Kekecewaan atas Kelompok Intoleran

Perbedaan menurut beberapa orang adalah sebuah anugerah. Saat dimana kita dituntut untuk mengenal satu sama lain, tidak memaksakan kehendak dan memahami dunia dengan perspektif yang lebih luas. Namun ada kalanya perbedaan menjadi buah dari malapetaka, terutama jika sudah berada ditangan orang-orang yang tidak tercerahkan, intoleran, egois dan berpikir terlalu sempit.

Ialah perbedaan puasa yang menjadi kegusaran itu. Semua orang memiliki klaimnya masing-masing. Merasa paling benar, merasa bahwa opininya adalah kebenaran itu sendiri. Padahal sejatinya, opini dengan dalih ayat, hadist atau ilmu astronomi apapun bukanlah kebenaran itu sendiri. Itu semua hanya petunjuk menuju kebenaran, dan ketika kebenaran itu muncul kita harus rela untuk meninggalkan segala ayat, hadist atau ilmu astronomi yang kita/kelompok kita agung-agungkan.

Dan bukankah sulit untuk melihat kebenaran itu bukan ? ya memang sulit, dan ketika kita paham benar bahwa kebenaran adalah hal yang sulit untuk diangkat kepermukaan maka kita akan paham sebuah kaidah dasar : aku belum tentu lebih benar daripada engkau, dan engkau belum tentu lebih benar daripada aku. Semua mencari kebenaran, dan dalam perjalananan itu apa gunanya saling menghakimi bahkan mencederai perasaan satu sama lain.

Dalam kata-katanya yang indah para pemuka agama selalu saja  menggemborkan masalah toleransi di balik setiap perbedaan. Namun dalam ranah yang lebih rendah, masyarakat kebanyakan, perbedaan merupakan sebuah cela yang tidak dapat dibiarkan. Entah latar belakang pencerahan yang rendah atau apapun, tekadang kita lihat sekelompok orang yang mencela sekelompok orang karena perbedaan keyakinan dalam satu agama atau beda agama.

Entah bagaimana menyuntikan hormon toleransi ke dalam benak setiap orang agar dunia ini lebih damai lagi menghadapi masa depan yang tidak pasti. Cukup sudah bentuk kekecewaan minoritas terhadap mayoritas yang selalu mengedepankan ego ketimbang toleransi. Sampai kapanpun bentuk-bentuk cela terhadap keyakinan tertentu akan selalu menuai reaksi, keras maupun moderat, dan pada titik penyesalan tertentu mereka yang merasa lebih benar harus berani berkontemplasi dan memohon maaf atas semua kekeliruan selama ini.

Ferry Fadillah
Badung, 21 Juli 2012

, , , , ,

  1. #1 by balabalahaneut on July 21, 2012 - 17:01

    Super sekali, bagaimana jika jalan tengahnya dengan tidak berpuasa saja..

    • #2 by Ferry Fadillah on July 21, 2012 - 17:07

      saya tahu siapa anda.. hahaha.. tidak berpuasa lebih para bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: