Berjalan Mengikuti Bayang-Bayang

 

" Berjalan Mengikuti Bayang-Bayang "

Adalah seorang anak lelaki yang tidak pernah puas dengan keadaan. Yang selalu bersikap seolah Tuhan berada dalam genggamannya, dan Qada dan Qadar Tuhan hanya berlaku bagi mereka yang diam. Tidak bergerak hanya menerima nasib tanpa meminta lebih.

Terbentuk akibat kesenjangan sosial yang begitu lebar di negeri ini. Yang telah menciptakan jiwa-jiwa iri antara si miskin dan si kaya. Terlalu banyak melihat ke atas dan melupakan dasarnya berpijak. Ditambah suguhan sinetron berjam-jam setiap hari yang selalu menampilkan kemewahan benda duniawi, baju mahal, dan gaya hidup hedonisme.

Bukan saja anak lelaki tersebut yang mengalaminya, tapi hampir semua anak manusia kian hari kian tidak puas dengan kondisi mereka saat ini. Padahal jelas bahwa Tuhan telah menentukan rezeki manusia sejak lahir, tapi mungkin hal ini belum tersampaikan ke hati tiap-tiap jiwa. Tiadalah heran, disaat ini, jika ditemukan orang-orang yang kurang mapan dalam penghasilan tapi bergaya dan berperilaku bak seorang raja dari timur tengah. Sombong wal angkuh. Bak kacang lupa akan kulitnya.

Pernah penulis dinasihati oleh seorang  nenek bahwasannya hidup itu harus berjalan mengikuti bayang-bayang. Yang maknanya adalah membeli dan memiliki sesuai dengan kemampuan kita, tidak memaksa, dan tidak keukeuh jika ternyata belum mampu. Berat memang rasanya jika hal ini dilakukan ditengah orang-orang yang selalu memamerkan harta duniawi sepanjang hidupnya. Tapi inilah satu-satunya cara untuk berdamai dengan kehidupan.

Pernah suatu ketika penulis menjelma menjadi seorang lelaki tersebut tapi tanpa bergaya bak seorang raja dari timur tengah. Hatinya kusam dipenuhi keinginan yang tidak terpenuhi, dan celakanya mengesampingkan Tuhan dari segala usaha-usahanya. Kekecewaan yang menyebabkan itu. Muak akan panjangnya doa, dan muak dengan mereka yang selalu berpasrah diri.

Tiba-tiba sebuah kitab terbuka untuk memberikan pencerahan. Dan tentu itu semua atas izin yang maha kuasa. Kitab yang ditulis oleh Syeh Abdul Qadir Jailani itu membuka mata hati akan kekuasaan Tuhan, bahwasannya apapun yang terjadi dalam kehidupan ini telah ditentukan oleh Tuhan. Hal ini bukan berarti menjadikan manusia hanya nrimo nasib saja, tapi ada kewajiban besar  bagi manusia untuk berusaha, berusaha, dan berusaha.

Setelah hal sederhana ini penulis pahami, kedamaian jiwa selalu menyelimuti ketika usaha-usaha yang dilakukan penulis berhasil maupun gagal. Tuhan itu memang segalanya, begitulah kesimpulannya. Menyepelekannya hanyalah menciptakan ketidak damaian dalam kehidupan.

 

Ferry Fadillah. 20-10-10

sumber gambar : klik wae didieu nya

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: