Dua Sisi Perpisahan

Manusia dalam kehidupannya pasti akan menemukan berbagai macam permasalahan. Karena manusia memang hidup untuk menyelesaikan permasalahan, bukan kabur lalu berlepas tanggung jawab. Karena hal ini lah yang membedakan raga yang berjiwa dengan seonggok raga tak bernyawa.

Mungkin salah satunya adalah pepisahan. Terkadang orang menganggap perpisahan adalah sebuah barokah, rahmat, bahkan sebuah anugerah yang tiada tara. Jika ternyata ia berpisah dengan kesedihan, duka, lara, kedzaliman, dan kebodohan. Ia pasti akan merasa senang dalam perpisahan tersebut, mungkin berteriak kegeringan seperti seorang bocah 5 tahun yang dibelikan sepeda baru oleh ayahnya. Matanya akan berbinar penuh syukur atas terlepasnya belenggu-belenggu yang selama ini mengekang kehidupannya. Ucapan syukur akan terus terlontar dari mulutnya yang dahulu ia pakai untuk memaki-maki keadaan yang telah menistakannya dalam keterpurukan. Langkahnya akan terasa lebih ringan, dan hari-hari yang baru akan ia lalui dengan wajah ceria penuh tawa. Akan ia ceritakan kisahnya kepada sesama dan akan ia tuliskan dalam kertas putih dengan tinta emas perpisahannya itu.

Berlainan dengan hal diatas, terkadang orang menganggap bahwa perpisahan adalah sebuah bencana, kecelakaan, adzab, bahkan kutukan yang menjadi-jadi. Jika ternyata ia berpisah dengan kesenangan, keindahan, suka, keadilan, dan kecintaan. Ia pasti akan menangis teriris-iris dalam perpisahan tersebut, seperti seorang anak yang merengek tidak dipenuhi keinginannya oleh ayahnya. Matanya akan menjadi sayu, gurat-gurat rasa lelah akan tampak di wajahnya, badannya akan melemah karena berusaha keras untuk melawan kenyataan-kenyataan pahit yang menimpanya. Dalam mulutnya ia memuja Tuhan, berpasrah diri akan segalanya, tapi batinnya terus bergejolak seolah tidak percaya dengan keadaan yang ada. Langkahnya akan terasa sangat berat, hari-hari yang akan datang akan ia lalui dengan muka murung penuh kegelapan. Ia akan mematung seribu bahasa dalam keramaian, terdiam dan tertunduk, serta ia akan tuliskan dalam kertas putih dengan tinta air mata perpisahannya itu.

Perpisahan  akan menjadi sebuah yin atau yang, tergantung kepada siapa ia menimpanya. Ia bisa menjelma sebagai malaikat surga yang datang membawa air dari telaga kautsar kepada manusia yang dilanda kehausan di dunia. Ia bisa menjelma menjadi binatang buas yang kelaparan selama berbulan-bulan yang mencabik-cabik penduduk sebuah desa tanpa ampun. Apapun rupanya, apapun bentuknya, apapun wujudnya, apapun rasanya, dan apapun akibatnya  manusia hendaknya tahu bahwa perpisahan adalah nyata ketetapan Tuhan. Ketetapan yang sudah diberikan kepada manusia sebagai ujian darinya, apakah kita seorang beriman atau munafik, apakah kita sungguh-sungguh atau hanya seadanya untuk mendapatkan rahmat dari Sang Kuasa.

Ferry Fadillah
Pulau Dewata. 11-10-2010

, ,

  1. #1 by Ghazalian Center on October 16, 2010 - 16:39

    yang penting jauh di mata dekat di hati….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: