Imajinasi menghadirkan Tuhan

"Imajinasi Tuhan dalam Materi"

Pertama, maafkan saya atas beribu libido yang tidak bisa saya kendalikan sehingga, tanpa mengurangi keagungan eksistensi Tuhan di dunia ini, saya dengan lancang melanggar tabu, norma dan kode sosial dalam kesendirian.

Pertanyaan saya sederhana : mengapa hasrat / libido sulit dikendalikan walaupun sel otak telah dipenuhi jutaan konsep, dogma dan ide mengenai dampak teologis dan sosial dari suatu perbuatan (terpuji/tercela)?

Setan/Iblis ? Terlalu jauh menurut saya untuk mengkambinghitamkan bangsa mereka. Bukankah pergolakan anatara akal dan hasrat terjadi di dalam diri kita sebagai subjek dan terlepas dari peran subjek (fisik/ghaib) lain dari luar diri kita ? Karena haikatnya : Diri kita (akal) adalah kuasa diri kita (subjek)

Herannya, dalam berbagai kasus kontemporer khususnya yang berkaitan dengan hasrat, dalam peperangan antara akal dan hasrat, hasrat sering mengalahkan akal. Wacana khilaf, kerasukan, mabuk dan seterusnya menjadi benteng terakhir untuk merasionalisasi kalahnya akal oleh hasrat ini.

Melihat lemahnya akal melawan hasrat, dalam seiap pertempuran tentu dibutuhkan senjata bagi akal untuk mengubah posisinya selama ini. Persoalannya adalah senjata apakah yang dapat membantu akal ? bentuknya, materikah atau non-materikah ?

Akal dalam persepsi umum tergolong unsur non-materi, abstrak, tidak terjabarkan. Maka yang non-materi seharusnya dipasangkan/dipadupadankan dengan yang non-materi. Lalu apa senjata non-materi itu ? Dalam sebuah konsep agama, kita mengenal kata IMAN, sebuah tanda yang terdiri dari 3 unsur yang saling dan harus sinergi : ucap, hati dan laku.

Saya berucap ‘saya percaya Tuhan’, Saya meyakini ‘Tuhan itu ada’ dan saya berlaku seolah-olah Tuhan itu mengawasi. Lalu korelasinya dengan pengendalian hasrat ? Perhatikan frasa ke-3 : saya berlaku seolah-olah Tuhan itu mengawasi. Ia hadir, walaupun dalam imajinasi kita, mengawasi, melihat tiap mm kehidupan kita sehingga kita malu melakukan perbuatan yang melanggar norma, agama atau tabu, dalam kata lain perbuatan yang memposisikan akal kita inferior dibanding hasrat.

Ia- kita hadirkan dalam imajinasi kita padahal Ia adalah exist/ada secara nyata namun Ia non-materi, tidak dapat terdefisinikan dalam dunia transenden, maka imajinasi kitalah satu-satunya alat untuk  ‘menghadirkan Tuhan’ dalam segala pergolakan hasrat dengan akal.

Imajinasi menghadirkan Tuhan kiranya senjata yang diperlukan itu.

Kab. Badung, 1 Mei 2012

sumber gambar : http://justinachilli.com/2011/01/04/oh-god/

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: