Shalat Jumat

Hari Jumat, merupakan hari suci dalam setiap minggu bagi kami, umat islam. Di saat itu, sedari pagi, kaum adam harus bersiap bebenah diri. Mandi dengan niat akan mendirikan shalat jumat, memotong kuku dengan niat akan mendirikan shalat jumat, dan mempersiapkan pakaian terbaik dengan niat akan mendirikan shalat jumat.

 

Shalat yang dimulai pada pukul 12.30 WIB (kurang lebih) itu dimulai dengan adzan dilanjutkan dengan ceramah dari orang yang dianggap lebih mumpuni dalam bidang agama. Peraturannya, ketika sang pengkhotbah berdiri di atas mimbar maka wajib hukumnya bagi setiap jamaah menutup mulutnya rapat-rapat, alias diam. Sungguh kemuliaan terdapat dalam peraturan ini, bukankah kehidupan ini harus dipenuhi dengan keseimbangan, apalagi dalam hubungan manusia dengan manusia, salah satunya adalah ketika ada yang berbicara ada pula yang mendengarkan. Hal ini jarang dipermasalahkan oleh masyarakat kita, sehingga adu mulut, dan merasa lebih pintar sering kali terlihat di kotak-kotak televisi melalui wajah-wajah politikus maupun civitas akademika.

 

Khotbah pada hari jumat biasanya mengandung seruan kepada jamaah untuk senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hampir setiap jumat khotbah berisi anjuran melakukan kebaikan-kebaikan, kebaikan kepada Tuhan, kebaikan kepada Alam, dan kebaikan kepada sesama. Bagi mereka yang merasa diri lebih pintar dan lebih suci tentu kadang berpikir bahwa materi yang dibawakan setiap jumat adalah sama, itu-itu saja, sehingga timbul sikap apatis dalam memaknai khotbah jumat itu sendiri.

 

Segala sesuatu di dunia ini tidaklah ada yang abadi. Begitu juga dengan keimanan kita, kadang pasang kadang surut, tergantung kesungguhan hati kita dalam menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Kesibukan kita di dunia yang dipenuhi keinginan hewani untuk  memenuhi kantong dengan harta, selangkangan dengan wanita, dan kehormatan dengan tahta secara otomatis membuat manusia lupa akan Tuhannya, lupa akan esensi penciptaan manusia, bahwa manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Atas dasar inilah, seyogyanya mereka yang apatis terhadap khotbah jumat memaknainya sebagai sarana memperkukuh keimanan, sarana menaikan kembali air keimanan yang tadinya surut, serta sarana untuk menyadarkan diri akan tujuan awal penciptaan manusia.

 

Percayalah bawa dibalik semua tuntutan ibadah yang diberikan Tuhan kepada kita melalui kanjeng Nabi Muhammad pasti memiliki makna yang dalam bagi kebaikan kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Karena Tuhan itu seperti orang tua kita, sedangkan kita seperti anak bocah ingusan yang selalu sok tau tentang kehidupan. Ketika disuruh begini membantah, ketika disuruh begitu merengek, padahal yang menyuruh adalah lebih tinggi ilmunya daripada yang disuruh. Tapi begitulah manusia, kerap kali mendewakan pengetahuannya sendiri.

Ferry Fadillah. 22 Oktober 2010. Kota Bandung.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: