Perjalanan Menakjubkan : Nusa Penida, Nusa Lembongan

Perkenankanlah saya bercerita sedikit tentang sebuah perjalanan wisata yang tak terlupakan.

Bosan setelah mengitari Pulau Bali secara rutin (sabtu, minggu, atau hari besar lainnya) saya mulai tertarik untuk mengunjungi sebuah pulau kecil di tenggara pulau Bali yakni Nusa Penida. Pulau yang secara administrasi masuk ke dalam wilayah Kabupaten Klungkung ini sangat berbeda dengan daerah Bali pada umumnya. Di sini lah saya menemukan suasana Bali yang lain daripada yang lain.

***

“Deretan Perahu Nelayan di Nusa Penida, Klungkung, Bali”

Lebih kurang dua jam perjalanan dari Tuban, Badung menuju Pelabuhan Padangbay menggunakan motor, saya dan teman-teman harus rela antre membeli tiket penyebrangan ke Nusa Penida. Maklum pada saat itu banyak sekali masyarakat Bali yang akan ke sana. Dilihat dari pakaian dan barang bawaan, mereka sepertinya akan sembahyang bersama keluarga.

Entah mengapa, kapal ferry yang kami tumpangi sangat penuh sesak. Orang-orang duduk dimana-mana, bahkan ada yang tidur di depan kamar kecil, namun tetap hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk mengorek lebih lanjut pulau di hadapan kami. Solusi dari permasalahan ini hanya satu, tidur pulas tidak mempedulikan sekitar.

Satu setengah jam sudah kami terombang-ambing di selat Bali yang indah dan tenang. Sesampainya di Nusa Penida kami terheran-heran. Sepi sekali Pulau ini. Dimana penginapan? Dimana pusat perbelanjaan? Tidak mau terbelit pertanyaan anak kota, kita langsung tancap gas menuju ke arah utara.

Berdasarkan peta Provinsi Bali yang selalu saya tempel di kamar tidur, Nusa Penida memiliki tiga potensi wisata, pantai yang masih perawan, tebing ekstrim yang mengagumkan dan air terjun yang indah. Akhirnya, kami sepakat untuk mencari air terjun terdekat dengan modal : bertanya kepada penduduk sekitar.

Mata Air Guyangan

Sudah kurang lebih setengah jam kita berjalan menuju arah yang sama sekali tidak kita ketahui. Bertanya dari satu desa ke desa lain dan pada akhirnya tibalah kami pada jalan buntu dengan gapura kecil yang menantang untuk dimasuki.

“Pemandangan dari pintu masuk Mata Air Guyangan, Nusa Penida”

Herannya, tidak ada sepanduk tempat wisata di sini, tidak ada pedagang souvenir, tidak ada petugas penjaga. Kami dekati lagi tulisan kecil di atas gapura, di sana tertulis JALAN INSPEKSI MATA AIR GUYANGAN. Mata air? Jadi selama ini yang dianggap air terjun adalah mata air ini. Tidak mau saling menyalahkan kami segera masuk ke dalam gapura.

Alangkah terkejutnya kami ketika melihat pemandangan yang ekstrim. Laut lepas yang begitu indah, dan ternyata kita berada di atas tebing curam. Satu-satunya jalan untuk menempuh mata air adalah dengan menyusuri tangga besi curam yang dibuat ‘tidak ramah wisatawan’. Dengan tekad baja dan hati besi kami telusuri jalan inspeksi tersebut, rasa takut, dan cemas, selalu saja dapat kami atasi ketika melihat pemandangan menakjubkan dari setiap sudut. Tentu saja kami masih bisa mengabadikan momen tersebut dengan kamera.

Mata Air Buyangan sendiri tidak lebih dari sebuah mata air, tidak kurang tidak lebih. Yang kami syukuri dari perjalanan ini adalah proses untuk menuju mata air ini. Penuh perjuangan dan kecemasan. Sehingga keheranan kami  di gapura masuk sudah terbayar. Namun satu hal yang masih mengusik hati kami, ‘Apa benar tempat ini lokasi wisata?’

Nusa Lembongan

“Bungalow tempat kami menginap”

Matahari sudah akan terbenam, kami bergegas menuju Toyapakeh, utara Pulau Penida, disana kami berencana menyimpan motor dan melanjutkan perjalanan ke Nusa Lembongan menggunakan jukung. Dengan biaya Rp 100.000,00 per orang, seorang penduduk setempat mengantar kami sampai ke bawah jembatan antara Pulau Lembongan dan Ceningan. Sayang waktu itu malam, kami tidak dapat menikmati keindahan laut di antara dua pulau ini, yang dapat kami lihat hanya gelombang ekstrim dan ikan yang meloncat-loncat.

Di Pulau Lembongan kami menggunakan jasa ojek untuk mencari penginapan terdekat. Karena momen tersebut harus dijadikan momen terindah (dalam sejarah kepariwisataan kami), kami memutuskan untuk menginap di sebuah bungalow yang terbuat dari kayu. Dengan harga nego Rp 250.000 per malam, sang empunya mempersilahkan kami masuk dan merebahkan diri.

Keesokan harinya, kami semua malas untuk bangkit, maklum suasananya begitu tenang, tanpa ada polusi udara. Kami habiskan waktu di sini untuk berenang, membaca buku, dan ngobrol ngalor ngidul. Tidak lupa juga kami mengunjungi Pantai yang terkenal di sini, Mushroom Beach.

Sepintas pantai ini mirip dengan Pantai Balangan di Nusa Dua, Bali. Namun tentu saja berbeda jika kita lihat lebih jauh. Terlepas dari itu semua, poin tambah dari pantai ini adalah tingkat pengunjung yang masih rendah, sepi, sehingga anda dapat berjemur ria atau berfoto ria tanpa harus malu dilihat orang.

Kembali ke Bali dengan Jukung!

“Terima kasih bapak-bapak!”

Puas sudah rasanya kami di Pulau kecil tersebut dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Nusa Penida. Ini hari minggu pukul 12.00 WITA dan kami harus segera ke pelabuhan untuk membeli tiket ferry. Nahas, pelabuhan sepi, tidak ada penumpang maupun kapal. Usut punya usut ternyata kapal ferry menuju Bali rusak di Lombok dan kapal tersebut baru bisa beroperas besok pagi, hari senin!

Mungkin beberapa kawan memiliki integritas tinggi terhadap pekerjaan, dengan tergesa-gesa kita mencari speedboat terdekat. Sialnya, semua speedboat tidak menerima kami membawa motor. Ini hanya untuk penumpang bung!

Untungnya seorang ibu pedagang nasi menyarankan untuk menyewa jukung. Waktu itu kita banyak pertimbangan, apalagi setelah melihat kondisi air laut yang mulau bergelombang. Tapi entah mengapa, kita semua sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bali melalui laut bergelombang menggunakan jukung.

Penduduk sekitar membantu kami mengangkat dua motor ke dalam jukung. Jukung oleng, pun motor kami, mau tidak mau kami harus memegangi motor sampai ke tujuan. Dengan bismillah, kami berangkat.

Ternyata benar, ombak begitu besar, kami pasrah, mau berbuat apa lagi. Air laut terciprat ke wajah kami, sesekali masuk ke dalam jukung. Kami pegangi terus  motor kami, agar tidak nahas jatuh ke laut.

Setelah beberapa menit perjalanan kami sedikit lega, ada pantai di sana! Beberapa orang dengan sigap menanti kedatangan kami, membantu mengangkat motor dan barang bawaan terakhir menagih bayaran atas jasa mereka.

“Dimana ini pak?”, tanya kami.

“Pantai Kusamba, mas”

Ferry Fadillah
Bali, 14 September 2012
 
Foto-foto:
“Tangga terjal menuju Mata Air Buyangan, Nusa Penida”

“Jembatan Kuning yang menghubungkan Pulau Ceningan dengan Pulau Lembongan”

 

 

 

, , , , , , ,

  1. #1 by fasyaulia on September 16, 2012 - 01:05

    Tagged nya tambahin Indonesia dong, supaya orang kalau searching nemu ini🙂

  2. #3 by Putu Dama Artlight on October 31, 2012 - 16:28

    fascinating journey…. let me know for an empty seat on your next exploration…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: