Membela (?) PKI

Bkb5EIlCIAA0WUF.jpg largeWaktu itu langit cerah di kota Jakarta. Ribuan orang berduyun-duyun memadati Gelora Bung Karno. Pedagang kaki lima sudah bersiap sejak subuh tadi; bersamaan dengan para gelandang dan pengemis; mengharap belas kasih demi sesuap nasi.

Pukul Sembilan, seluruh tempat duduk di dalam gelanggang sudah terisi penuh. Massa rakyat dengan mata menyala-nyala memadati tribun dengan pakaian merah api. Suara mereka yang berbicara dengan sesamanya riuh rendah seperti kawanan lebah. Bendera palu arit terpasang di setiap sudut gelanggang bersamaan dengan Sangsaka Merah Putih. Di bagian utara terpasang potret besar pendiri komunisme internasional: Marx, Engels, Stalin, dan Lenin. Di sebelahnya berderet pahlawan bangsa dari era kolonial hingga revolusi kemerdekaan: Dipenogoro, Soekarno, dan Hatta.

Sesaat kemudian, Soekarno, presiden Indonesia sekaligus Pemimpin Besar Revolusi naik ke podium. Serentak semua peserta membisu. Pembawa acara memandu semua peserta untuk berdiri dan hymne partai dikumandangkan:

Kau cabut segala dariku

Cemar dan noda

Gelap dan derita

Kau beri segala padaku

Kasih dan cinta

Bintang dan surya

Partaiku partaiku

Segenap hatiku bagimu

Partaiku partaiku

Kuwarisi api juangmu

PKI PKI

Segenap hatiku bagimu

PKI PKI

Kuteruskan jejak juangmu

Hymne usai dinyanyikan. Mata semua peserta berkaca-kaca, sebagian menangis terharu; teringat jasa partai selama ini. Kemudian, pembawa acara memandu peserta untuk duduk kembali. Gelegar pidato Sang Singa Podium dimulai.

***

Begitulah hiruk pikuk ulang tahun PKI di masa revolusi. Namun, sejak tragedi penculikan para jenderal di Jakarta pada tahun 1965, hiruk pikuk itu berubah menjadi kesunyian.

Tujuh orang jenderal diculik tanpa welas asih, disiksa dengan bejat, dan dibuang di lubang buaya. Manusia Indonesia, yang pernah hidup di zaman Soeharto, percaya, bahwa PKI adalah biang keladi.

Setelah para pemberontak dapat dilumpuhkan, gonjang ganjing belum juga surut. Kebencian kepada PKI dari pihak nasionalis dan agamis mendapat angin segar untuk dilampiaskan. Pembantaian masal terjadi di Jakarta dengan cepat menyebar ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Anggota partai dan organisasi masyarakat yang berasosiasi dengan komunisme diluluh lantahkan. Bahkan kaum buruh-tani yang tidak terkait gerakan komunisme apapun, karena hanya mendapat bantuan dari pihak komunis, mesti tumpas tanpa dosa.

Masa kelam itu bukanlah tragedi kemanusiaan belaka, tapi juga tragedi kebudayaan. Seniman berhaluan realisme-sosial yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dituding menjadi sarang orang-orang komunis. Para seniman itu disiksa dan dihina; karya-karya mereka berupa lukisan dan buku-buku dihancur leburkan; dianggap barang-barang sesat yang mengotori keimanan.

Tragedi itu menjadikan bangsa Indonesia terbelah, yang satu meniadakan yang lain. Pancasila menjelma menjadi agama negara. Mereka yang berpaling dari Pancasila adalah kafir murtad yang halal darahnya. Pilar Nasionalisme-Agama-Komunisme (NASAKOM), yang merupakan buah pikir Soekarno untuk mempersatukan segala lapisan ideologi, hancur berkeping-keping. Saat itu adalah titik sejarah paling berdarah nan kelam bagi bangsa ini.

Kini, kebencian terhadap komunis masih ada, memasuki alam pikir manusia Indonesia dari generasi ke generasi. Komunis itu atheis. Komunis itu pemberontak. Komunis itu cabul. Tetapi apakah manusia Indonesia, terutama mahasiswa sudah benar-benar adil melihat tragedi 1965? Atau hanya latah membenci tanpa mengerti duduk perkara? Atau pernahkah mahasiswa berpikir, apakah komunis tidak memiliki peran dalam pembangunan rumah bersama bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia ini?

Jika berbicara tentang peran komunis dalam pembangunan negeri, saya jadi teringat pidato D.N. Aidit dihadapan Musyawarah Besar Sarjana Ekonomi Indonesia tanggal 8 Juli 1964 di Jakarta :

“Kaum Komunis Indonesia sudah sedjak lama berpendirian, bahwa masjarakat Indonesia masih tetap merupakan masjarakat setengah-feodal dengan sisa-sisa feudal jang berat. Program PKI jang disahkan 10 tahun laloe dalam Kongres Nasional ke-V PKI meliputi tuntutan-tuntutan landreform jang radikal jang sepenuhnja sesuai dengan sembojan Bung Karno: “Tanah untuk mereka jang betul-betul menggarap tanah.” Sudah lama Program itu mendjadi sasaran dan edjekan kau reaksioner jang mentjemooh PKI karena djandji-djandji tanah untuk kaum tani hanja bisa dipenuhi, katanja, dalam bentuk tanah untuk kuburan. Tetapi sekarang, Program resmi revolusi Indonesia sudah dengan tegas menjatakan kemutlakannja landreform…”

Dari penggalan pidato di atas, kita mengetahui semangat sungguh-sungguh PKI untuk menghancurkan feodalisme yang masih berakar kuat dan menghisap habis tenaga kaum tani yang tersebar di seluruh nusantara. Tanah ialah untuk mereka yang benar-benar menggarap tanah. Tanah tidak dikuasai oleh satu orang yang hanya duduk manis ongkang-ongkang kaki lalu menghisap tenaga para petaninya. Apakah kini cita-cita ini sudah terwujud? Ya, memang belum, namun feodalisme sudah hilang dan berganti bentuk dengan kapitalisme, tanah yang dahulunya dimiliki bangsawan, kini dimiliki oleh pemilik modal, namun semangat Undang-Undang Agraria yang kita kenal sekarang adalah semangat landreform yang digalakan PKI.

Itu baru masalah landreform, belum lagi sumbang asih pemikiran sosial-komunis dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Pemikiran dialektis Marxian telah menambah khazanah pemikiran filsafat. Teori nilai tambah telah memukul telak cara kerja kapitalisme dalam menentukan nilai dan harga. Komunisme yang pro terhadap realita sosial rakyat tertindas telah menginspirasi para budayawan serta menghasilkan roman, novel, lukisan, dan film yang menyentuh nurani kemanusiaan. Dan masih banyak lagi sumbang asih komunisme terhadap kehidupan manusia.

Dalam uraian ini saya tidak hendak berpihak kepada PKI mati-matian dan mengatakan pembataian masal pasca tragedi 1965 adalah kesalahan pihak nasionalis dan agamis. Saya hanya ingin kita, terutama mahasiswa, yang mengenyam pendidikan tinggi serta budaya diskusi untuk lebih adil dalam melihat setiap fenomena; lebih kritis dalam menangkap kebenaran.

Keterangan dari rezim berkuasa bukanlah kebenaran yang harus ditelan bulat-bulat. Ucapan para pimpinan agama bukanlah sabda Nabi yang harus diterima dengan tunduk. Manusia bukanlah dewa, bisa salah dan bisa khilaf. Manusia ditempatkan dalam kingdom animalia bukanlah tanpa sebab. Ketamakan dan haus kuasa telah berkali-kali menjerumuskan manusia menjadi binatang bahkan lebih sesat dan lebih hina. Bukankah pembunuhan pertama di muka bumi dilakukan oleh manusia jua?

Dari sudut pandang mana pun kita melihat, sikap saling menyalahkan tidak akan pernah menciptakan persaudaraan. Perpecahanlah yang akan diraih. Saling memaafkan dan mengambil ibrah dari peristiwa lampau harus benar-benar menjadi budaya kita. Sehingga kita paham untuk melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain. Poin pentingnya adalah berlaku adil baik dalam pikiran maupun perbuatan. Bukankah Tuhan menyuruh kita untuk bersikap adil bahkan kepada kaum yang kita benci: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maaidah: 8)”

 Jadi, masikah kita serampangan melekatkan kata PKI setelah “G-30-S” untuk peringatan tahun depan?

Ferry Fadillah, 1 Oktober 2015.

Dipersembahkan untuk panitia acara puncak Project 30’s di Politeknik Keuangan Negara, Tangerang Selatan, Rabu lalu (30/09/2015)

, , , , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: