Kejujuran yang Dipertanyakan Selama UJian

oleh FERRY FADILLAH

Satu hari telah berlalu setelah penyelenggaraan USM STAN 2010. Para pengundi nasib yang tempo lalu bermandi peluh ketika mengerjakan soal ujian, kini dapat menikmati hari-hari cemas penuh penantian akan pengumuman kelulusan mereka. Tentu ada dua kemungkinan yang akan mereka terima : menjadi mahasiswa STAN  tahun ajaran 2010 atau menjadi pembicara seputar sulitnya soal USM 2010 di kampus lain.

Di saat para pengundi nasib di seluruh nusantara dapat sedikit bernapas lega, para pelaku tindak pidana ‘membocorkan rahasia negara’ atau pelaku kecurangan selama USM dengan menggunakan teknologi mutakhir dalam aksinya, harus bermandi peluh kembali menghadap penyidikan pihak kepolisian. Tentu berurusan dengan pihak kepolisian untuk usia sedini itu merupakan hal terberat dalam kehidupan, bisa jadi mereka stress, kesal dan bahkan menaruh dendam.

Jika anda yang dibebani kewajiban untuk mengawasi ujian saringan masuk tersebut dan berkesempatan menangkap para pelaku –menurut tim mahasiswa– tentu tidak akan tega ketika melihat wajah mereka. Bukanlah wajah seorang pembunuh yang banyak mendapati jahitan di wajahnya, tapi ini muka-muka polos golongan priyayi yang mungkin setiap harinya dihiasi kebahagiaan hidup. Saya dapat katakan ini, karena untuk mendapatkan teknologi semacam itu diperlukan dana sebesar lima puluh juta, siapa lagi kalau bukan jelma beunghar atau orang kaya.

Membiarkan insting kemanusiaan menyelimuti seorang penegak hukum ketika bertugas menegakan hukum tentu sebuah hal yang mengundang celaka. Di saat itu, seorang penegak hukum akan lupa dengan kewajibannya, lupa dengan sumpahnya dan lupa dengan peranannya. Disinilah diperlukan ketegasan dalam menjalankan sebuah tugas, ketegasan yang sejadi-jadinya, mantap, teguh dan tentu mengedepankan Hak Asasi Manusia.

Atas kecurangan-kecurangan yang semakin menjamur dalam dunia pendidikan di negeri ini–tidak hanya USM STAN, namun juga UAN, USM lain, dan SNMPTN–maka semua penyelenggara ujian atau mereka yang diberi tugas menjaga ketertiban pelaksanaan ujian seyogyanya lebih tegas dan agresif lagi dalam menghadapi mafia pembocoran ‘rahasia negara ini’. Sejarah telah jelas mengukir perbuatan-perbuatan picik peserta dalam pelaksanaan ujian, dan hal itu akan bermanfaat jika dijadikan pelajaran bagi pelaksanaan berikutnya, bukan dijadikan wacana yang akan pudar dimakan isu lain seiring berjalannya waktu.

Bukanlah seorang suci yang menulis corat-coret ini, tapi saya sadar bahwa agenda mendesak rakyat adalah pendidikan, tepatnya mengembalikan pendidikan dalam jalurnya. Dan salah satu caranya adalah mewujudkan penyelenggaraan ujian yang jujur. Dari kejujuran itulah luka-luka kehidupan masyarakat, yang semakin hari semakin jenuh dengan berita KKN, dapat terobati secara sempurna.

Akhirul Kalam, saya kembali menekankan bahwa saya bukan orang suci, dan atas realita ini adalah kewajiban kita untuk saling mengingatkan. Semoga pelaksanaan ujian berikutnya, apapun dan siapapun penyelenggaranya dapat menjadi media penyaring bibit-bibit yang berkualitas, bukan sekedar pencapaian angkanya tapi juga kejujurannya.

Salam Sukses, Bahagia Selalu

Ferry Fadillah

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: