Fenomena Percenayangan

“Salah satu adegan dalam fim Dreed. Hakim Dredd (kanan) dalam pelaksanaan tugasnya memberantas kejahatan di Amerika dibantu seorang Hakim baru sekaligus cenayang bernama Cassandra Anderson (kanan). Hal ini merupakan salah satu media komunikasi agar dunia percenayangan dapat diterima dalam masyarakat tontonan”

Cenayang adalah pawang yang dapat berhubungan dengan makhluk halus, dukun yang dapat meminta bantuan atau mengusir jin (Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Tim Prima Pena)

Dalam arti yang lebih luas –setelah melihat fenomena sosial yang ada- cenayang dapat juga dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan khusus untuk melihat aura, mengetahui masa depan dan masa lalu, atau melihat peruntungan dan persialan.

Mereka tidak lagi diidentikan dengan dunia perdukunan yang pada umumnya dicirikan dengan penanda baju : hitam, tradisional, penuh atribut mistis. Kini mereka berbaur dengan masyarakat, hidup dengan fesyen populer seolah ingin menghilangkan sekat antara dunia percenayangan dengan masyarakat.

Ketika SMA dulu, di kota Bandung, saya menyaksikan sebuah pameran spiritual di daerah Dalem Kaum. Saya sangat terkejut. Ternyata para cenayang tidak sekonvensional yang saya kira. Mereka memiliki komunitas dengan struktur organisasi moderen. Mendapat izin dari pemerintah untuk buka praktik, bahkan memiliki jejaring solid antar negara!

Media promosi mereka pun semakin aktual. Sebut saja majalah Misteri yang selalu memberikan ruang untuk iklan percenayangan : jimat pengasihan, pelet sesama jenis, jual beli tuyul dan lain sebagainya. Beberapa malah menggunakan jejaring media sosial untuk lebih memudahkan promosi yang dapat menjangkau pasar anak muda. Dari usaha-usaha inilah jelas bahwa mereka –cenayang- berusaha untuk menghilangkan sekat dengan masyarakat, berbaur, manunggal dengan budaya populer.

Sebuah Kekhawatiran

Dari perspektif ekonomi, politik atau hukum tentu banyak orang merasa yang tertolong oleh bantuan mereka. Seperti keyakinan masyarakat kita bahwa : orang yang susah karirnya dengan jimat pengasihan dapat disayangi bos dan mendapat kedudukan tinggi di institusinya; orang yang akan kampanye pemilukada dengan rapelan mantra kuno dapat membuat orang terkagum-kagum atau tersihir; orang yang terlilit kasus korupsi dapat memerintahkan jin untuk menghilangkan berkas perkara di pengadilan dan lain sebagainya.

Terlepas dari benar atau tidaknya keyakinan itu. Masalahnya adalah -apalagi bagi saya yang beragama Islam dan cenderung kepada pengagungan akal-, hal ini dapat merusak cara berpikir masyarakat. Masyarakat jadi tercemari takhayul-takhayul yang sebenarnya tidak perlu diributkan. Misalnya, saat seseorang sakit bukannya dibawa ke dokter malah menghubungi orang pinter karena diduga terkena ilmu hitam, saat seseorang sulit ekonomi bukannya belajar bagaimana menjadi wirausahawan malah mendatangi dukun untuk mendapat jimat tertentu.

Okelah jika atas nama semangat demokrasi hal ini dikategorikan kepercayaan lain yang harus dihormati. Namun semakin populernya dunia percenayangan melalui persebaran media populer dapat dikhawatirkan merusak para anak muda nusantara yang pada umumnya dikategorikan masyarakat tontonan. Masyarakat yang menjadikan tontonan sebagai dasar pemikiran, bahkan kebenaran. Karena di TV, maka aku ada! Sebuah klausa yang menggambarkan bagaimana tontonan menjadi poros penggerak budaya populer, sumber pengetahuan bahkan logos kebenaran.

Menanamkan Budaya Rasional

Jika dicermati, budaya percenayangan bermula dari lingkungan keluarga. Masih ingat dalam ingatan saya ketika kecil dulu. Aa, jangan main maghrib-maghrib nanti diculik kalong wewe; Jangan duduk di pintu nanti jodohnya nenek-nenek; Jangan lewat disitu tanpa permisi nanti kesambet. Padahal semua jenis larangan itu bisa dirasionalisasikan, misalnya : Jangan main  waktu maghrib, adzan sudah berkumandang, itu seruan bagi kita untuk segera sholat, Allah tidak ingin hambanya menunda-nunda pelaksanaan sholat. Jelas, rasional, mententramkan.

Lembaga pendidikan harusnya menjadi motor penggerak bagi proses penanaman budaya rasional kepada kawula muda. Perpustakaan di lembaga pendidikan sebisa mungkin mengadakan acara bedah buku secara rutin, nanti di forum tersebut panita berusaha mengupas buku-buku percenayangan dan membandingkannya dengan kaidah agama, moral maupun hukum alam. Agar budaya rasional lebih merasuk lebih dalam lagi, kalau bisa peserta didik diwajibkan untuk membaca karya sastra yang isinya mengajak pembaca berpikir rasional, cerdas dan mencerahkan.

Guru –sebagai sumber ilmu yang hidup- harus dapat memberikan penjelasan-penjelasan ilmiah dari setiap fenomena fisik maupun budaya. Jika ada pertanyaan yang sulit untuk dijawab, lebih baik guru mundur selangkah untuk mengumpulkan data kemudian menjawabnya di lain kesempatan, daripada menjawab asal dengan mengkambing hitamkan dunia ghaib. Misalnya, dikaitkannya adzab Tuhan dengan bencana yang terjadi di suatu daerah atau kecelakaan buruh bangunan pada sebuah proyek karena adanya dedemit yang minta tumbal.

Akhirnya, keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, bahkan negara harus bersinergi dalam menanamkan budaya rasional dengan segala otoritas yang dapat setiap komponen lakukan. Dengannya negeri ini akan terus maju menuju peradaban tinggi, peradaban yang lebih mementingkan perbaikan kualitas hidup daripada syak wasangkan terhadap dunia ghaib –yang jelas-jelas tidak dapat kita indera.

Ferry Fadillah
Bandung, 15 November 2012
 
sumber gambar : http://review.ghiboo.com/dreed-perjuangan-sang-hakim

, , , , ,

  1. #1 by balabalahaneut on November 18, 2012 - 21:16

    oh iya tau yang ada jenglot itu yah?? ah saya juga pernah waktu anda kesana.. salam bala bala haneut..

  2. #2 by Komara on December 16, 2012 - 23:56

    Aku ingin cerita sedikit masalah cenayang dulu aku pernah bermimpi didatangin seorang perempuan dan dia sambil berkata dan menyebutkan namanya…namaku cenayang rambutnya panjang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: