10-10-10

Berjalan tak tentu arah. Melihat jalanan yang penuh dengan suka cita. Hilir mudik orang dengan kepentingannya masing-masing. Ditambah deru mesin beroda empat  membahana kelangit-langit menghilangkan suasana pagi yang tadinya sepi dan indah. Senyum sedikit tersungging di bibirnya, berseri-seri melihat keindahan pohon perindang  yang masih tersisa. Tiba-tiba ia berhenti di depan pohon angsana. Mengambil telepon genggam dari saku celananya. Lalu menghubungi sang kekasih tercinta. Rasa khawatir dan keinginan untuk sekedar mendengar lantunan suara mungil di ujung pulau sana telah membuatnya berulang-ulang meneleponnya, karena bukan sekali saja sang kekasih tidak mengangkatnya.

“Mungkin ia masih tertidur”, pikirnya sambil terus berjalan ke belokan Desa Sumerta Kelod. Belum beberapa lama ia berjalan, sms dari sang kekasih pun sampai di teleponnya. Tanpa ragu dan dengan sumringah ia langusng menghubungi sang kekasih, tidak peduli walau pulsanya sedang menipis saat itu.

Seperti biasa, ia menanyakan keadaan sang kekasih, berbasa-basi, yang intinya hanya ingin mendengar suara mungilnya. Mendengarkan dengan penuh hikmat kata-kata yang keluar dari mulut sang kekasih, karena sedari dulu ia sadar bahwa suara indah itu telah membangkitkan jiwanya. Tapi hari ini berbeda. Ia mendegarkan dengan penuh saksama, seolah sesuatu akan mengakhirinya.

Perbincangan pun dilanjutkan ketingkat yang lebih serius. Walaupun serius, ia tidak menampakan keseriusan itu. Walau hatinya gundah akan firasat-firasat buruk yang nanti akan segera terjadi, tapi ia terus berusaha tegar dan bersahaja di depan sang kekasihnya. Perbedaan sikap inilah yang telah membuat sang kekasih murka. Ia mengganggap bahwa dirinya tidak serius menghadapi masalah serius. Tak ayal, sang kekasih pun menutup teleponnya.

Berkali-kali ia menelepon kembali sang kekasih tapi tiada jawaban sedikitpun. “Mengapa teleponnya dimatikan, apa salah jika saya berusaha mencairkan suasana”,  berkata lah ia di dalam hatinya. Setelah berjalan bulak-balik dengan menggenggam telepon tanpa ada jawaban dari sang kekasih, ia pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.

***

Rumah sang pemuda sangatlah kecil, bisa dibilang sebesar kuburan para wali yang dibanguh tempat persembahyangan diatasnya. Sepi dan sunyi. Maklum hari minggu merupakan hari yang baik untuk bersantai ria di dalam rumah, sehingga orang-orangpun tidak mengeluarkan suaranya.

Ia membuka laptopnya. Melihat-lihat tulisan yang belum sempat ia publish. Dan memberi koreksi untuk tiap-tiap katanya. Tiba-tiba saja hand phone putihnya berdering.  Sang kekasih ternyata menghubunginya.

Percakapan antara dua insan terjadi. Mulanya ia tersenyum tapi diakhir percakapan ia lebih banyak memilih diam. Pikirannya berusaha mencapai jaring-jaring telepon. Merasakan deru nafas sang kekasih dan membayangkan kehadirannya. Matanya berkaca-kaca, entah mengapa hatinya seperti ditimpa beban yang amat berat.

“Setelah seorang anak kehilangan layangannya yang lepas di pantai tadi pagi. Ia duduk termenung dibawah pohon beringin tua. Memikirkan nasib nya dan layangan tersebut. Akankah jatuh ke tangan orang lain, akan kah terbawa angin lalu hancur dibasahi air, atau akan kah kembali lagi ketangannya. Entahlah, lepasnya layang-layang pun belum jelas keadaannya. Nyata atau maya”, tuturnya kepada sang kekasih. “Entahlah”, jawab sang kekasih, “Jika sudah saatnya kita akan perjumpa lagi.

“Sukses yah kamu kuliahnya”, dengan nada lirih ia memberi selamat. “Kamu juga sukses yah” timpal sang kekasih lirih. Hening. Keduanya mengucapkan salam perpisahan dan menutup telepon.

Sang pria membaringkan badannya ditempat tidur. Memejamkan matanya. Dan membiarkan air mata menghiasi pipinya. Tampak kepasrahan telah mendarah dalam dagingnya. Dengan penuh duka ia berbicara dengan dirinya sendiri, “Kini aku sendiri, tanpa ada seorang pun yang akan sudi mendengar cerita sulit dan indah ku. Hari-hari yang dahulu aku ceriakan karena selalu terbayang wanita cantik yang nanti akan aku pinang kini telah sirna. Harapan dan realita telah menjadi satu, mengikis semangat-semangat yang tadinya mencuat. Ya Tuhan, yang jiwaku berada digenggaman Mu, kini aku berjalan dari satu Qadar Mu ke Qadar Mu yang lain, maka jadikanlah aku orang yang senantiasa ihklas”

Ia mengusapkan tangan ke wajahnya. “ Keabadian. Apakah keabadian itu ? sungguh aku telah berharap keabadian tetapi aku mendapat kehampaan setelahnya. Sungguh keabadian hanya ada pada jiwa,  jiwa suci yang nantinya akan Engkau jemput wahai Tuhan.”

Ia membuka matanya lebar-lebar. Membuka pintu rumahnya, dan melihat bunga kamboja ungu yang tumbuh di pekarangan. Angin laut yang berhembus ia hirup dalam-dalam. Tampak wajahnya kembali berseri, namun siapapun akan tahu bahwa dibalik cerianya ada suasana batin yang begitu muram.

10-10-10. Ferry Fadillah

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: