Praktik Kerja Lapangan

" pegawai bea cukai sedang memeriksa dus-dus yang berisi MMEA (Minuman Mengandung Etil Alkohol) Ilegal"

Setelah beberapa hari otak di-charge dengan kesenangan di kampung halaman. Pada tanggal 16 Agustus 2010 semua mahasiswa harus benar-benar menggunakan daya otak yang sudah di-charge tersebut untuk menghadapi Praktik Kerja Lapangan.

Seperti kata pepatah : langkah ke seribu dimulai dari langkah yang pertama. Oleh karena itu, hari pertama mau tidak mau harus dilalui oleh semua mahasiswa. Karena itu menjadi penentu bagi hari-hari berikutnya.

Bukan rasa senang dan sumringah yang terukir dalam wajah anak-anak remaja yang siap kerja tersebut, tetapi kerutan-kerutan kebingungan yang terbentuk akibat minimnya informasi mengenai PKL. Di bagian manakah saya nanti ? Apa saja yang saya kerjakan nanti ? Bagaimana mencari data disela-sela pelaksanaan PKL ? Tidak heran jika di hari pertama, pada umumnya mahasiswa mendapatkan bagian yang kurang sesuai dengan judul laporan masing-masing.

“Mulai besok semua akan saya pindah sesuai dengan judul laporan PKL”, tutur seorang pegawai yang cukup dikenal di KPPBC tipe A2 Ngurah Rai. Dikenal karena kaum adam kerap kali terkagum-kagum dengan kecantikannya. Setelah itu mahasiswa dipecah kembali kedalam beberapa kelompok : cukai, pabean, perbendaharaan dan P2

Beruntung bagi mereka yang mendapat bagian di P2, bukan saja banyak pekerjaan (mengisolasi minuman beralkohol dalam dus-dus seukuran dus aqua, mencabut pita cukai palsu dari botol minuman haram dan naik mobil ranger menegah barang ke tempat hiburan malam), tapi makanan ringan dan berat akan selalu menemani mereka disaat waktu PKL berakhir setiap harinya. Hal ini tentu terjadi karena kebaikan dosen pembimbingnya.

Saya sendiri berencana membuat laporan PKL dengan judul ‘Prosedur Penerbitan  NPPBKC bagi Pengusaha TPE MMEA’. Di kantor kecil bersih yang sejuk dengan bimbingan kasi bernama Pak Wayan. Dia orang asli bali, ramah dan tidak pelit dalam memberikan ilmu yang ia ketahui walaupun ia sedang sibuk. Tapi sayangnya dikantor tersebut semua pekerjaan sudah ada yang menangani masing-masing dan saya hanya kebagian men-cap beberapa Dokumen CK-4 yang dapat diselesaikan dalam waktu beberapa menit saja. Alhasil banyak sekali waktu luang yang saya miliki.

Begitulah hari-hari yang saya lalui sampai 27 Agustus 2010 berakhir. Masuk keruang kantor, duduk di kursi hitam dengan meja abu-abu bercap departemen keuangan, berhadapan dengan laptop Toshiba ukuran 17 inchi, dan dihibur oleh TV kecil yang selalu menayangkan berita-berita terkini serta tidak lupa pula men-cap dokumen-dokumen apabila memang ada yang menyuruh.

Apalagi jika bukan bosan wal jenuh yang menimpa saya. Terperosok jauh dalam kemalasan yang terbentuk selama beberapa jam dikali 14 hari di kantor tanpa kerjaan. Dapat saya bayangkan bagaimana jika hal ini benar-benar terjadi pada diri saya. Menua dalam hal tidak melakukan apapun.

Untungnya dalam pengamatan saya, semua pegawai  bea dan cukai mempunyai perkerjaannya masing-masing. Bukan hanya punya tapi juga sibuk mengurusinya. Ditambah cctv disemua sudut ruangan, tentu semua pegawai harus  menjaga image selama berkantor, tidak bisa tiduran di waktu siang dan ber-KKN dengan para pengusaha. Sungguh reformasi birokrasi yang menyejukan hati. Pemandangan yang berbeda ketika orang-orang yang saya kenal memandang kotor pekerjaan ini.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: