Sang Waktu

Di bawah atap di dalam rumah,

Aku berdiam tanpa bertingkah.

Di atas karpet di ruang tamu,

Aku melihat sebuah buku.

Di atas meja di dalam kamar,

Aku membaca dengan  samar.

 

Pada hari itu. Pada ruang dan waktu yang sama.

Aku membaca dan terus membaca.

Bahkan hingga membabi buta.

 

Mungkin khalayak nilai itu tiada guna

tapi sungguh, aku hanya ingin waktu bermakna.

Karena ketika hidup telah tiada,

waktu akan tertawa,

dan kita hanya bisa terpana.

Ferry Fadillah. Denpasar, 15 Desember 2012

***

Berulang kali orang menasihatiku untuk tidak terlalu tegang dan selalu rileks. Namun, mungkin karena bawaan, aku sulit menghilangkan itu semua. Prinsip-prinsip ku yang terkadang bertentangan dengan logika kesenangan, aku pahami, telah mengorbankan banyak hati. Karena dalam kamus hidupku, dunia ini adalah perjuangan, dan perjuangan menuntut pengorbanan.

Waktu berlalu dan ilmu bertambah. Aku merekonstruksi ulang prinsip-prinsip ku yang terlalu kaku. Aku mafhum, bahwa senang-senang adalah kecenderungan manusia; bahwa senang-senang adalah awal bahagia; bahwa senang-senang adalah awal dari persahabatan.

Prinsip kaku lawan prinsip kesenangan menghasilkan prinsip hybrid yang unik. Aku harus selalu senang, senang yang bermakna, tidak melulu tentang yang fana, tapi bagaimana menghargai sesama manusia. Anthroposentrisme. Itu kini prinsipku.

Dan semua itu disokong oleh pembelajaran berkelanjutan, yakni : membaca.

Iqro, kata Tuhan.

, , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: