Abah Sim Kuring

Setelah ritual wisuda selesai dilaksanakan, dengan akhir yang bahagia, di Kota Malang, kami melanjutkan perjalanan ke arah utara, menuju Kota Surabaya. Sebuah kota yang sudah lama tidak kami kunjungi, terakhir adalah ketika saya masih duduk di bangku SMA, kalau tidak salah, waktu itu sempat melihat bekas-bekas muram kecerobohan manusia di Lapindo dan keliling kota untuk mencari oleh-oleh khas Kota Surabaya. Tapi perjalanan kali ini bukan sekedar Lapindo maupun oleh-oleh, tapi mengunjungi seorang kakek yang sedang menghabiskan masa hidupnya di Kota Surabaya.

***

Di kulitnya tergurat kerut-kerut melengkung, sejajar, dan melingkar yang menandakan usianya yang sudah lanjut. Dengan kaca mata besarnya, ia menonton televisi, tetapi ternyata mata kanannya sudah tidak dapat berfungsi alias buta. Mata kirinya pun tidak jauh beda, walu sedikit lebih baik, yaitu samar-samar. Sehingga tidaklah salah jika kegiatan seperti membaca dan menulis sudah lama ia tinggalkan. Bukan karena rasa malas yang melingkupi hati, tetapi karena keadaan mata yang memang begitu adanya.

Saya sering memangil dia Abah, walaupun abah dalam masyarakat sunda merupakan panggilan bagi ayah, tapi entah sejak kapan saya memanggil kakek dari keluarga ayah tersebut dengan panggilan itu. Dan tampaknya tidak ada protes secara fisik dan batin dari nya, sampai saat ini. Ia berasal dari Kota Ciamis, dengan slogannya Ciamis Manjing Dinamis, yang berada di wilayah priyangan selatan. Dikarenakan ada masalah kesehatan dengan paru-parunya, beliau mau tidak mau harus meninggalkan kota tercintanya yang berhawa sejuk ke daerah yang lebih panas hawanya di tengah kota Surabaya.

Selain mata, dan paru-paru, beliau juga mengalami sakit pada bagian kaki. Sehingga ia tidak bisa lagi jongkok, dan berjalan dengan benar seperti orang normal lainnya. Jalannya begitu perlahan, penuh kehati-hatian, kekiri dan kekanan. Walaupun begitu tidak ada seorang pun yang mengantarnya kesana kemari seperti anak kecil. Karena beliau tahu, bahwa ia masih bisa berjalan walaupun harus perlahan. Dan ia harus mandiri.

Setiap hari, ia menghabiskan waktu di depan televisi di ruang keluarga. Memilah-milah acara yang bergitu bermanfaat seperti berita, diskusi, sejarah dan sebagainya. Beranjak sejenak untuk makan bersama anggota keluarga lain, dan menununaikan ibadah shalat wajib. Setelahnya ia akan kembali menonton televisi sampai kantuk hinggap di kelopak matanya.

Sholat yang dilakukan abah begitu unik, ia duduk di kursi lipat berwarna merah, menghadap kiblat dan melakukan gerakan sholat seperti biasanya. Walaupun kondisinya seperti itu tapi ia sungguh khusyuk dalam shalatnya. Dengan peci hitam di kepalanya, ia mengangkat tangan seraya berdoa untuk kesuksesan anak-anaknya, cucu-cucunya dan saudara-saudaranya. Suaranya lirih menggentarkan jiwa, dan buliran air terkadang menganak sungai di pipinya. Sungguh begitu indah ibadahnya, dibalik segala keterbatasn yang ia miliki.

Kesederhanaan, ketidak pura-puraan, dan keinginan untuk menghabiskan setiap detik kehidupan ini untuk hal-hal yang amat bergunalah yang ia lakukan setiap hari. Tapi ia terkadang mengeluh kesepian. Bagaimana tidak, anak-anaknya yang berjumlah empat orang itu  tersebar di kota bandung, jakarta, australia, dan surabaya. Semuanya tentu memiliki kesibukan masing-masing, dan hanya mengunjungi abah pada waktu-waktu tertentu saja. Benar kata orang, jika nanti waktu tua kita akan banyak sendiri.

***

Entah mengapa setelah mengunjungi abah, seolah ada wangsit ghaib yang merasuk dalam benaku. “Inikah hidup ?”, aku bertanya dalam diri ku sendiri. “Ketika kita muda kita senang-senang, melakukan apapun yang kita mau, makan-makan dan minum-minum tanpa mempedulikan efek panjang kesehatan di masa depan, dan berkelakuan bak seorang yang tidak akan pernah tua, bermewah-mewahan dalam berpakaian, dan sombong terhadap kecantikan maupun ketampanan, padahal semua itu akan sirna ketika kita menginjak usia tua,” tambah diriku.

Sering aku melihat di lingkungan ku, muda-mudi yang dengan bebas merokok di tepi jalan atau di cafe-cafe, menenggak minuman keras di tongkrongan, berdugem ria di club-club malam, dan berbalapan ria di jalan-jalan sepi.  Dalam wajah mereka tersungging wajah sombong, seakan dunia adalah miliknya sendiri. Entahlah siapa mereka itu, mungkin saja aku termasuk ke dalamnya tapi tentu anda bisa meliat dengan mata anda sendiri kondisi ini di zaman se-semerawut ini.

Melupakan masa tua adalah kata-kata yang tepat bagi kita. Sehingga tidak heran jika ada pernyataan, “Ayolah senang-senang, kita kan masih muda. Nanti udah tua kita fokus ibadah”. Yang menjadi permasalahan adalah, apakah kita pernah tahu sampai mana akhir hidup kita ? ketika merokok di usia 20 tahun kah ? ketika dugem di club malam kah ? ketika balapan motor kah ? dan sekali lagi, bukankah Sang Nabi pernah bersabda bahwa masa muda lah yang akan diminta pertanggung jawabannya di pengadilan akhirat oleh Tuhan yang maha Kuasa? sudah digunakan untuk apa saja, hal yang berguna kah atau hal tiada berguna kah ?

Semoga Tuhan selalu menunjukan kita jalan yang benar di masa muda kita dan mengutus kebahagiaan di masa tua kita. Amin.

 

Love you as my sisters and brothers.

Ferry Fadillah. 15 Oktober 2010. Di Kota Pahlawan yang baru saja dibasahi hujan deras tadi malam.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: