilang saja kepadanya bahwa kegelapan adalah rumah kita, dan cahaya adalah musuh bagi kehidupan kita.”

“ya, ya, aku setuju denganmu, Danaraja”

Percakapan itu berakhir ketika malam menjelang. Danaraja, Danurwinda dan Darmakusuma terdiam dalam pikirannya masing-masing. Mereka tidak habis pikir mengapa dunia luar yang penuh warna dan cahaya bisa begitu menyakitkan. Padahal mereka bosan melihat bayang-bayang dan berdiskusi dalam kepalsuan. Kini harapan untuk melihat dan hidup di dunia luar telah mereka kubur dalam-dalam. Hati mereka telah terkunci. Kebenaran bagi mereka adalah kegelapan. Langit bagi mereka adalah dinding gua. Surga bagi mereka adalah makanan dari penjaga. Hidup mereka tidak lebih kisah binatang ternak, bahkan lebih hina dari mereka.

Diadaptasi dari Alegori Gua Plato

Ferry Fadilah. 25 September 2015, Bandung.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: