Romantika Remaja

Libur Idul Adha tahun ini saya habiskan di Bandung. Kota kelahiran dengan sejuta kenangan. Mendarat pada hari Jumat malam di Bandara Husein Sastra Negara, Hujan lebat menyambut saya. Beruntung, sisa-sisa hujan yang tersisa dipadu dengan gemerlap cahaya kota telah membuka kembali lembar ingatan. Tentang romantika di Paris van Java ini, tentang kisah kecil di bawah rintik hujan.

***

Lima tahun yang lalu, di SMA Negeri 20 Bandung, saya menganggap romantika adalah ‘hidangan’ yang harus dicoba selama SMA. Seolah-olah, kerugian paling besar di dunia ini adalah bagi mereka yang tidak mencicipi kehidupan SMA dengan romantika.

Tidak mau disebut orang merugi, ketika kelas dua SMA, saya memberanikan diri menyatakan perasaan kepada seorang wanita. Dan seperti yang sudah kita ketahui melalui layar sinetron. Pernyataan itu berlanjut kepada hubungan yang lebih kompleks : pacaran

Sebuah momen penuh kegairahan. Seolah waktu yang kita miliki dipadatkan hanya untuk kita berdua. Seolah dunia itu menyempit dan mudah untuk kita kendalikan. Seolah kita akan bersama selamanya.

Ada tangis, ada tawa, hal yang lumrah kata orang. Tertawa sendiri ketika melihat layar handphone, hal biasa kata orang. Melamun sendiri di meja belajar, sedang kasmaran kata orang. Semua dianggap lumrah, semua dianggap biasa. Media populer mendukung hal ini, lingkungan apalagi. Sehingga makin mantap saya untuk berpacaran, memenuhi dunia dengan bahasa aku dan dia.

Waktu berjalan, kedewasaan bertambah, pola pikir berubah dan hubungan kita harus terpisah jauh. Keberpisahan membuat saya memiliki banyak waktu untuk berkontemplasi. Sebuah pertanyaan sederhana mengusik hidup saya, “Apa manfaat saya pacaran?”

Saya sadar, pacaran telah menguras tenaga saya. Ketika  umur 21,  ilmuwan-ilmuwan muslim dapat mencerahan peradaban Arab dengan penemuan di bidang matematika dan fisika, saya hanya berkutat kepada rasa cemburu dan rindu. Ketika orang-orang belajar mengenai hal baru untuk mengubah dunia, saya hanya sibuk dengan diri sendiri, menciptakan diri yang lebih tampan dan fashionable. Ketika pemuda idealis sudah biasa berorasi di depan orang banyak, saya hanya bisa memenuhi handphone saya dengan kata-kata rayuan.

Saya sadar bahwa itu semua adalah sebuah kerugian. Kerugian yang sangat besar.

Ketika di Bali, bertemu Ustadz Hasan Basri, S.E., MBA., berkat kajian Syahadatain, saya  memiliki perspektif yang berbeda tentang Islam, khususnya tentang makna syahadat. Kalimat pertama syahadat, Laailahaillallaah, bermakna totalitas meng-illah-kan Allah.

Ilah (indonesia : Tuhan) bermakna : sesuatu yang amat dirindukan, sesuatu yang menenangkan, sesuatu yang melindungi, sesuatu tempat kembali. Jika melihat kehidupan saya ketika pacaran dulu, lengkap sudah, pacar saya telah bertransformasi menjadi Tuhan!

Pada saat berpacaran  tiada  waktu yang paling menenangkan melainkan berdua dengannya. Pada saat pacaran tiada hal yang paling dirindukan selain si dia. Ketika pacaran tidak ada tempat yang layak kecuali rumah dia.

Tragis. Kebodohan saya pada saat itu baru terpikir saat ini. Lantas kenapa media tidak membantu saya berpikir lurus? Mengapa lingkungan tidak membantu saya berkontemplasi? Ternyata mereka hanya mengedepankan senda gurau belaka, mengingkari kematian dan terlarut dalam tontonan. Padahal, hal terpenting dalam kehidupan ini, yang menjadi pondasi kita sebagai khalifah di bumi adalah kemampuan berpikir, berpikir, dan berpikir!

Ferry Fadillah
Bandung, 17 Oktober 2013

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: