Sebuah Ikhtiar Sederhana guna Menyibak Pesan dan Kesan di Balik Peristiwa Dukuh Paruk

Adalah peristiwa September 1965 yang telah menyisakan trauma bagi sebagian besar manusia Indonesia. Persaudaraan yang dulu kental dengan gotong royong-nya porak poranda menjadi permusuhan yang membabi buta. Masyarakat terbagi menjadi dua kutub: pro-komunis dan kontra-komunis.

Peristiwa pra dan pasca geger politik itu terekam jelas secara emosional dan kultural di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Dukuh Paruk, subsistem mikro di pedalaman Jawa Tengah, merupakan daerah yang kental dengan aroma takhayul, kecabulan dan kebodohan. Bagi penduduk yang hanya 70 kepala keluarga ini perguliran kekuasaan dengan atribut ideologi dibaliknya tidaklah penting. Apalagi menelaah secara intelektual-formil ideologi komunisme dan kapitalisme yang pada masa itu sedang giatnya mencari umat. Bagi mereka hidup cukuplah nrimo ing pandum sambil  tetap menjaga kepercayaan serta kebudayaan nenek moyang dengan segala laku dan ritualnya.

Alkisah, di pedukuhan ini hiduplah seorang penari ronggeng. Penghibur tradisional yang menjadi simbol bagi gairah kebinatangan lelaki dan kekuasaan wanita penghibur. Srintil-lah tokoh yang diangkat oleh Ahmad Tohari sebagai sang penari ronggeng. Sebuah gravitasi dalam novel ini yang harus menghadapi kejamnya hidup sebagai seorang minoritas; karena ia wanita dan menjadi objek cabul kebanyakan pria.

Sejak belia, adat cabul yang dibalut oleh kearifan kepercayaan kuno telah menjadikan Srintil sebagai komoditas nafsu belaka. Baginya adalah sebuah kehormatan jika lelaki dipenjuru dunia berebut untuk menjamah tubuhnya. Kepercayaan itu tidak hanya ada pada diri Srintil namun pada hati setiap penduduk Dukuh Paruk. Jadi tidaklah heran jika seorang istri merasa bangga jika suaminya berhasil untuk bercumbu dengan kembang desa itu.

Kepercayaan Srintil itu mulai goyah ketika ia merasakan cinta sejati. Baginya memiliki suami dan berumah tangga adalah fitrah seorang wanita. Dan kini hal itu menjadi cita-citanya walaupun adat menolak seorang ronggeng memiliki suami dan berumah tangga. Sayang, cinta itu kandas karena Rasus, sang pujaan hati, kecewa ketika tahu Srintil memilih menjadi seorang ronggeng. Karena bagi Rasus seorang ronggeng tidak lagi dapat dimiliki secara pribadi namun menjadi barang publik yang dipertukarkan  begitu saja.

Setelah penolakan cinta itu kisah Srintil akan berputar dalam alunan derita dan nestapa. Sekali pernah ia ditipu lelaki kaya bermulut manis yang ternyata berniat menjual dirinya kepada bosnya. Bahkan pernah ia ditangkap pihak berwajib dan dimasukan ke dalam penjara selama 2 tahun tanpa pembela dan proses pengadilan yang layak. Hanya karena ia bermain ronggeng di rapat akbar orang-orang komunis. Tokoh ini seolah merepresentasikan penderitaan wanita Indonesia dihadapan lelaki dan keluguan gadis desa akan ideologi yang bertenangan pada masa itu.

Di sela-sela cerita pembaca juga akan dibawa larut ke dalam alam pedesaan yang indah. Penulis yang lebih kerasan tingga di desa dengan lihai mendeskripsikan kejadian-kejadian alam dalam rangkaian kalimat yang memancing imajinasi. Simaklah penggalan novel berikut :

Angin tenggara bertiup. Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit itu bergoyang. Daun kuning serta ranting kering jatuh. Gemerisik rumpun bamboo. Berderit baling-baling bamboo yang dipasang anak gembala di tepian Dukuh Paruk. Layang-layang yang terbuat dari daun gadung meluncur naik. Kicau beranjangan mendaulat kelengangan langit di atas Dukuh Paruk.

Jika membaca dari awal hingga akhir, novel ini bisa disebut sebagai sebuah reportase fiksi sastrawi yang menggambarkan konflik ideologi antara kapitalisme dan komunisme pada masa itu. Konflik para elit yang ternyata merembet sampai ke desa-desa terpencil di pulau Jawa. Komunisme dalam sekejap menjadi momok yang dibenci dan ditakuti. Kata itu telah menjelma menjadi kumpulan orang tidak bertuhan dan kerap melakukan pemberontakan. Maka pembunuhan massal dan  penangkapan ribuan orang  tanpa proses pengadilan seolah mendapat legitimasi dari negara bahkan lembaga agama.

Dengan membaca novel ini diharapkan pembaca akan menjadi bijaksana dalam memandang perbedaan dan konflik. Tidak sungkan menerima beda pendapat dengan kepala dingin dan selalu memihak kepada mereka yang termarjinalkan.

Bandung, 7 Juli 2015

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: