Sahabat

Setiap hari mustahil kita tidak berkomunikasi dengan beranekaragam individu. Perbincangan ringan hingga serius terus saja bergulir, dari senin sampai minggu, dari minggu sampai senin lagi. Dari berbagai macam bentuk komunikasi, kita dapat memahami orang dengan penilaian-penilaian kita sendiri, dari sana dapat dibedakan mana rekan kerja, mana teman main, mana sahabat dan mana kekasih.

Saya ambil ‘sahabat’ sebagai pokok bahasan berikutnya. Mengapa ? karena kata sahabat selalu menjadi rujukan kisah-kisah klasik SMA, bentuknya belum jelas, absurb, selalu saja disesuaikan dengan nilai yang dianut tiap-tiap individu. Namun demikian, saya akan membahas sisi lain dari persahabatan.

Bagi sebagian besar orang, sahabat adalah seorang kawan yang diposisikan lebih. Ia tempat berbagi segala sesuatu, menumpahkan rasa, asa, suka dan duka. Tempat menampung segala aspirasi, ide dan argumen. Dengan keberadaannya kita menganggap diri kita exist/ada. Karena hukum keterikatan yang kita buat sendiri. Ia senang, kita senang. Ia sedih, kita sedih, Satu asa, satu jiwa.

Dalam angan-angan kekanakan mungkin saja kita membayangkan sahabat kita akan selalu berada dalam kehidupan kita. Sesudah atau sebelum menikah. Lantas, apa iya semua itu ada, sahabat sejati itu ada?

Sahabat adalah manusia yang memiliki alam berpikirnya sendiri. Sesenang bagaimana pun kita menyamakan diri kita dengan sahabat. Pasti ada banyak alam berpikir yang berbeda. Belum lagi alam berpikir merupakan sesuatu yang dinamis, terus berubah mengikuti stasiun sosial dan tingkat kesadaran. Dalam beberapa bulan atau tahun kedepan, sahabat yang kita kenal saat ini, pahitnya, bisa jadi berubah derastis, menjadi benci bahkan musuh bagi kita.

Semua pasti berlalu, kata yang sering saya dengan ketika Ajahn Brahm bercerita dalam buku ‘Cacing dan Kotoran Kesayangannya’. Intinya semua tidak ada yang abadi. Ya jelas, harapan kita sebagai manusia adalah kita memiliki persahabatan abadi yang tidak lekang oleh waktu. Namun jika hukum alam sudah berkata lain maka apa daya kita manusia yang penuh keterbatasan ini.

Bagaimana menyiasati hal ini?  adalah benar konsep kemelekatan diapresiasi sebagai solusi bagi dinamika persahabatan. Ketika kita bersahabat jangan sampai kita terlalu melekat kepada sahabat kita. Kita harus menjadi individu independen yang suasana hati, pikiran dan kebahagiaannya tidak melekat terhadap suatu hal apapun. Kasarnya, ada atau tidak ada sahabat, kita harus tetap bahagia.

Namun hal ini jangan disalah artikan, jangan sampai kita menjadi apatis terhadap pintu persahabatan. Bukalah pintu persahabatan, bukalah. Nikmatilah suasana berbagi, susah senang bersama, tertawa bersama, namun hanya pada saat ini, untuk saat ini. Karena masa depan hubungan dengan sahabat kita masih diselimuti kabut misteri.

Jika usaha kita untuk membuka pintu persahabatan yang tulus telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Biarlah Tuhan yang menjalankan tugasnya, untuk merekatkan kita atau merenggangkan kita. Yang pasti niat yang baik akan berbuah hidup yang baik, niat yang buruk akan berbuah hidup yang buruk. Berbaik sikaplah kepada sahabat kita saat ini, anggap ia saudara kita, berbagi lah, dan Let God do the rest for us.

Kabupaten Badung, 30 Juni 2012
Ferry Fadillah

, , ,

  1. #1 by fasyaulia on July 20, 2012 - 01:00

    Saya baru ngerasa paham arti sahabat + nemu sahabat setelah kuliah. Bukan jaman-jaman SMA kaya Ftv😛
    Tapi ya bener juga tulisan di atas semuanya gada yang abadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: