Perguruan Tinggi Kedinasan, Apa Kata Mahasiswanya?

oleh FERRY FADILLAH

Pelajar SMA, pada umumnya, memiliki banyak impian yang ingin mereka capai di masa depan. Dokter, insinyur, guru, psikolog, diplomat, tentara, polisi, PNS, pengusaha dan bahkan yang hanya menyebutkan ‘membahagiakan orang tua’ yang tidak jelas bagaimana caranya tapi jelas tujuannya. Semua impian itu biasanya menjadi motivasi kuat bagi siswa SMA dalam menghadapi Ujian Nasional maupun SNMPTN. Diskusi bersama, tambahan jam pelajaran, mengikuti bimbingan belajar, ditambah membaca buku di waktu luang telah menjadi zat adiktif bagi siswa SMA yang  menggebu-gebu untuk menembus Perguruan Tinggi Favoritnya, yang tentu dengan harapan akhir : tercapainya impian mereka melalui PTN Favorit.

Bagi mereka yang menginginkan cepat mendapat pekerjaan, terllilit sulitnya hidup untuk sekedar makan dan yang paling keren, mengabdi kepada negara tentu akan memilih Perguruan Tinggi Kedinasan sebagai penghilang dahaga mereka selama ini. Murahnya biaya pendaftaran dan dibebaskannya biaya pendidikan telah menciptakan gelombang manusia muda penuh harap dari tahun ke tahun untuk mencoba peruntunganya mengikuti tes saringan masuk Perguruan Tinggi Kedinasan. Diantara mereka ada yang belajar keras membuka buku tes tahun sebelumnya dan bahkan melewati jalan setan, bermain dengan kelicikan dan kepicikan.

Saya sendiri sampai saat ini terdaftar secara sah sebagai salah satu mahasiswa Prodip I Sekolah Tinggi Akutansi Negara di Kota Denpasar. Sebuah balai diklat yang dihuni oleh 27 mahasiswa yang mayoritas dari pulau jawa ini, merupakan pendatang baru di Kota Denpasar yang selalu terkagum-kagum dengan keindahan Pulau Dewata, sehingga tidak heran jika waktu senggang di gunakan untuk melancong bersama kawan ke setiap sudut pulau ini. Perbincangan seputar Pulau Dewata pun menjadi topik hangat di awal-awal tahun pelajaran.

Menjadi mahasiswa kedinasan yang berada di bawah naungan Kementrian Keuangan tentu memberikan angin segar bagi orang tua masing-masing karena tidak perlu repot merogoh kocek untuk biaya pendidikan. Berbeda dari angin segar itu, mahasiswa dalam kesehariannya seringkali mendapatkan angin ribut yang begitu mencekam dan menyita fikiran, diantaranya :

  1. Kekasih. Sebelum meninggalkan kampung halaman masing-masing, mahasiswa biasanya telah terikat cinta dengan seorang kekasih. Rasa cinta yang menggebu-gebu selama di kampung halaman harus tertunda karena kewajiban merantau ke tanah orang. Maklum saja jika ditemukan beberapa sisiwa yang muram mukanya, akibat ditinggal pergi sang kekasih. Bagi mereka yang belum memiliki kekasih, tampaknya akan sulit untuk menemukannya di tanah rantau, perbedaan agama dan budaya sering menjadi kendalanya. Tidak heran jika Face Book telah menjadi biro jodoh bagi para mahasiswa dalam pencarian kekasih yang sebudaya dan seagama.
  2. Bayang-banyang penempatan. Sebuah surat pernyataan akan ditempatkan diseluruh wilayah republik indonesia sudah harus ditandatangani mahasiswa kedinasan di awal tahun pelajaran. Luasnya wilayah negara kita telah membuat bulu roma sebagian mahasiswa berdiri, doa-doa dan jampi agar ditempatkan di kota-kota besar selalu keluar dari mulut mereka di persembahyangan. Wajar saja jika mereka takut dengan wilayah negara ini yang besar, siapa juga yang mau menjaga perbatasan negara ini, jauh dari hingar bingar kota dan manusia? Pasti ada yang mau, dan tentu lebih kepada ‘mau tidak mau harus mau’.
  3. Hilangnya masa muda. Masa muda tentu merupakan hal yang begitu menarik untuk di ceritakan turun menurun. Cerita berorganisasi, mendaki gunung dengan pencita alam, berdiskusi dengan aktivis-aktivis telah menjadi keseharian mahasiswa perguruan negeri sehari-hari. Tapi bagi mahasiswa kedinasan, hari-hari merupakan kewajiban untuk memelototi tumpukan peraturan-peraturan yang seolah tidak ada habisnya. Masa perkuliahan yang singkat, telah memangkas waktu muda mahasiswa PTK dan menjadikannya bapak-bapak kantoran sebelum waktunya.
  4. Gayusisme. Ah, tak perlu panjang lebar sepertinya membahas hal ini. Gencarnya media masa memberitakan kasus gayus dan keterkaitannya dengan dirjen pajak dan tentu saja kementrian keuangan telah mencoreng keluarga besar kementrian ini. Termasuk kami, siapapun yang tahu sekolah kami pasti akan dengan gaya so suci bertegur sapa,”owh STAN, gayus yah, jangan macem-macem yah.”

Begitulah poin-poin yang bisa saya jabarkan hasil keluh kesah kawan-kawan selama ini. Bagi anda yang berminat melanjutkan kuliah atau mengikutkan anak kuliah ke Perguruan Tinggi Dinas tentu haru berfikir matang-matang sebelum bertindak. Hidup hanya sekali, jangan sampai menyesal di kemudian hari.

Salam Sukses, Bahagia Selalu

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: