Teater

Mencoba sesuatu yang baru merupakan kesenangan yang tak terhingga bagi saya. Apalagi, selama ini , lima kali dalam seminggu, saya selalu melakukan rutinitas membosankan yang saya yakini dapat melumpuhkan daya imajinasi dan kebebasan berpikir.

Oleh karena itu, siang kemarin (24/11), saya berkesempatan untuk menonton kompetisi pertunjukan teater di Gedung Dharma Wanita Lumintang, Denpasar. Kompetisi yang bertajuk “4th Equilibrium Theatre Competition” ini merupakan kompetisi teater SMA tingkat Nasional yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Tidak kalah gengsi, kompetisi ini digelar untuk memperebutkan piala Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Siang itu saya baru sempat hadir pukul 14.00 WITA. Atmosfernya berbeda sekali. Di sana-sini yang saya lihat anak SMA dengan gayanya yang muda. Panitianya pun muda-muda. Hal yang jarang saya temukan selama bekerja dua tahun di Pulau Dewata.

Begitu masuk ke dalam gedung lampu sudah padam. Ternyata pertunjukan sudah setengah berjalan. Dengan santai saya berjalan ke depan dan duduk di lantai. Panas, sumpek, bau itulah yang membuat saya tidak merasa nyaman. Namun, cerita yang membingungkan di depan panggung  membuat saya rela untuk berdiam diri dan menerka-nerka apa pesan yang akan di sampaikan para tokoh.

“Teater”

Setiap SMA dengan komunitas teaternya unjuk gigi satu persatu. Waktu itu hanya ada tiga pertunjukan teater yang saya tonton. Yang paling berkesan adalah pertunjukan terakhir. Pertunjukan yang berjudul Out karya Putu Wijaya dibawakan oleh komunitas teater Angin dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Denpasar. Dengan latar tempat kantor kepala lingkungan/desa. Teater Angin mampu menyuguhkan sebuah pertunjukan seni yang kaya makna namun tidak terjebak dalam monotonisme. Buktinya banyak penonton tertawa terkekeh karena lelaku para tokoh yang sedikit nakal. Di lain sisi, mereka dapat memotret kelakuan aparat desa yang ada-ada saja walaupun tidak dengan bahasa sarkasme.

***

Teater menurut beberapa budayawan merupakan wadah dimana permainan di rayakan dan kepura-puraan dipertontonkan. Di sana para tokoh dituntut untuk menjadi orang lain selama pertunjukan, ber-gesture, bersuara bahkan berjiwa seperti orang lain. Akan tetapi hal ini tidak menjadikan para pemain teater berubah sifatnya –menjadi orang lain dalam arti sesungguhnya.

Saya hargai, untuk menjadi orang lain berarti dituntut kemauan keras untuk berempati terhadap jiwa orang lain. Dalam lingkup dunia seni teater berarti pemain harus bisa mendalami jiwa sang tokoh. Ketidakmampuannya untuk manunggal dengan sang tokoh akan mengakibatkan datarnya pertunjukan.

Oleh karena itu, saya yakin bahwa dari mereka –para seniman teater- negeri ini akan dipenuhi pemuda-pemudi yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Mereka sudah terbiasa untuk berempati, menyatu dengan jiwa para tokoh. Sehingga mungkin saja mereka bisa ‘menyatu’ dengan penderitaan para kelompok yang termarjinalkan di negeri ini. Dari kepedulian muncul perubahan. Dan itu dimulai dari sebuah panggung teater. Semoga.

Ferry Fadillah
25 November 202
 
sumber gambar :www. whutzups.net

, , , , , , ,

  1. #1 by Putu Desy Mustikayani on June 29, 2013 - 20:36

    saya desy dari panitia etec,merasa sangat senang dan bangga membaca artikel dari Bpk. Ferry,, dan terimakasi sebelumnya.Kalau nanti ada waktu lagi di bulan oktober tahun ini tepatnya tgl 9-14 Oktober 2013 bisa datang ke gedung Ksinarnawa Art Centre lomba 5th Equilibrium Theatre Competition aklan digelar terimakasih.

    • #2 by Ferry Fadillah on July 2, 2013 - 09:25

      Terimakasih bu Desy.. Insya Allah saya mampir ke sana lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: