Sang Renta

Deru sepeda motor terakhir berlalu dan menghilang di tengah kegelapan malam. Sang Dewi Bulan nampak lebih cantik dari hari-hari sebelumnya, ia tersipu malu, terselimuti awan hitam pekat dan gemintang yang semakin menambah cantik sekelilingnya.

Di sebuah rumah megah di bawah naungan Sang Bulan, hidup seorang renta yang dikenal amat shaleh. Lantunan kidungnya amat banyak dipuja-puji orang. Siapapun yang kebetulan mendengar lantunannya, akan terbuai dan terpana dalam kehusyuan mendalam akan kehadiran Tuhan.

“Malam yang indah, namun kenapa aku tiada mendengar lagi puja dan puji dari para pendengar yang dahulu setia”, sang renta shaleh berbicara dengan dirinya sendiri. Disaat yang bersamaan, seorang pengemis datang kerumah sang renta dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

Tapi apa cerita, ternyata sang renta menganggap itu tanda banhwa ada seseorang yang ingin mendengar lantunan kidungnya. Ia pun mulai menarik nafas dan melantun berlarut-larut. Satu ayat, dua ayar, ratusan ayat sampai ribuan ayat.

Diluar sana sang pengemis yang sudah kehabisan tenaga sudah tidak mampu lagi mengetuk dan merintih, karena semua sia-sia, tertutup oleh suara sang renta yang merdu dan kencang.

Hari makin larut, lantunan sang renta makin berlarut-larut. Namun bagi sang pengemis, lantunan itu tiada artinya, walau memuji Tuhan, walau menggentarkan hati, karena kini Tuhannya hanyalah Dia yang dapat memberi ia isi perut, Dia yang dapat memberi ia tempat berlindung, dan Dia yang dapat menghangatkan tubuhnya yang menggigil.

Hari makin gelap. Ayam jantan tiba-tiba berkokok, dan pada saat yang bersamaan sebuah jiwa telah berpulang ke dalam pangkuan Tuhan. Ia tersenyum lega, melihat bebasnya dari kurungannnya, seperti seekor burung yang dilepas sang pemiliknya. Kini ia paham mengapa lantunan pujian tadi tidak menggetarkan hatinya, karena Tuhan menjawab, “walaupun indah terdengar kidung pujian dari ia, namu Aku melihat noda keterikatan terhadap pujian dalam dirinya, sedangkan kau, Ikhlas dalam menjalani kehidupan, walau didera lapar dan kedinginan, dan kini aku datang sebagai Tuhanmu, yang memberi makan, tempat dan kehangatan ditempat yang abadi untuk selamanya”

Ferry Fadillah, 24 maret 2011

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: