Kesalehan Tidak Berbanding Lurus dengan Kecerdasan

Kesimpulanku mulai keliru. Suatu saat aku pernah berkata, “ternyata kecerdasan itu tidak berbanding lurus dengan kesalehan”. Pernyataan ini terlontar setelah pengumuman kelulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Prodip Diploma III Khusus Tahun 2013.

Memang, kesimpulan ini terlalu subjektif dan terburu-buru. Namun aku mengambil logika seperti ini : dari 53 peserta yang lolos, aku coba ingat, siapa saja yang saleh dan siapa saja yang kurang saleh. Ternyata semua berkumpul dalam satu daftar. Jadi, saya pikir kesimpulan saya di awal tidak terlalu keliru.

Sejarah peradaban dunia pun berbicara hal yang sama. Zaman keemasan Islam dipenuhi tokoh bermental ilmu pengetahuan dan saleh sekaliber Ibnu Haitham, Ibnu Rush dan Ibnu Musa Al-Khawarizmi. Zaman keemasan eropa dipenuhi tokoh bermental relijius semisal Albert Eisntein, Ishaac Newton, Alexander Grahambel. Belum lagi ilmuwan-ilmuwan ateis, agnostik, gila seks dan psikopat di seantero dunia timur dan barat. Mereka semua mewarnai dunia ini dengan kecerdasan mereka, namun dengan ideologi yang berbeda.

Sehingga aku berpikir, apakah kecerdasan merupakan prioritas yang harus dikejar di dunia?

Banyak orang cerdas di negeri ini yang membuat sistem hukum sangat tajam ke bawah namun sangat tumpul ke atas. Banyak orang cerdas di negeri ini yang baru haji sekali saja sudah menganggap diri paling suci. Banyak orang cerdas di negeri ini yang sembunyi-sembunyi nyambi jadi tikus kantor di pemerintahan.

Banyak bangsa cerdas terdahulu yang dibenamkan oleh Allah ke tanah, disambar dengan petir, ditenggelamkan dengan air bah, dilipat di tengah laut merah bahkan diubah menjadi kera.

Lagi-lagi aku dipusingkan dengan fakta-fakta yang seolah-olah terpisah ini. Padahal satu padu dan menjalin sebuah hikmah. Apa itu?

Hikmah itu adalah Allah. Bagaimana kita menjadikan segala aktivitas kita di dunia berporoskan kepada Allah. Menjadikan tujuan pekerjaan kita hanya Allah. Sehingga kita selalu ingat Allah dalam keadaan miskin maupun kaya, sakit maupun sehat, susah maupun senang.

Bukankah cita-cita kita (muslim) adalah kematian? Bukankah yang kita bawa setelah kematian hanya tiga hal. Adakah yang kita bawa selain yang tiga itu :  ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya ?

Selain ketiga hal itu hanyalah debu yang bertebaran. Hilang begitu saja ketika angin dan hujan datang.

Ferry Fadillah
Badung, 5 Desember 2013

, , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: