Setelah kaya lalu apa ?

Banyak orang berkata, ‘dengan harta maka kita akan menduduki strata sosial yang lebih tinggi’.  Saya balik bertanya,  ‘Setelah itu kita dapat apa ?’

Terpujilah mereka yang membagikan harta mereka untuk kesejahteraan sesama. Jiwa mereka subur dan bercahaya. Tetapi bagi mereka yang menganggap bahwa harta itu sebagai syarat utama kebahagiaan, bahkan beranggapan dapat dibawa sampai ke liang lahat, angkuh dan kikir, maka keringlah jiwa mereka, dari persaudaraan, persahabatan dan butiran kearifan hidup.

Persaingan ? Ya perlu untuk memotivasi kita menuju manusia yang lebih baik. Menjadi manusia unggul yang saling beriringan dengan manusia lain membentuk beradaban tinggi yang kelak menghapus segala air mata kesulitan di muka bumi. Namun kini persaingan menuju titiknya yang ekstrim. Manusia tidak lebih macan yang haus daerah kekuasaan, saling terkam kawan bahkan saudara sendiri. Apa yang sebenarnya  mereka cari dari persaingan bentuk ini ? Luluh hancur menjadi debu, kala kita kalah atau dikalahkan, bukan ?

Kemana bentuk asah asih asuh yang ideal itu ? Dimana manusia yang saling menghormati satu sama lain, saling mencerdaskan, saling menyayangi dan saling menjaga.

Duh, manusia. Kekayaan kita, persaingan kita, mari direkonstruksi dengan semangat persaudaraan tanpa memandang strata sosial dan menghilangkan keuntungan finansial sebagai pucuk visi kehidupan.

Sejahtera dan damai bagi manusia semua.

Ferry Fadillah
Bali, 5 Mei 2012

, , , , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: