Dunia Digital

Telepon telah mengalami perkembangan yang pesat. Setelah kali pertama ditemukan Alexander Graham Bell, teknologi komunikasi ini terus mengalami regenerasi hingga titik tak terhingga. Seiring dengan berkembangnya teknologi komputer, regenerasi ini terjadi tidak lagi dalam hitungan tahun, bahkan setiap bulan teknologi komunikasi yang baru muncul.

Jiwa smartphone adalah software. Semesta bagi mereka adalah cyberspace yang terdiri dari bit bit digital. Kombinasi angka satu dan null yang berhasil mengatasi sekat ruang dan waktu. Kini, interaksi antar manusia bisa terjadi tanpa melibatkan tubuh biologis. Mengurung diri dalam kamar, dengan kelihaian akal dan kelincahan jari, manusia satu dengan yang lainnya bisa berinteraksi, berdiskusi, berbisnis, berpolitik, bermain hingga bercabul ria dengan pasangan manapun di negeri manapun.

Euforia konektifitas ini telah melumpuhkan kesadaran. Manusia telah lupa bahwa dunia digital hanyalah citra yang dibangun oleh imajinasi dan terlepas dari realita. Manusia dalam dunia digital bisa menjadi siapa saja dan apa saja, terlepas dari kenyataan dirinya di dunia nyata. Seorang penyamun dengan kata-kata relijius bisa menjadi seorang ustadz. Seorang ustadz yang aku facebook-nya diretas dan menyebarkan konten porno, sekejap dicap munafik oleh penduduk digital. Seorang penipu dengan pencitraan di media masa maka menjelmalah ia seorang satrio piningit yang digadang akan membebaskan bangsa dari keterpurukan.

Semua itu adalah wajar, mengingat hasrat paling primitif manusia ialah ingin selalu terlihat indah lebih dari kenyatannya. Maka hasrat itu mendapat surga di dalam dunia digital. Seperti ikan yang bertemu dengan air. Manusia dengan mudah mencabut identitasnya di dunia nyata demi ketenaran di dunia maya. Dengan bantuan kamera 360, misalnya, seorang pemuda bisa memodifikasi citra dirinya menjadi lebih rupawan sesuai dengan konstruksi budaya saat ini. Dimana rupawan dikaitkan dengan kulit bersih dan tubuh atletis. Citra modifikasi itu adalah identitas baru yang akan disebarkan di dunia maya. Dengan tujuan mendapatkan like sebanyak-banyaknya dari sesama manusia di dunia itu.

Fenomena ini terjadi tidak hanya dikalangan muda-mudi yang kemudian dicap alay oleh komunitas sosial. Kini manusia-manusia digital lintas usia dan budaya telah enggan memahami dirinya sebagaimana adanya. Dalam benak mereka, ‘apa yang seharusnya’ yang bahkan musykil untuk terwujud dalam realita harus terwujud dengan kebohongan, kemunafikan dan manipulasi di dunia digital. Harapannya adalah mendapatkan pujian atau sekedar terbebas dari realita yang enggan mereka hadapi.

Sikap manusia di dunia digital yang terakumulasi menjadi sikap global seperti di atas menunjukan kini ras mansuia telah memasuki the dark age yang ditandai dengan kebingungan dalam menilai kepribadian. Politisi dengan sumber daya ekonominya bisa memoles diri sesuai dengan yang diinginkan. Dengan uang, media takluk. Dengan media, rakyat tunduk. Maka jangan lah terheran-heran, di era demokrasi langsung ini yang berbarengan dengan era kemahsyuran dunia digital, rakyat selalu geram dan gemas ketika melihat pemimpin yang mereka agungkan ketika kampanye dulu bekerja tidak sesuai dengan harapan.

Begitulah dunia sekarang. Manusia akan disibukan dalam memilah jarum dalam jerami, karena citra yang sudah tercerabut dari realita dan cara baru berpikir manusia: Aku online, maka aku ada!

Ferry Fadillah

Bandung, 23 Oktober 2015

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: