Muslim Memilih Pemimpin

Hormat saya kepada Riyan Fajri yang telah menertawakan dua buah tulisan berjudul “Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN” dan “Menjawab Surat Terbuka Kepada Mahasiswa STAN” dengan tulisan berjudul “Menertawakan Surat Orang-Orang Pintar”. Alumnus yang suka menertawakan kesokpintaran ini juga menyebutkan bahwa tulisan pertama menggelikan dan tulisan kedua menyedihkan. Bukan hanya tulisannya menurut saya, namun julukan itu juga ditujukan kepada penulisnya. Namun itu bukan masalah, karena sebaik-baik manusia adalah yang membalas keburukan dengan kebaikan.

Ragam Pembacaan Semiotika

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Bayang-Bayang Tuhan : Agama dan Imajinasi” menyebutkan dua arah utama pendekatan semiotika yang telah dikembangkan dan digunakan dalam cultural studies. Pertama, semiotika struktural, dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure, yang telah menekankan telaah tanda sebagai sebuah sistem, struktur, dan relasi yang disebut langue. Kedua, semiotika sosial, memusatkan perhatian pada telaah tentang tindakan penggunaan tanda secara konkret di dalam masyarakat, yang disebut parole. Yang pertama, menelaah bahasa sebagai sistem kode yang baku, yang kedua menelaah penerapan atau pengamalan kode-kode itu secara sosial, yaitu bagaimana kode-kode itu diinterpretasikan dan digunakan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Semiotika struktural lebih memusatkan perhatian pada telaah kode, konvensi, atau aturan-aturan main yang telah disepakati secara sosial-historis sebagai sebuah konvensi sosial yang telah mempunyai ketetapan dan tidak pernah berubah. Semiotika sosial lebih membantu dalam membantu dalam memahami pembacaan plural masyarakat teks disebabkan ia lebih memusatkan perhatian pada tindak penggunaan tanda sehari-hari secara sosial dalam konteks sosial-kultural yang ada.

Seharusnya untuk mendapatkan pemahaman teks yang utuh, model pembacaan semiotika struktural harus dipadukan dengan model pembacaan struktural sosial. Namun, dalam hal pembacaan teks suci yang mengandung kebenaran awal (Logosentrisme) penggunaan semiotika struktural harus lebih dikedepankan dibandingkan semiotika sosial. Karena, teks suci memiliki kebenaran yang berasal dari Tuhan, dan kebenaran baku itulah yang dicari dalam pendekatan semiotika struktural.

Sosial-Historis dalam Pembacaan Semiotika Sosial

Pembaca semiotika sosial selalu mengaitkan teks dengan keadaan sosial sebagai realita yang tidak dapat dibantah. Indonesia, pasca kemerdekaan, ketika dalam tahap menentukan ideologi nasional, para founding father kita mengalami pergulatan ideologi yang cukup kontroversial. Yang paling mencolok adalah antara ideologi islam dengan nasionalis-sekuler. Mayoritas dari mereka pada mulanya setuju bahwa spirit Islam harus dibawa ke dalam tataran negara, sehingga akan mewarnai praktik ke-Islam-an dalam tataran masyarakat. Namun, sebagian takut apabila Indonesia yang terdiri dari berbagai macam etnis dan agama akan berubah menjadi sebuah negara theokrasi dengan Islam sebagai pemegang kendali kekuasaan.

Sungguh, itu merupakan alasan yang menihilkan perjuangan para ulama dan santri dalam membebaskan tanah air ini dari kerajaan protestan belanda dengan tiga misi utama yakni gold, gospel dan glory. Sehingga, generasi indonesia kini yang lupa dan buta akan sejarah begitu bersemangat menjadikan demokrasi-sekuler sebagai realita sosial yang harus diterima semua lapisan masyarakat.

Parahnya lagi, hal-hal yang bertetangan dengan itu dengan serampangan dilabeli anti-pancasila, anti-pluralisme, penyokong Negara Islam Indonesia, pemberontak dan lain sebagainya. Akibatnya, lawan dari itu seuma atau label-label itu selalui identik dengan musuh yang harus dienyahkan.

Kembali ke dalam semiotika, pembacaan teks suci pun mengalami hal yang serupa. Alih-alih mencari makna asal sesuai kebenaran mutlak Tuhan, pembaca kini lebih memilih menyesuaikan teks suci itu dengan ideologi demokrasi-sekuler yang menempatkan teks suci dibawah konvensi buatan manusia.

Apakah ini tepat? Apakah dalam memaknai teks suci kita harus menjadikan realita sosial sebagai pijakan kebenaran, sehingga penafsiran teks suci harus menyesuaikan dengannya?

Kebenaran ada dalam Pembacaan Semiotika Struktural

Coba bayangkan sebuah daerah. Zinah telah menjadi komoditi lumrah yang diperjual belikan. Mayoritas masyarakat menjadikan zinah sebagai tumpuan ekonomi keluarga. Lantas, untuk melindungi masyarakat dan ekonomi daerah tersebut, para ulama mengeluarkan fatwa akan halalnya zinah asalkan dengan alasan ekonomi. Apakah hal ini waras?

Ketika Allah menurunkan QS An-Nisa ayat 144 dan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin, haruskah kita harus menjadikan demokrasi-sekuler dan konvensi turunannya sebagai sebuah realita sosial di atas hukum-hukum Allah yang sudah sangat jelas ini :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir auliya’ dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

M. Quraish Shihab di dalam “Tafsir Al-Misbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran” menafsirkan ayat diatas sebagai berikut :

Setelah jelas sudah apa yang harus dihindari, termasuk menghindari orang-orang kafir dalam konteks menjadikan mereka sebagai auliya’, dan jelas pula keadaan orang-orang munafik dan keadaan orang-orang mukmin, kini melalui ayat ini Allah menyeru kepada semua yang mengaku beriman :”Wahai orang-orang yang mengaku beriman, baik pengakuan benar maupun bohong, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir auliya’ teman-teman akrab tempat menyimpan rahasia, serta pembela dan pelindung kamu dengan meninggalkan persahabatan dan pembelaan orang-orang mukmin. Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah untuk menyiksamu atau bukti yang jelas bahwa kamu benar-benar bukan orang-orang beriman? Sungguh, hal yang demikian tidak sejalan dengan keimanan kamu, tidak juga dengan nilai-nilai ajaran agama Islam yang kamu anut.

Ayat di atas menggunakan kata aturidunal/maukah kamu pada firman-Nya : Maukah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah. Redaksi demikian yang dipilih, bukan kata apakah kamu menjadikan, untuk menekankan betapa hal tersebut sangat buruk. Baru pada tingkat mau saja mereka telah dikecam, apalagi jika benar-benar telah menjadikannya seperti itu.

Ayat ini merupakan kecaman keras yang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman akrab, tempat menyimpan rahasia, bukannya larangan untuk bergaul secara harmonis dan wajar, atau bahkan memberi bantuan kemanusiaan buat mereka. Allah membolehkan kaum muslimin bersedekah untuk non-muslim dan menjanjikan ganjaran untuk yang bersedekah.

Saya melihat tafsir di atas adalah tafsiran jelas yang lebih condong kepada jalan tengah. Menjadikan pemimpin kafir sebagai wali amanah, wazhoif qiyadiyah atau wilayat madaniyah itu sama saja menjadikan mereka sebagai pembela dan pelindung orang mukmin.

Setelah saya paparkan logika saya yang mungkin tidak waras bagi sebagian orang, saya ingin mengajak mereka yang muslim untuk tetap berpegang teguh kepada keyakinan ini. Biarlah orang berpendapat berdasarkan ideologi yang mereka anut. Pada akhirnya, dunia akan diisi oleh tiga jenis manusia : mukmin, munafik dan kafir.

Dan bershaf lah bersama mereka yang mukmin!

Pulau Dewata, 15 Juli 2014
Ferry Fadillah

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: