Luka yang Kemudian Hilang

Persahabatan. Mungkin sebuah kata indah yang seindah dengan pelaksanaannya. Dimana jiwa terpaut menjadi satu untuk saling menjaga, berbagi, dan berbahagia. Melekatnya ‘persahabatan’ bisa dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Seorang Prabu nan gagah yang tinggal di istana berdinding emas dan berlantai marmer bisa saja bersahabat dengan seorang tukang kayu yang tinggal di gubuk tua berdinding awi dan berlantai tanah. Dua orang pemuda yang terpisahkan secara adat dan geografis bisa saja menjalin persahabatan, entah itu dengan cara saling berkirim surat maupun saling mengunjungi satu sama lain. Karena pada hakikatnya persahabatan ini adalah suci. Saya merasa nyaman dengan anda dan anda merasa nyaman dengan saya maka terjadilah persahabatan itu. Tanpa label harta maupun kepentingan.

Tetapi setiap perjalanan tidak akan pernah lurus. Pasti kita akan menemukan jalan berliku dan bahkan sesekali jalan buntu. Begitu pula persahabatan. Terkadang hal kecil yang kita anggap kecil dan dia anggap besar menjadi sebuah api pertikaian. Ketidak inginan untuk memahami lebih dalam menjadikan api itu berkobar-kobar laksana ombak di samudra pasifik. Keegoisan untuk merasa yang paling benar malah menjadikan api itu mencuat-cuat membakar dua jiwa yang dahulunya didinginkan air persahabatan. Pada saat semuanya sudah hangus terbakar, hanya ada perasaan menyesal dan keinginan untuk memperbaiki keadaan.

Sebua kata ‘maaf’ adalah penawarnya. Penawar bagi racun yang menggerogoti hati nan penuh amarah. Bukan saja itu. Persepsi kita dalam memandang hal kecil pun mau tidak mau harus diubah. Karena pada hakikatnya hal kecil yang kita anggap kecil belum tentu dianggap kecil oleh orang lain. Sehingga tidak heran dalam sebuah pertikaian, kita akan menunjuk salah orang lain dan mengatakan, “hanya gara-gara hal sepele, masak ia selalu memasang muka masam setiap kali bertemu saya”. Yang salah sebenarnya persepsi kita bukan hal sepele itu. Coba bayangkan jika anda menghina nama seorang sabahat anda dengan santainya, padahal nama itu dibuat oleh sepasang orang tua yang dengan susah payah melahirkannya, dan begitu hati-hati memilih sebuah nama agar kelak anaknya menjadi orang yang berguna. Tentu sahabat anda akan berkobar hatinya, dipenuhi angkara murka.

Bayangkan kulit anda tergores oleh sebilah pisau. Darah akan mengalir dari pembuluh darah anda, merah pekat dan segar. Lalu yang akan anda lakukan adalah mengobatinya, entah itu menggunakan ramuan tradisional atau moderen, yang pasti anda akan mengobatinya. Maka perlahan-lahan goresan itu akan menutup. Tetapi masih menyisakan bekas. Dan seiring dengan perjalanan waktu bekas itu pun akan hilang menjadi kulit seperti sedia kala.

Begitu kurang lebih analaoginya ketika kita menyakiti hati sahabat kita. Sahabat kita akan tergores perasaannya. Lalu dengan kata maaf dari kita luka tersebut akan terobati.  Tapi dapat dipastikan bahwa ia yang dahulu akan berbeda dengan ia yang sekarang karena masih ada bekas dari goresan tersebut. Bekas-bekas yang terkadang menanamkan rasa amarah disaat-saat tertentu dan menimbulkan kebencian-kebecian kecil. Dan dengan seiring berjalannya waktu, bekas itu akan menghilang dan sahabat kita akan menjadi seperti dahulu lagi. Saling mejaga, berbagi dan berbahagia. Insya Allah.

Denpasar, 05 Oktober 2010. Ferry Fadillah

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: