Oceh Saya Tentang Novel Cinta

Pada suatu malam, saya bersama dua orang rekan kerja berbincang mengenai novel populer di zaman SMA. Dengan mata berbinar, rekan saya menceritakan novel-novel yang menarik minat mereka berikut pengarang dan respon pembacanya pada saat itu. Mendengarkan itu semua, saya heran, kenapa saya tidak dapati hal yang sama di zaman yang sama? Kemana saya? Hasil kontemplasi lebih lanjut dan melihat kembali koleksi buku ketika SMA, saya tertawa sendiri, ternyata koleksi buku saya didominasi filsafat, sosial politik, dan budaya. Untuk ukuran anak remaja, itu semua merupakan tema keaksaraan yang sangat dihindari dan ditakuti!

Diam-diam saya tertarik oleh novel yang dibincangkan malam itu, sebuah novel remaja karya Esti Kinasih, Dia, Tanpa Aku. Saya mencoba menghilangkan semua praduga mengenai dunia novel remaja yang penuh kelebayan. Lembar demi lembar saya nikmati dan ternyata saya menikmati novel itu! Walaupun ada beberapa hal yang perlu dikoreksi karena tidak sejalan dengan rasio, namun saya coba memaafkannya dengan berbicara dalam hati : ini fiksi bung!

***

Berjalan-jalan ke toko buku sudah seperti ekstasi yang tidak dapat dilewati. Saya melihat toko buku sebagai sebuah surga keberaksaraan, sayang perlu modal untuk menikmati itu semua. Terkadang, tanpa modal, saya hanya berjalan-jalan dan melihat buku yang sekiranya menarik.

Awal bulan oktober saya berkunjung ke sebuah toko buku di Denpasar. Ada tumpukan buku yang menarik hati saya. Kovernya sangat berwarna, ada empat orang dengan jenis kelamin yang berbeda berada di atas perahu kertas berwana merah. Saya ambil dan membaca judulnya : Perahu Kertas karya Dee. Sungguh, ketertarikan untuk membaca novel semacam ini merupakan sebuah keajaiban dalam hidup saya, namun karena ada rasa ingin tahu akhirnya saya mengambil buku ini dan langsung menuju kasir.

Tiga malam saya membaca novel populer tersebut. Responnya sama, saya menikmati setiap adegan yang digambarkan melalui kata-kata, perasaan saya bisa penulis campur adukan, putar balikan, sedih senangkan, hebat! Namun, ada beberapa hal yang kurang sreg, entah apa, mungkin saja saya yang anti kisah romantis, mungkin juga karena pradugaan awal saya yang mengkategorikan novel remaja populer sebagai novel lebay.

***

Mihali Csikszentmihalyi, di dalam The Evolving Self : A Psychology for Third Millenium, mengembangkan pemikiran yang menarik, tentang bagaimana perkembangan informasi mempengaruhi perkembangan diri. Csikszentmihalyi menggunakan istilah meme (baca: mem) untuk menjelaskan unit informasi budaya, yang berkaitan dengan istilah gen sebagai unit informasi genetik pada makhluk hidup. Istilah meme digunakan untuk membentuk manusia. Meme diciptakan secara sengaja dan sadar oleh manusia untuk satu tujuan tertentu. Akan tetapi sekali meme menjadi eksistensi, ia mulai bereaksi dan mentransformasikan kesadaran penciptanya dan manusia lainnya yang berhubungan dengannya (Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Diliipat : Tamsya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan)

Hubungannya apa dengan novel percintaan? Seperti meme, novel percintaan memproduksi meme cinta, sehingga ia mulai menggiring pikiran setiap orang untuk men-‘cinta’-kan segala hal, misalnya film layar lebar tentang cinta, serial televisi tentang cinta, komik tentang cinta, reality show tentang cinta, hubungan sosial tentang cinta, karya ilmiah tentang cinta, puisi tentang cinta, lagu tentang cinta dan seterusnya. Jadi, meskipun pada awalnya meme dibentuk oleh manusia , ia mulai berbalik dan membentuk pikiran itu sendiri.

Faktanya memang seperti itu bukan? Remaja di indonesia dimanapun dan kapanpun (sepengetahuan saya) selalu menjadikan cinta sebagai topik yang tidak ada habisnya untuk diperbicangkan. Variasinya berbeda tetapi meme asalnya sama : cinta!

Penyebaran meme cinta memang tidak bisa disalahkan melalui produksi novel semata. Novel hanyalah salah satu ‘rekan’ penyebaran, selebihnya ada media audio, visual, maupun audi-visual yang memiliki daya sebar masif dan cepat sehingga mengurangi daya kritis masyarakat untuk memilah mana yang berguna dan mana yang tidak.

Akibat fatal dari meme cinta yang mulai menghegemoni pikiran anak muda di tanah air adalah makin sulitnya ditemukan anak muda yang berkesadaran tinggi untuk melayani sesama, bangsa dan negara. Sulit menemukan relawan-relawan yang bersedia berbakti di bidang pendidikan mengajar di tempat terpencil, sulit menemukan relawan yang bersedia berbakti di bidang kesehatan membuka praktik di daaerah sulit akses. Walaupun ada, mereka semua tidak sebanding dengan jumlah pemuda indonesia yang jumlahnya jutaan itu!

Dalam tulisan ini, bukan berarti saya adalah orang yang anti cinta. Tetapi saya khawatir jika cinta sudah menguasai alam pikir kita semua, apa iya masih ada ruang untuk memikirkan sesuatu yang lebih mulia, yang transenden. Maka dari itu tepat jika saya kategorikan cinta menjadi dua, cinta yang bermuara kepada imanensi (yang dibahas dalam tulisan ini), dan cinta yang bermuara kepada transdensi.

Novel-novel cinta sejauh yang saya tahu hanya menggiring para remaja menuju wujud cinta yang bermuara kepada imanensi. Misalnya, pacaran, ungkapan cinta, puisi cinta dan sebagainya. Maka dari itu jangan heran jika anak-anak remaja selalu galau dan galau dalam perjalanan hidup mereka. Padahal usia produktif seperti itu bisa dibentuk menjadi lebih baik dengan stimulus kebudayaan, kearifan lokal, agama dan moralitas.

Akhir kata, sebelum ide dalam tulisan ini melebar saking banyaknya hal yang menjadi buah pikiran saya selama ini. Dengan hormat saya mengajak pembaca untuk mulai kritis menikmati komoditi budaya (novel dsb) yang disebarkan melalui citra kepopuleran. Semoga dengan kekritisan itu, meme cinta tidak akan menguasai pikiran kita, sebaliknya kita lah yang secara dominan menguasa meme cinta.

Semoga pikiran kita terserahkan. Amieen.

Ferry Fadillah
Denpasar, 20 Oktober 2012

, , , , , , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: