Sampah di Kota Bandung, Parah!

Pasca Hari Raya Idul Fitri Tahun 2012, setelah silaturahim keliling seperti adat kebanyakan masyarakat indonesia, saya iseng mengunjungi Jalan Merdeka, Bandung. Niat awal memang ingin menikmati keindahan kota Bandung yang dijuluki kota kembang tetapi kemudian perjalanan berubah menjadi penelitian kecil saya terhadap masalah kronis kota ini.

“Tumpukan sampah di saluran air sepanjang Jalan Merdeka, Bandung (28/08)”

 Perhatian utama saya adalah sampah. Di saluran air sepanjang Jalan Merdeka, terlihat tumpukan sampah organik dan anorganik yang menyumbat saluran air. Air yang hitam pekat disertai gelembung-gelembung menjijikan meperlihatkan dengan jelas kepada kita bagaimana budaya kebersihan penduduk sekitar Jalan Merdeka. Walaupun kiranya haram bergeneralisasi, namun dibeberapa titik kota Bandung seperti sungai-sungai yang melintas di Kecamatan Antapani, Margahayu, Cikapundung dsb penampakan yang sama dapat terlihat dengan jelas bahkan dalam skala yang lebih besar. Saya jadi teringat ketika SMP dulu saat bermain di bantaran Sungai Cidurian, Antapani, air selalu berubah warna, kadang merah, kadang hijau dan setelah beberapa tahun semenjak itu, hingga saya bekerja saat ini, penampakan itu masih ada, bahkan tambah parah! Apa iya ini kota yang pantas dijuluki Kota Kembang ?

 Ditilik dari dimensi kebudayaan. Daerah Pasundan terkenal dengan nama-nama daerah berawalan Ci yang artinya air dalam bahasa indonesia, seperti Cikoneng, Cicadas, Cicaheum, Cimahi, Cimanuk dsb. Hal ini menunjukan bahwa leluhur sunda memiliki penghormatan khusus terhadap air.  Dalam kata lain, air merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan masyarakat sunda pada masa itu, dan tentu saja pada masyrakat lain di dunia. Namun kenapa teori yang ada berbeda dengan fakta di lapangan ? Masyarakat Sunda seolah-olah telah melupakan kearifan leluhur mereka!

 Suatu saat saya membaca karya tulis seorang budayawan Sunda, Ajip Rosidi, ternyata beliau juga memiliki kegusaran yang sama akan makin semerawutnya Kota Bandung utamanya dalam hal kebersihan, seperti yang beliau tulis sebagaimana berikut :

                   …Kesemrawutan kota Bandung yang pernah mendapat julukan Paris van Java itu merupakan cermin Tanah Sunda secara keseluruhan.

Karena sebelum berkeliling di Tatar Sunda, saya terlebih dahulu berkeliling di Jawa Tengah (terutama sepanjang Jogjakarta-Purwokerto lewat Wonosobo), maka timbul kesan bahwa keadaan di Jawa Tengah jauh lebih terpelihara dan lebih bersih. Kesan demikian niscaya akan menyebabkan sebagian orang Sunda naik pitam, karena selama ini di kalangan orang Sunda ada anggapan bahwa orang Sunda lebih “berseka” (gemar akan kebersihan dan kesehatan) daripada orang Jawa…

Saya sendiri selama dalam perjalanan selalu bertanya-tanya dalam hati, “Apakah memang ada kemajuan dalam hal kebersekaan pada orang Jawa dan kemunduran pada orang Sunda?… “(Ajip Rosidi, Safari Sebelas Hari, dalam buku Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda)

Kalau begitu apa solusi atas kekacauan yang telah kita (masyarakat sunda) perbuat? Seperti banyak pendapat ahli, bahwa pendidikan merupakan faktor utama pembentuk karakter  bangsa sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan kita telah gagal memproduksi peserta didik yang berwawasan lingkungan. Saya jadi teringat ketika SMA dulu,  ada muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup yang materinya menitikberatkan kepada pemahaman Perda Kota Bandung tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan, pada saat itu jarang sekali saya mendapat praktik langsung pengelolaan sampah, yang ada hanyalah kewajiban untuk menghapal pasal-pasal berikut denda atas pelanggaran yang dilakukan. Membuang sampah di saluran air sekian rupiah, membakar sampah sekian rupiah, kencing sembarangan sekian rupiah. Pertanyaannya kemudian, apakah menghapal dapat menyelesaikan masalah lingkungan di Kota Bandung yang semakin parah? Tidak, jelas tidak!

Oleh karena itu, pendidikan Lingkungan Hidup seharusnya menitikberatkan kepada kegiatan praktik yang terprogram, terorganisir dan konsisten. Sehingga dari praktik ini, peserta didik akan menjadikan pemeliharaan lingkungan sebagai kebiasaan hidup yang kelak akan menjadi watak yang tidak bisa dihilangkan. Jumat Bersih digalakan kembali, membersihkan sungai-sungai sekitar sekolah setiap sabtu, menciptakan teknologi pengelolaan sampah dalam lingkup sekolah, sosialisasi pentingnya kebersihan kepada masyarakat sekitar  kiranya beberapa contoh langkah yang harus segera dilakukan peserta didik kita di sekolah. Jika tidak maka beberapa tahun kemudian kita hanya akan melihat para cendikiawan muda yang pandai berbicara mengenai lingkungan tetapi nihil dalam upaya mewujudkan lingkungan yang bersih dan ramah terhadap manusia.

Ferry Fadillah
Bali, 30 Agustus 2012

, ,

  1. #1 by fasyaulia on August 30, 2012 - 22:34

    Iya di beberapa titik, parit-parit nya kotor banyak sampah. Kadang suka sampe bau menyengat😐
    Eh iya rumahnya di Antapani? deket dong sama saya bahahaha =))

    • #2 by Ferry Fadillah on August 31, 2012 - 08:35

      nah itu dia bandung.. haha
      Iya deket jalan subang.. loh? sama yah.. disebelah mananya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: