Menggugat Nilai-Nilai Sendiri

Pertama saya sadar bahwa banyak sekali nilai-nilai hidup saya yang berubah. Penyesalan mulanya ada, tetapi ketika menimbang kembali saya baru tergugah bahwa nilai-nilai hidup adalah sesuatu yang dinamis, terus berubah seiring interaksi sosial dan pengetahuan yang diserap.

Bukan berarti saya orang yang tidak prinsipal, tidak memiliki sikap, tidak memiliki pendirian dan berubah-ubah sekehendak hati, nihilisme nilai. Namun saya paham bahwa kebenaran yang saya anggap benar (yang kemudian disebut nilai-nilai) adalah benar menurut saya saja atau benar menurut beberapa gelintir orang dari milyaran manusia di dunia ini, bisa jadi salah bisa jadi benar, apalagi sebagai orang beragama saya yakin bahwa kebenaran itu hanya berasal dari Tuhan.

Pertanyaannya adalah, apakah kebenaran dari Tuhan itu dapat kita ketahui dengan tepat padahal Tuhan bersemayam entah dimana, berbeda-beda bentuk sesuai persepsi kebudayaan masing-masing? Beberapa dari agama-agama di dunia memiliki klaim kebenaran masing-masing melalui kitab yang mereka pegang teguh, disebarkan dari mulut ke mulut atau budaya tulisan, dari para Nabi, Resi atau orang suci . Para umat agama didoktrin sedemikian rupa, dengan prosesi selama berabad-abad atau bertahun-tahun sehingga mereka –pada umumnya- kehilangan daya kritis terhadap apa yang mereka terima. Ini prinsip, beragama tidak bisa dibandingkan dengan rasio! Menurut beberapa orang yang mengaku agamawan.

Sayang beribu sayang, kebenaran-kebenaran ini jika tidak dikritisi akan menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai tertutup, nilai-nilai yang egositik, tertutup bagi pintu diskusi untuk mencapai konklusi yang lebih mendekati kebenaran. Dengan mudah kita label-melabeli, membawa nama Tuhan, tetapi budi pekerti tidak lebih jauh dari binatang buas.

***

Negara kita memiliki iklim demokrasi yang cukup baik. Dalam sebuah bingkai demokrasi kebebasan berpikir adalah hal yang harus dijamin oleh negara, selama tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain atau dalam kata sederhana kebebasan yang bertanggung jawab.

Kebebasan yang bertanggung jawab berarti nilai-nilai yang kita pegang seyogyanya dibandingkan dengan prinsip oposisi untuk mencapai kebenaran sejati. Yang diharapkan dari praktik ini adalah kita, umat manusia, menjadi makhluk yang tidak terikat otoritas apapun dari luar dirinya, takhayul, adat yang mengekang, otoritas pemerintah, ketakutan akan kesialan dan lain sebagainya. Manusia menjadi pemikir-pemikir yang secara sadar memilih jalan yang mereka tempuh, bukan manusia-manusia yang dikuasai jalan-jalan yang sudah ditentukan manusia lain tanpa mengetahui kenapa harus memilih jalan tersebut.

Kemerdekaan sudah kita genggam, lantas mengapa masih saja kita abai untuk memanfaatkannya. Duduk  santai dalam lamunan masa kolonialisme-keterkekangan, perbudakan, penghambaan.

Ferry Fadilah
25 Oktober 2012

, , , , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: