The Hidden Paradise : Bali Cliff Beach

“Tangga Turun Menuju Bali Cliff Beach”

Beberapa waktu yang lalu, bali dikejutkan oleh sebuah tulisan yang dengan terang-terangan mengkritik habis beberapa permasalahan pariwisata di Pulau yang dijuluki Pulau Dewata tersebut. Tulisan tersebut tidak tanggung-tanggung ditulis oleh Andrew Marshall pada majalah TIME dengan judul Holidays in Hell : Bali Ongoing Woes. Beragam tanggapan mulai beredar di dunia maya berkenaan dengan tulisannya, mulai dari yang tidak setuju sampai dengan meng-iya-kan dan menjadikannya sebagai bahan instropeksi pariwisata bali kedepannya.

Memang apa yang penulis deskripsikan ada benarnya, tapi yang dia sorot adalah bali pada sebagian tempat, sehingga tidak lah tepat jika yang sebagian itu digeneralisir sebagai kondisi bali pada umumnya. Faktanya, pulau ini (Bali) masih memiliki tempat-tempat indah dan eksotis dari ujung utara sampai selatan dan ujung barat sampai timur.

Salah satunya adalah Pantai Bali Cliff atau lebih enak disebut Bali Cliff Beach. Mungkin bagi sebagian orang nama tempat ini begitu asing. Dan beruntungnya, dengan ‘keterasingan’ tempat ini, Bali Cliff Beach dapat diumpamakan sebagai The Hidden Paradise in Bali.

Tidak seperti di Kuta. Di sini hanya ada dua pedagang yang berjualan di pintu masuk, tidak di pantai. Yang satu berjualan air minum dekat tangga turun, dan yang satunya berjualan makanan dekat dengan parkiran motor atau mobil. Sehingga bisa saya jamin ditempat ini pengunjung tidak akan melihat tumpukan sampah yang tidak terurus dan menimbulkan bau tidak sedap.

Jalan menuju pantainya sangat berkesan. Ratusan anak tangga dengan pohon perindang dikiri dan kanan jalan menciptakan suasana yang teduh dan damai. Dari ketinggian anak tangga, kita bisa melihat lautan yang terbentang luas dengan hijau dan birunya laut yang begitu menawan (segala puji bagi Allah yang telah menciptakan Alam yang begitu indah). Buih-buih air laut yang berhamburan di udara karena terbawa oleh angin setelah ombak menabrak tebing membuat keadaan di anak tangga menjadi segar, tidak gersang. Coba anda pejamkan mata lalu hirup  udara dalam-dalam, deru ombak dan harumnya air laut seolah membuat hati ini melayang dan bersatu dengan alam semesta. Sebuah terapi jiwa yang tidak dapat anda temukan di perkotaan.

Jika anda telah selesai menuruni anak tangga, maka anda akan dibuat kagum oleh hamparan pasir putih yang empuk dan bersih. Tapi anda mesti hati-hati jika berniat berenang di siang hari, karena kondisi ombaknya belum bersahabat. Oleh karena itu ada baiknya berkunjung pada sore hari, sehingga anda dapat menikmati segarnya air laut tanpa kerepotan terpontang-panting oleh ombak lautan.

Yang terakhir dan terpenting, Bali Cliff Beach cukup mudah diakses dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Dari pintu keluar terus saja sampai lampu merah By Pass I Gusti Ngurah Rai, belok kanan ke arah jimbaran, sampai ketemu pertigaan yang ada KFC-nya belok kanan ke arah Universitas Udayana, ikuti terus petunjuk jalan sampai ke GWK, setelah GWK ada perempatan dengan ciri khas minimarket lokal Nirmala(?) di sebelah kanan, ambil jalan ke kiri (daerah ungasan, Jl. Bali Cliff) dan ikuti terus jalan sampai ada pohon besar, belok kiri dan ikuti terus jalan sampai ada penunjuk ke arah Pura. Insya Allah sampai. Untuk harga tiket masuk hanya seribu rupiah alias bayar parkir saja. Murah Bukan ? Bagi anda yang sedang berlibur ke bali silahkan berkunjung ke sana dan ingat jangan sekali-kali buang sampah sembarangan.

Wilujeng Jalan-Jalan. Wassalam..

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: