Tentang Koi

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Hujan deras dengan angin kencang baru saja mengguyur Bandung. Daun-daun berjatuhan menumpuk di pinggir jalan di antara bebatuan dan trotoar. Air yang tidak terserap tanah mulai menggenangi lubang-lubang jalan dan daerah yang lebih rendah. Banjir orang menyebutnya.

Daun-daun tadi jatuh ke kolam ikan di depan rumah. Tidak hanya daun. Mangga kecil. Bunga. Ranting ringkih. Dan semut-semut tanpa daya jatuh ke kolam.

Di dasar kolam ikan koi menari girang. Yang besar 7 ekor. Yang kecil 6 ekor. Dengan cepat dan gesit mereka muncul ke permukaan. Memakan apa saja yang jatuh ke dalam kolam. Tanpa mengenal rasa. Tanpa menimbang-nimbang. Tanpa harus berpikir.

Begitulah ikan koi, bahkan hewan secara umum..

Ikan koi di peternakan dipilah bedasarkan warna tubuh. Koi yang memiliki variasi warna yang bagus, kontras dengan warna dasar, atau lincah dipisahkan dari koi-koi yang tidak memiliki sifat itu. Pada saat itulah kelas-kelas dibentuk. Bukan oleh ikan koi itu sendiri, namun oleh manusia yang kerap disebut homo economicus.

Ikan koi tidak pernah tau kelas-kelas itu. Manusia lah biang keladinya. Ikan-ikan tadi mulai dipasarkan dan diberi label harga sesuai keindahan warna dan bentuk tubuh. 2 juta, 750 ribu, 200 ribu. Dengan semangat peternak menjelaskan harga dan keunggulan koi-koi itu. Konsumen terpengaruh oleh bujuk rayu peternak dan dalam anggukan mereka pun meng-amin-kan konstruksi kelas-kelas imajiner itu: Koi super, koi mahal, koi murahan.

Kelas-kelas itu dikonstruksi oleh manusia tidak hanya di dunia koi -hewan secara umum- juga dikonstruksi ke dalam dunia mereka sendiri. Dalam bahasa Sunda kita mengenal lagam halus, lagam sedeng, lagam kasar. Kapan harus berbicara dan dengan siapa kita berbicara sungguh sangat diperhatikan. Begitu juga dengan kasta sosial zaman Hindu. Brahma, Waisya, Kesatria dan Sudra. Semacam identitas kaku yang tidak bisa di campur adukan. Kelas-kelas tidak saja ada di negeri ini. Dunia secara luas pun memahami kelas-kelas sosial sebagai keniscayaan yang tidak bisa dielakan.

Koi bukan manusia, dan manusia bukan koi. Namun, apa menyebabkan manusia berani membuat konstruski sosial sedangkan koi tidak? Pikiran. Dengan daya pikir manusia membuat batas-batas imajiner, menggolongkan yang satu dengan yang lain, menentukan mana yang luhur dan mana yang rendah. Sedangkan koi tidak memahami itu karena mereka tidak memiliki daya pikir. Bagi mereka makan adalah kebutuhan dan air adalah kehidupan. Tidak pernah seekor koi memakan koi yang lain karena kelaparan. Tidak pernah. Apalagi berunding dengan pakar intelektual untuk mengolongkan bangsa mereka sendiri menjadi beberapa kelas.

Kalau koi bisa begitu bijaksana, lantas apa perlu kita menghilangkan daya pikir ini agar lebih bijaksana melihat perbedaan?

Ferry Fadillah. Bandung, 21 September 2015

, , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: