Arok Dedes

74352d4afae28b1d482aa85d5e4bf22bJudul               : Arok Dedes

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara

Tahun Terbit     :  2015

Halaman          : 565

Sejak kecil, kisah Ken Arok yang kita kenal selalu berkaitan dengan kutukan keris Empu Gandring. Keris pesanan Ken Arok itu ditempa dengan tenaga adikuasa. Murka melihat keris pesanannya tidak kunjung usai, Ken Arok menghunuskan keris sakti itu kepada Empu Gandring. Sebelum ajal tiba, Sang Empu mengutuki Ken Arok beserta tujuh turunannya akan tumpas oleh keris itu. Begitulah sejarah di buku-buku sekolah beredar, dengan sumber Kitab Pararaton yang ditulis abad ke-15, anak sekolahan dicekoki kisah mistis yang bercampur takhayul dan metafora yang bercampur dengan fakta.

Pramoedya Ananta Toer hadir seperti nabi di tengah-tengah ke-jahil-an itu. Melalui roman sejarahnya berjudul Arok Dedes, Pram –begitu beliau disapa- berhasil memilah antara fakta dan metafora; membongkar mistisme dan takhayul; menyuguhi pembaca Indonesia dengan narasi logis-historis tentang teka-teki politik di masa silam.

Kisah Arok-Dedes yang sarat mistis direduksi menjadi tragedi sosial-politik di Tanah Jawa ketika Kerajaan Tumapel –kerajaan otonom di bawah Kerajaan Kediri- dipimpin oleh seorang Akuwu, Tunggul Ametung, bertindak sewenang-wenang kepada rakyat. Akuwu yang berdarah Sudra beragama Wisynu itu berhasil memegang tampuk kekuasaan dengan pembunuhan dan perampokan. Perbudakan ,yang sudah dihapuskan Raja Erlangga beberapa abad silam, dihidupkannya dalam restu Raja Kertajaya di pusat kekuasaan Kediri. Pada saat itu, dengan mudah orang yang berhutang atau bermasalah dengan punggawa kerajaan dipariakannya. Maka, binasalah batas-batas triwangsa (brahmana, kesatria, sudra) yang sudah sudah mengakar kuat dalam masyarakat.

Atas tindak tanduknya yang melebihi batas dan melanggar kehendak para Dewa, Akuwu Tumapel telah menuai bibit permusuhan dengan berbagai macam kelas. Kelas Brahamana Syiwa, yang memiliki ambisi mengembalikan syakti Syiwa sebagai agama negara, menggalang dukungan dan melakukan pertemuan rahasia untuk menumbangkan kuasa Sang Akuwu. Para rakyat kecil, yang muak dengan pajak, perampokan, penculikan, dan perbudakan, bergabung dengan gerombolan perusuh di berbagai penjuru Tumapel untuk merampas rombongan upeti Tumapel kepada Kediri. Serta gerakan Gandring ,dengan perngaruhnya yang kuat di kalangan prajurit Tumapel, berusaha keras untuk mengganti Akuwu Tunggu Ametung yang Sudra itu dengan Kebo Ijo yang memiliki darah kesatria.

Singkat cerita, munculah Arok, yang tidak memiliki kejelasan silsilah, sebagai orang yang berasal dari Sudra, bertindak Satria dan berpikiran Brahma. Ia adalah wakil dari kepentingan rakyat yang tertindas dan brahmana yang tersingkirkan. Sejak belia, ia telah memimpin gerombolan untuk merampok upeti emas Tumapel kepada Kediri. Emas-emas itu disimpannya untuk membangun angkatan bersenjata yang terdiri dari pemuda-pemuda penentang kekuasaan Akuwu. Walau ia memiliki kekuatan laksana Kesatria, ia tidak bodoh. Kitab rontal berbahasa Sanskerta banyak yang ia hapal dan kuasai, ia pun fasih berbicara Sanskerta. Kepandaian itu telah banyak mengikat hati para brahmana dan paramesywari Dedes. Dimata rakyat, Arok adalah sang pembebas, sudah banyak rakyat kecil dibelanya dari kejahatan pasukan Tumapel. Dengan latar belakang itulah, semua kelas di bawah kekuasaan Tumapel serentak merestui Arok untuk menumpas Tunggul Ametung.

Kisah Arok menggambarkan pertarungan politik yang cerdik nan licik: “Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak karena tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum di depan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu” (Arok Dedes, 2015). Maka tidaklah mengherakan jika sepanjang roman ini pembaca akan dapati sosok Arok yang bermuka dua. Ia berjanji untuk melindungi Akuwu Tumapel dari setiap perusuh sekaligus ia adalah aktor intelektual kerusuhan di penjuru Tumapel. Ia pamit hendak menumpas perusuh di jurusan selatan, namun semua prajurit Tumapel yang dibawa tumpas tanpa bekas, sedangkan pasukannya bertambah loyal dan kuat. Akhirnya, Arok berhasil mengungkap Gerakan Gandring yang berusaha menghancurkan kekuasaan Tunggul Ametung. Dengan skenario licik yang ia susun, Arok berhasil menjadikan tokoh gerakan gandring, Kebo Ijo, sebagai pembunuh Tunggul Ametung sekaligus menjadikannya terhukum atas perbuatan tersebut. Dengan siasat itu dan terbunuhnya Tunggul Ametung, maka berhasilah Arok menguasai Tumapel sekaligus mendapat legitimasi kekuasaan dari semua kelas –brahamana, kesatria,sudra- tanpa perang terbuka yang berkepanjangan. Sekali dayung, dua tiga pulai terlampaui.

Selain mengisahkan tragedi politik masa silam yang sarat dengan siasat, roman ini juga dapat melambungkan imajinasi pembaca menuju zaman Hindu-Budha di Nusantara. Pertentangan Syiwa-Wishnu-Budha dalam politik kerajaan. Detil pakaian yang dikenakan parmesywari, pasukan kerajaan, rakyat dan budak. Pura kerajaan dan arca yang disembah. Ungkapan agama masa lalu. Bencana alam yang terjadi pada saat itu. Yang menandakan bahwa Pram telah melakukan riset yang mendalam tentang agama Hindu-Budha dan sejarah Jawa sebelum menyelesaikan romannya.

Akhir kata, inilah karya besar pujangga eks-Lekra yang mahsyur itu. Di tangannya cerita mistis tanpa dasar mendapatkan pijakan rasional di dasar bumi.

Selamat Membaca!

Ferry Fadillah. Bintaro, 12 Oktober 2015.

, , , , , , , ,

  1. #1 by senoners on October 13, 2015 - 21:59

    Ulasan yang menarik, keren..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: