Debus, ora tembus!

Indonesia memang sebuah negara yang amat kaya. Tidak hanya kaya dengan sumber daya alam yang melimpah-limpah, tetapi juga kaya dengan budaya yang unik dan mengagumkan. Budaya-budaya tersebut tersebar di seluruh nusantara dan dikembangkan oleh suku-suku di tiap daerah.

Tersebutlah sebuah daerah yang amat tersohor dengan ilmu kekebalan tubuhnya. Banten. Sebuah Provinsi di paling barat pulau jawa ini menyimpan beragam misteri dan kesaktian yang sudah ada selama beratus-ratus tahun yang lalu. Jika orang mengenal Banten tentu langsung teringat akan debus, begitu pun sebaliknya jika orang mengenal debus tentu langsung teringat akan banten.

Debus sendiri dikembangkan oleh Sultan Agung Tirtayasa beratus tahun yang lalu untuk menyebarkan agama islam. Tetapi dengan datangnya Belanda ke negeri ini, debus telah menjadi ilmu utama para pasukan banten untuk melawan penjajah yang telah  menggunakan persenjataan canggih untuk menaklukan kerajaan-kerajaan di nusantara.

***

Indonesia City Expo 2010 yang diselenggarakan kemarin (29/07) di Lapangan Gasibu telah menyuguhkan keragaman produk budaya dari tiap-tiap daerah di nusantara. Salah satunya ragam budaya dari Kota Serang, Provinsi Banten.

Perwakilan dari kota tersebut berhasil dan sukses membawakan seni debus yang amat tersohor itu. Penonton berdecak kagum bercampur takut ketika para jawara menyayat-nyayat tubuhnya sendiri dengan golok. Tidak hanya itu mereka pun mengeluarkan paku sebesar linggis dan menusukkannya ke perut masing-masing. Tentu saja tidak ada darah, luka maupun memar dalam pertunjukan tersebut.

Belum sempat penonton mengambil napas, jawara banten dengan ikat kepala sunda dan baju berwarana biru menggigit-gigit buah kelapa sampai berukuran kecil. Lalu, kawannya menebas buah kelapa dengan golok dan mengeluarkan isi buah kelapa tersebut. Hebatnya, bukan air kelapa yang keluar, tetapi bihun yang amat banyak. Entah bagaimana hal ini terjadi, yang pasti para penononton mengapresiasi dengan tepuk tangan dan siulan tanda kagum.

Setelah itu, entah iseng atau sengaja, sang jawara memanggil seorang wartawan ke atas panggung. Tanpa diberi aba-aba, sang jawara menyabetkan goloknya ke perut sang wartawan. Anehnya, sang wartawan yang awam dalam kesenian debus itu tidak terluka maupun berdarah. Sepertinya jawara debus sedang mentransfer ilmunya sementara.

Di penghujung acara, salah seorang jawara membakar sabut kelapa yang tercecer lalu memakannya perlahan. Salah seorang temannya memaku tubuhnya dengan paku sebesar linggis tadi. Tiba-tiba saja sang jawara terdiam sejenak dan dari dalam mulutnya keluar benda hitam aneh. Dan ternyata benda hitam tersebut adalah kelelawar, ya kelelawar hitam dan kecil. Setelah keluar dari mulut sang jawara, kelelawar tersebut terbang mengelilingi penonton. Sang Jawara pun berteriak, “Selamat datang di Kota Bandung.” Hebatnya, prosesi pengeluaran kelelawar tersebut tidak hanya satu kali, tetapi diulangi selama lima kali!

Begitulah kurang lebih pertunjukan debus tersebut. Terlepas dari kontrovesi halal dan haramnya permainan debus. Ada baiknya jika kita mengenal dan mengembangkan kebudayaan debus ini agar dikenal oleh masyarakat dunia. Akhirul kalam, salam kagum kepada para jawara banten. Ternyata, debus, memang ora tembus.

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: