Lansekap Subak Catur Angga Batukaru

“hijau”

“takjub”

“konyol”

Yah, anak kota  -walaupun berasal dari desa- tetap saja kehidupan kota lebih dominan di dalam otak mereka. Dari pagi hingga malam hanya tembok, gedung, dan komputer yang mereka hadapi. Semua mati, tidak menyejukan dan membuat gersang jiwa.

Sesekali mereka keluar bersama kawan dan sahabat  menuju utara Bali yang masih tenang dan bersih. Tabanan tujuannya. Terhampar lansekap terasering yang menghijau, hijau yang berbeda dari sawah-sawah yang mereka temukan di Pulau Jawa. Di sini ada alam, kepercayaan dan sosial kemasyarakatan. Semua bersatu, saling melengkapi satu-sama lain. Tri Hita Kirana mereka sebut.

Bentang Lansekap Budaya Provinsi Bali : Sistem Subak sebagai manifestasi filosofi Tri Hita Karana, merupakan kesatuan kawasan yang meliputi Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur, Lansekap Subak dan Pura pada DAS pakerisan, Caturangga batukaru dan Pura Taman Ayun, telah ditetapkan dalam Daftar Warisan Dunia atas dasar Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Dunia. Penetapan dalam Daftar Warisan Dunia menegaskan bahwa kawasan budaya atau alam yang memiliki nilai universal yang luar biasa, layak mendapatkan perlindungan untuk kemanfaatan bagi seluruh umat manusia. (Tulisan pada Tugu UNESCO, Jatiluwih, Tabanan, Bali)

Ferry Fadillah
18 Oktober 2012

, , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: