Burung dan Kebebasan

"langit dan laut, begitu luas, jelajahlah, jadilah bebas!

Pada mulanya seekor burung begitu kagum dengan sayapnya. Ia mengepak-ngepakannya sambil membusungkan dada, seolah menyombangkan dirinya kepada dunia. Ia melihat deretan rapih bulu-bulunya yang berwarna, yang dirajut dengan kasih sayang Tuhan dengan benang rahmatnya, decak kagum pun keluar dari mulutnya.

Ia bosan dengan kehidupan di dalam sarangnya, sebuah tumpukan jerami berbentuk mangkok yang ia buat selama berminggu-minggu dengan bantuan air liurnya. Ia melihat ke angkasa, dan terkagum kembali, betapa luasnya dunia ini, betapa leganya angkasa itu. Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia pun menarik nafas dalam-dalam dan terbang meninggalkan pohon angsana yang sudah berumur itu. Ia terbang jauh menuju ke utara.

Ketika melewati hijaunya hutan, ia merasakan kehidupan merasuk ke dalam dirinya, semangat terpantul ke dalam hatinya dan kedamaian menggenangi pikirannya. Ketika melewati perkotaan, ia merasakan kematian merasuk ke dalam dirinya, ketidakberdayaan terpantul ke dalam hatinya dan kekacauan menggenangi pikirannya.

Berkilometer sudah ia terbang,sampai akhirnya lelah dan beristirahat di pinggiran danau untuk sekedar melepas dahaga. Tapi apa nasib, seorang pemburu sudah dari tadi bersembunyi di balik semak-semak, mengarahkan senjatanya tepat ke tubuh sang burung. Belum pun sang burung memasukan air ke pundi-pundinya, sebuah panah melesat cepat menembus kulit, otot dan organnya. Ia pun melemas dan teronggek bak sebatang pohon usang yang merana.

Setelah semua kejadian itu, ia bermimpi, bermimpi dan terus bermimpi, Sehingga menganggap semua kejadian yang lalu hanyalah sebuah mimpi. Ketika ia membuka matanya, alangkah kagetnya ia. Sebuah sangkar emas dengan hiasan-hiasan perak disetiap ujungnya sedang mengurungnya, kotak-kotak kecil berisi makanan tergantung tepat di depan matanya. Ia senang dengan makanan itu, tapi ia benci dengan sangkar itu.

Setelah makan dan minum untuk mengumpulkan tenaga, ia mencoba terbang dan menghantam sangkar itu. Tapi sia-sia pebuatannya, sangkar itu kokoh, mencengkram sangat kuat. Pasrah pula akhirnya sang burung. Ia meratapi nasibnya, baru saja ia merasakan kebebasan dan kehidupan yang tidak dapat dimiliki makhluk lain tapi kenapa saat ini ia harus terkurung dalam kebosanan. Walau ia diberikan makanan yang melimpah, ia tetap saja murung setiap harinya, karena yang ada dalam pikirannya hanyalah kebebasan.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan zaman berganti zaman. Ketika sang pemburu menghirup udara pagi di beranda rumahnya dan berniat menikmati indahnya bulu sang burung, ia malah terkejut, melihat sang burung yang begitu indah terdiam lemas tak bernafas. Warna-warna bulunya menjadi kusam, badannya menjadi lunglai, dan kulitnya menjadi pucat. Tanpa berbelas kasih sang pemburu membuka sangkarnya dan membuang mayat tak berdosa itu ke selokan di depan rumahnya. Sang burung pun hanyut terbawa arus entah sampai kemana.

Ketika jiwa nya lepas menuju ke hadirat Tuhan. Ia pun tersenyum, penantiannya selama bertahun-tahun akhirnya dipenui Tuhan, menjadi makhluk yang bebas, bebas dan bebas. Tuhan pun tersenyum melihat makhluk mungil itu, dan memandang manusia dengan amarah, “semoga mereka memahami apa arti kebebasan”, bisikNya.

***

Saya ingin bebas kawan, bebas menjadi apa yang saya mau, bebas memilih apa yang saya mau, karena hidup itu hanya sekali kawan. Mari kita bebaskan hidup kita.

Salam bebas wahai kawan ku, kamu semua dibelahan dunia manapun

Sekian

***

Ferry Fadillah

Bali, 26 Maret 2011

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: