Ketersinggungan

Perbuatan seseorang terhadap kita, semenjak itu tidak menyinggung prinsip-prinsip transenden yang kita anut dan pegang teguh dengan pedang dan amunisi, adalah hal lumrah yang patut untuk dimaafkan. Perasaan kesal sebagai reaksi dari aksi fisik maupun mental yang kita terima, jika direnungi, hanyalah terjadi di ‘dunia lain’, dunia tidak terbatas di luar realita yang kendalinya berasal dari akal kita.

Sebutan hati, tidak selalu merujuk sebagai organ biologis yang memiliki fungsi penetralisir racun dalam tubuh, namun sebagai kondisi kebatinan, sesuatu yang tidak dapat dilihat namun keberadaannya nyata karena dapat dirasakan dan dimanifestasikan  dalam artifak-artifak kebudayaan yang memiliki referensi struktural terhadap suasana kebatinan/hati tertentu.

Ketersinggungan bermula dari hati yang terluka (saya rasa kita semua sepakat dengan hal ini), akan tetapi para pemikir mengemukakan bahwa hati adalah sesuatu yang irasional, transenden serta tidak memiliki kebenaran absolut, selalu berubah-ubah tergantung suasana sehingga kedudukan akal ialah superior dibanding hati dan dapat dengan otoriter mengendalikannya.

Fakta-fakta di atas adalah hal gamblang yang kurang dipahami masyarakat umum. Masyarakat dimana ekspresi dari batin/hati dengan mudah diluapkan atau diekspresikan dalam berbagai macam aksi dan artefak tanpa mempedulikan peran akal yang memiliki fungsi penyaring : baik/buruk, estetis/anarkis. Sehingga anarki sosial, demonstrasi kontra produktif, terorisme dan tawuran antar pelajar/kampung sering terjadi namun tidak pernah bisa kita cegah dan hilangkan.

Bukan berarti hati harus kita transformaskan menuju titik nol, kematian, ketidak beradaan (nothingness), tetapi menempatkan hati secara struktur di bawah akal sehingga segala ekspresi sosial sebagai akibat dari proses mekanis-psikologis dalam hati (ketersinggungan, kegalauan dsb) dapat berwujud lebih produktif dan konstruktif.

Akhirnya, ketersinggungan adalah sesuatu yang akan selalu terjadi dalam kehidupan sosial di dunia. Mereka yang anti-ketersinggungan hendaknya hengkang dari bumi dan mencari surga yang katanya penuh kesempurnaan dan keagungan. Menempatkan akal atas hati adalah satu-satunya solusi untuk segala macam problem sosial yang berhulu dari ketersinggungan.

Kedepan, apabila setiap individu memiliki kecenderungan berpikir kritis dan logis, saya yakin negeri ini akan lebih stabil dan harmonis.

Ferry Fadillah
14 Oktober 2012

 

, , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: