Cita-Cita dan Kebebasan

Ilustrasi : pantai suluban, bali. (doc. pribadi)

Ia terduduk di atas karang, dihadapannya ada lautan yang bergitu luas, dengan ombak yang begitu besar, seolah-olah ingin menggaruk pinggiran daratan yang terdiri dari karang-karang yang keras. Langit begitu gelap, hujan turun rintik seolah menangisi bumi yang kian hari semakin rusak oleh perbuatan manusia.

“ah malang sekali hidup ku, memandang luasnya alam semesta tetapi tidak lebih dari katak dalam tempurung”, ia menghela nafas panjang, lalu menunduk dalam, menangis ia dalam batin tapi air matanya sudah surut tidak pernah bisa keluar lagi.

Cita-cita nya besar, dahulu. Tapi kemudian ia menggandaikannya karena iming-iming stabilitas ekonomi, padahal kini ia tidak lebih dari seekor sapi perah yang diperas para pemangku kepentingan. Ia dituakan oleh keadaannya sekarang, padahal ia masih muda, sangat muda bahkan untuk ukuran para pekerja zaman sekarang.

“aku ingin sekali bebas melanglang buana ke seberang lautan itu, menemui banyak orang, banyak budaya dan belajar banyak darinya, tapi kenapa harta, waktu, dan orang-orang sekitar ku seolah mengutuku atas perbuatan yang bukan dosa itu”.

“Hey ! Sudahlah, untuk apa kau  menggerutu seperti itu sendirian di sini ?”

 “Apa? Siapa kau ? mengapa kau tiba-tiba di sini, aku sedang ingin sendiri !”

 “Bodoh ! Aku ini kamu, aku ini kamu, aku dan kamu adalah sama, aku!

”Diam kau dengan segala teori-teori filsafat bodohmu itu, aku pusing dibuatmu!”

”kamu memang bodoh, sudah lama hatimu beku kawan !”

Tiba-tiba, ia merasa ada kehangatan yang berdesir di balik hatinya. Benar, sudah lama ia tidak merasakan hangatnya memaknai kehidupan ini dengan cinta, persahabatan dan petualangan. Bukan karena ia juga sebenarnya tapi karena rutinitas hariannya lah yang membuatnya seperti itu. Kaku dan membeku.

“kalau begitu siapa kau sebenarnya ?”

 “Aku adalah kamu, aku adalah cita-citamu yang terkubur dahulu sekali, tapi kini aku bangkit karena ada sinyal bahwa kau masih membutuhkan aku lagi kawan”

”ya memang aku sangat berharap cita-cita ku dahulu tercapai, itu dulu kawan, sekarang semua telah berubah”

”Apa yang berubah ? kau tetap engkau, tidak berubah, ayolah kau pikirkan baik-baik, hidup ini hanya sekali, apa kau mau hidup yang sekali ini kau habiskan dengan rutinitas yang biasa saja, apa bedanya kamu dengan mereka-mereka itu !”

Denyut jantungnya semakin kencang, ia ingin sekali keluar dari pekerjaannya tapi ia takut mereka yang ia kenal mengutuknya habis-habisan. Kepala nya pusing, ia berdiri lalu berjalan lunglai menuju ombak yang mengganas.

“ah, beri aku waktu cita-cita ku, aku butuh waktu untuk berpikir!”

Belum selesai ia mengambil keputusan, angin kencang bertiup menampar tubuhnya, ia tidak bergeming, tapi lautan yang diterpanya mengirimkan ombak besar yang menggulung-gulung. Ia tidak kuasa menahannya, tubunya terhembas  ke karang yang tajam, lalu terseret ke lautan dalam. Ia meronta kesakitan, semua yang ia lewati ia coba raih, tapi sia-sia, semua berlalu begitu cepat.”Ah apa dosa ku Tuhan, aku belum siap untuk sebuah kematian”

***

Langit kembali cerah, secerah harapan para pemuda yang ingin membahagiakan orang tuanya. Tiba-tiba saja pesisir pantai yang tadinya tenang dikejutkan oleh sebuah penemuan. Mayat lelaki yang terbujur kaku. Semua orang mengerubunginya seperti semut, ada yang bersedih ada pula yang acuh tak acuh. Tapi yang jelas, ada mimik damai dalam wajah sang mayat, senyum tersungging di wajahnya, ia seakan tertidur dalam pelukan Tuhan. Karena semua tahu, kini ia telah terbebas dari jerat dunia yang begitu menyiksa.

Badung, 27 Juni 2011

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: