Dua Orang Sahabat

Kala itu langit malam sedang terang benderang disinari cahaya bulan, gemintang pun seolah tidak mau kalah, berlomba-lomba memamerkan cahaya mereka, jumlahnya ribuan, tergantung dilangit seolah dengan sengaja Tuhan pada malam itu memamerkan ciptaan Nya.

Duduklah sepasang sahabat ditepian Pantai Kuta. Wajah mereka hampa, dengan lutut diangkat sebagai sandaran wajah sesekali mereka melihat indahnya bintang lalu melempar pandangan ke lautan yang luas, jauh dan gelap.

Lalu seorang dari mereka memecah kesunyian dengan berkata, “sudah lama aku menikmati asam dan manisnya sebuah perpisahan, namun tak kusangka, untuk yang kali ini aku harus serta merta mengangkat kedua tanganku kepada Tuhan seraya berkata ‘aku menyerah’

Pasangan bicaranya menatap tajam dan dalam seolah berusaha menebak isi hatinya, lalu melihat rembulan yang tersenyum kepadanya, dan menghebuskan nafas panjang seperti orang yang menderita kesusahan.

“Bukan saja engkau yang merasakan hal tersebut kawan. Aku rasa hari ini pikiran ku sedang melayang jauh melebihi perasaan sedih dari perpisahan mu. Aku memikirkan sebuah penghianatan yang kelak menodai makna persahabat dikarenakan racun-racun harta duniawi yang begitu menawan, aku memikirkan sebuah kehampaan yang kelak menghampiri kita yang kaya lagi tua karena terpisah dari makna persahabatan dan cinta yang sejati.”

“Jadi menurutmu, jalan kita ini hanya akan menjadikan kita terpisah dari makna persahabatan dan cinta dikarenakan kita sibuk mengarungi laut yang penuh dengan monster jahat ketidak- idealis-an dan mabok akan pencarian harta karun yang terpendam begitu dalam, padahal kita tidak akan pernah tahu apakah harta itu pernah ada atau tidak”

“Ya begitulah kurang lebih, dan kebanyakan dari kita nanti akan menyesal di hari tua nanti, merengek seperti bayi yang terlilit perutnya karena berhari-hari belum mendapat air susu dari ibunya  lalu mengingat masa lalu yang hanya akan membuat kita menyesal lebih dalam dan meracuni pikiran kita dengan kata-kata ketidak beradilannya Tuhan, padahal Ia sendiri telah membebaskan kita untuk memilih akhir dari kisah hidup kita : baik atau buruk ”

Perbincangan itu tidak berlangsung lama, kini keduanya berjalan perlahan kedua arah yang berbeda. Sesekali mereka menengok ke belakang disaat yang berbeda, lalu melihat kedepan seraya menunduk dan meneteskan air mata. Tetesannya jatuh kepasir yang lembut lalu menciptakan gumpalan-gumpalan kecil air yang berisi pasir. Tapi hal itu terlalu kecil untuk mereka pikirkan, karena belum beberapa langkah mereka beranjak dari tempat bersejarah itu, ingatan tentang kisah persahabatan yang indah dan penuh tawa telah mereka kubur dalam hati mereka yang mulai menggelap dan membeku.

                                                                                 Ferry Fadillah, 10 Mei 2011,
My Best Regards to all of you, my best friends everywhere, never forget our friendship’s story in dewata island.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: