Tugu Kematian

"bukankah mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan dunia ini, lalu ketika itu mereka yang mencari kebahagiaan dari dunia akan mencari kebahagiaan dari mana lagi ?”

Waktu itu langit begitu cerah, secerah wajah orang-orang yang berfoto ria di depan tugu itu. Semua seolah melupakan kejadian beberapa waktu silam. Sebuah kejadian yang jika direnungkan bisa saja terjadi kepada siapapun dan dimanapun di dunia ini.

***

“Kau tahu tugu apa itu ?”

“entahlah, tapi kenapa ada deretan nama-nama di sana, dan kenapa ada karangan bunga di sana, seolah ada pertanda akhir dari mereka yang terpampang namanya di sana”

“tepatnya itu adalah tugu kematian”

“wah! Lantas mengapa mereka yang berziarah begitu sumringah berfoto-foto disana. Apa mungkin mereka sudah merasa tidak takut lagi ketika jiwa harus meninggalkan raganya?”

“Entahlah, aku tidak tahu, karena hati hanya yang memiliknya dan Tuhannya lah yang tahu”

“Aku mendapat kabar, katanya sekitar sini adalah tempat dugem yang begitu terkenal oleh wisatawan asing di malam hari. Ratusan orang tumpah dalam naungan musik R & B, lantas botol minuman keras selalu mereka pegang dan tenggak di manapun, tidak jarang ada tempat yang sengaja memajang wanita sexy untuk memikat para tamunya, dan sialnya mereka berdalih untuk mencari kebahagiaan hidup !”

“Kebahagiaan hidup ? ah, apa mesti kebahagiaan hidup itu dicari dari dunia, bukankah mudah bagi Tuhan untuk menghancurkan dunia ini, lalu ketika itu mereka yang mencari kebahagiaan dari dunia akan mencari kebahagiaan dari mana lagi ?”

“Entah lah, kawan. Tapi yang jelas sebenarnya Tuhan telah memperingatkan mereka melalui tugu yang tadi kau sebut itu. Itu tugu kematian kawan-kawan mereka yang menjadi korban bom. Pada saat itu orang tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu. Andai kita semua bayangkan, apa mungkin terbangun sebuah tugu lagi untuk sebuah kematian yang lebih luas ?”

“Maksudmu?”

“Aku tidak berbicara mengenai bom terorisme dan tetek bengeknya tapi aku berbicara mengenai Kuasa Tuhan ku. Bukankah begitu mudah bagi Tuhan untuk menaikan ombak di pantai lalu menghantam mereka yang sedang mencari kesenangan dunia tanpa persiapan apapun, bukankah mudah bagi Tuhan untuk menggoncangkan bumi ini dan meluluh lantahkan semua yang berdiri di atasnya, lantas ketika semua itu selesai, kita akan dikenang menjadi tugu kematian, yang sebenarnya menjadi sarana bagi manusia untuk mengingat-ngingat bahwa kematian itu pasti akan datang”

“Dan pada saat itu, kita akan bertemu Tuhan kita, mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan”

“tepat sekali kawanku”

“lalu dengan adanya tugu kematian bencana itu, apa manusia setelah kita akan ingat tentang hari perjumpaan dengan Nya”

“Bisa jadi iya, bisa jadi mereka seperti kita yang saat ini, masih bisa tersenyum dan berfoto ria di atas tugu-tugu kematian kawan-kawan sebelum kita”

“Ah celaka sekali manusia !”

“Itulah kita”

Keduanya nya pun meninggalkan tugu kematian tersebut. Tiba-tiba langit mendung. Hujan gerimis turun dari langit. Semua orang lari dari tempat terbuka, tergesa mencari tempat berteduh. Tapi apakah mereka bisa lari dari kematian ?

Badung, 22 Juni 2011

, ,

  1. #1 by sandy on May 8, 2012 - 13:11

    saya pun akan pergi kesana untuk mencari kebahagiaan hidup.. bagaimana dengan itu kang mas?? matur suwun

    • #2 by Ferry Fadillah on May 8, 2012 - 13:15

      boleh dimas.. tapi jangan lupa, itu nama diganti.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: