Aleph

“Aleph”

Aleph adalah huruf pertama dalam sistem bahasa Hebrew. Dalam Bahasa Arab sepadan dengan huruf alif. Aleph tidak hanya mengandung sesuatu yang materi yakni entitas terkecil dari sistem bahasa namun mengandung hal-hal transenden yang sulit diraba oleh manusia.

Aleph dibangun oleh tiga bentuk, yakni yod (10), yod (10) dan yov(6). Sehingga Aleph mengandung angka 26, sebuah angka sakral dalam kepercayaan Yahudi yang mengacu kepada Tuhan Yang Maha Esa : YHVE

Dalam bentuknya yang artistik, aleph menggambarkan dua dimensi. Pertama, dimensi ke-Tuhanan yang bersifat astral. Kedua, dimensi kemanusiaan yang bersifat materi. Keduanya dihubungkan oleh sebuah garis yang bermakna bahwa Tuhan dan manusia akan selalu berhubungan.

Paulo Coelho dalam novelnya ‘Aleph’ mendefinisikan aleph sebagai sebuah titik di dunia ini yang akan membawa jiwa kita kembali ke masa lalu, ke dalam kehidupan sebelum kini, melihat citra-citra yang berkelibatan dengan cepat untuk memahami keberadaan kita saat ini.

Aleph tidak lepas dari kepercayaan inkarnasi, de javu dan karma yang masih dipercaya beberapa kaum tradisionalis di dunia ini. Terlepas dari itu semua, saya akan merangkai hal-hal positif yang dapat diambil dari novel ini. Semua tentang kehidupan, perjalanan, tujuan dan akhir dari semua itu.

***

Apa yang kulaukan di sini, berusaha menjalankan tradisi spiritual yang berakar pada masa lampau yang sangat jauh dari tantangan masa kini? (halaman 14)

Ada semacam titik jenuh. Ritual yang seyogyanya ditujukan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan malah membuat penulis jauh dari Tuhan itu sendiri. Kemudian, penulis berpikir bahwa watu akan menuntun  kepada Tuhan. Namun, Sang Guru menjelaskan bawa waktu hanya akan membuat manusia lelah dan tua.

“Itu karena sama seperti semua orang lain di planet ini, kau percaya bahwa waktu akan mengajarimu cara mendekat pada Tuhan. Namun waktu tidak mengajari apa-apa; waktu hanya membuat kita merasa lelah dan bertambah tua”(halaman 19)

Maka, penulis mengadakan perjalanan. Menyusuri Rusia dengan kereta melalui jalur trans Siberia. Bertemu banyak orang, titik bernama aleph, hal-hal magis, yang membuatnya sadar bahwa kehidupan adalah ibarat kereta api. Ia bergerak dari satu titik awal menuju titik akhir. Yang bisa dilakukan adalah menikmati kekinian di meja makan bersama penumpang lain, daripada mengeluhkan guncangan yang pasti akan terjadi. Guncangan di sini didefinisikan sebagai masalah dalam kehidupan.

“…Bukan apa yang kaulakukan di masa lalu yang akan memengaruhi masa sekarang. Apa yang kau lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa depan”(halaman 21)

Dalam hidup, banyak orang perpikir untuk mengubah nasib dengan cara mengubah masa lalu. Membayangkan mesin waktu atau aleph yang akan membawa kita ke kehidupan sebelum ini. Akan tetapi semua itu adalah sia-sia. Seperti yang dijelaskan kalimat di atas, apa yang kita lakukan sekaranglah yang akan menebus masa lalu dan mengubah masa kini.

Akhir kalam, dari novel ‘Aleph’ saya berlajar untuk menghargai masa kini.

Sebuah momen yang sedang dan pasti terjadi.

Selamat Membaca. Selamat menikmati kekinian.

Ferry Fadillah

Bandung, 9 Mei 2013

, , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: