Buku dan Gagasan

IMG_4364 (1)

sumber : dokumen pribadi

Dua ratus dua puluh sembilan. Jumlah buku yang saya miliki sejak tahun 2009 di Bali. Jumlah ini belum termasuk buku-buku yang saya kumpulkan sejak sekolah menengah dan saya tinggal begitu saja di Bandung, kampung halaman saya.

Saya memang mencintai buku dan gagasan besar yang para penulis tawarkan. Pemikiran kiri pernah saya nikmati dan turut terkagum dengan tokoh-tokohnya. Gagasan nasionalis pernah saya aminkan dan terpana pula dengan gagasan-gagasan besarnya. Pan-Islamisme pun masih memukau dan menggiring saya kepada pemikiran radikal (radic; akar. pemikiran mendalam sampai ke akar) Tarbiyah Jihadiyah Syeh Abdullah Al-Azzam. Tasawuf juga tidak kalah menarik, dengan tokoh-tokohnya yang mampu menggali jiwa sedalam mungkin dan mendekati Allah sedekat mungkin, hati ini tentram ketika membaca uraian-uraiannya. Jangan tanya filsafat, ia selalu ada sebagai pisau bedah analisis, maka saya berterima kasih kepada Tan Malaka atas Madilognya, Hegel atas filsafat sejarahnya dan Yasraf Amir Piliang dengan wacana cultural studies-nya yang mencerahkan.

Selain itu, ada banyak gagasan dari ratusan penulis lain bertaburan di kamar saya. Semua terangkum dalam kata yang dicetak dalam kertas olahan kayu. Isinya merupakan perenungan mendalam pemikir zaman purbakala hingga post-modern. Bukankah membaca gagasan-gagasan itu menyenangkan? Walaupun tubuh saya di Bintaro melanjutkan studi akuntansi namun pikiran saya dapat mengelana bebas. Memasuki  Yunani zaman purbakala, berbincang dengan Plato tentang filsafat materialisme dan idealisme. Menjelajah fenomena dari zaman ke zaman dan membedah kekuatan ekonomi politik yang berada dibaliknya. Meneliti kata dan struktur yang membangun peradaban manusia hingga pengaruhnya terhadap pembentukan struktur masyarakat. Atau sekadar menyapa almarhum Karl Max dan memberitahu pengaruh idenya terhadap revolusi proletar dunia.

Walaupun gagasan-gagasan itu berasal dari belahan bumi barat-timur; theis-atheis; moral-amoral  tapi saya yakin butir-butir hikmah akan bisa dipetik dari semua gagasan yang mereka tawarkan. Mengapa? Karena membaca buku itu seperti ruang samadhi. Kontemplasi adalah intinya. Ketika gagasan-gagasan di dalam buku masuk ke dalam pikiran sebagai hal asing, maka jiwa dan akal akan menimbang-nimbang dengan iman, logika, etika, dan estetika. Apakah ini benar? Apakah ada pertentangan di dalamnya? Apakah ini tepat jika diterapkan di negeri ini? Apakah ini sudah mencakup aspek keindahan atau hanya sekadar benar? Halal atau haramkah?

Pertanyaa-pertanyaan itu akan terus menjadi kebiasaan dalam memandang segala hal. Asumsi ekonomi, sudah mapankah? Teori sang ahli, apa ada variable yang terlewat? Pendapat pemuka agama, apa benar seperti itu? Tradisi, apakah bisa diubah? Agama, mana yang benar-benar dari Tuhan mana yang bukan? Tuhan, ah, apa benar-benar ada?!

Orang mungkin murka mendengar pertanyaan terakhir. Tapi bukankah itu sebuah kemajuan berpikir. Tentu apabila si penanya melanjutkan penyelidikan akan eksistensi Tuhan dengan tujuan yang baik. Dicarinya pemikiran filsafat seluruh dunia, dibukanya kitab-kitab segala agama, di timbangnya dengan akal dan nurani. Hasilnya? Tentu bisa berujung kepada kegelapan atau bahkan cahaya yang menuntunya kepada iman. Who knows!

Namun untuk apa khawatir. Tidak kurangkah orang pintar, sarjana besar di eropa sana yang setelah meneliti alam menemukan kalam ilahi di setiap ciptaan-Nya. Tidak kurangkah para filsuf bahkan di zaman purbakala yang  menimbang ulang kepercayaan dewa-dewi dan kembali kepada Tuhan satu yang menjadi sumber logos. Tidak kurangkah perintah Allah kepada umat manusia agar selalu menggunakan akal dan iqra (membaca) dalam melihat segala kejadian alam.

Janganlah terlalu khawatir dengan segala lintasan pertanyaan dan gagasan. Dengan harap rindu akan pertemuan kepadaNya, dan niat suci untuk mencari kebenaran maka jadikanlah pengembaraan intelektual lintas gagasan sebagai alat memperkuat cahaya nurani.

Dari gelap menuju terang. Semoga!

Ferry Fadillah

Bintaro, 19 Juni 2015

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: