Pentingnya Ruh Budaya

Seseorang dikatakan cinta budaya apabila ia berbahasa daerah, memakai busana daerah, mengenakan senjata daerah dan melekatkan ornamen daerah di tempat tinggalnya. Cinta tersebut hanyalah  wujud cinta terhadap yang berwujud, padahal ada hal mendasar yang dapat dijadikan acuan kecintaan seseorang terhadap budaya, yaitu : cara berfikir dan bertindak. Kedua hal ini, bisa juga disebut ruh budaya.

Oleh FERRY FADILLAH

Masih ingatkah kita dengan peristiwa diklaimnya beberapa kesenian kita oleh Negeri Jiran Malaysia? Saya yakin semua pasti ingat. Saat itu, mendadak seluruh elemen bangsa menunjukan kebenciannya kepada malaysia, bahkan genderang perang diusulkan segelintir orang yang tidak paham arti dari sebuah perdamaian. Media masa setiap hari, menyuguhkan berita tetang budaya yang ‘dicuri’ tersebut, meningkatkan rasa cinta seluruh masyarakat terhadap budayanya sendiri dan rasa benci kepada sudara serumpun kita, malaysia. Tapi setelah semua itu usai, seperti angin lalu, kecintaan kita seolah sirna tertimpa gerilya budaya barat.

Reaktif, beraksi setelah keburukan dan kemalangan menimpa. Itulah kita. Begitu menyepelekannya kita terhadap budaya sendiri, sampai-sampai ada dari sebagain kita yang meninggalkannya dan menyatakan bahwa budaya sendiri sudah tidak lagi relevan di zaman modern ini. Tapi saat budaya kita dicuri, mereka yang cinta dan tidak cinta dengan budaya seragam dalam bersuara :Ganyang Malaysia! Sebenarnya yang salah bukan Negeri Tetangga kita itu, tetapi kita ini, sudahkah kita menerapkan budaya sendiri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Jika belum, apa salahnya malaysia?

Waktu terus berputar, beruntung sepertinya, tiba-tiba bermunculan orang-orang yang makin cinta kepada budayanya sendiri dan menyebarkan kecintan itu kepada setiap orang. Mereka muncul di sanggar-sanggar tari, rumah musik, arena silat, ruang-ruang perkuliahan bahkan acara televisi. Kita bisa menyaksikan sendiri di layar kaca, beberapa acara hiburan yang menjadikan unsur budaya lokal sebagai latar belakangnya atau hanya selingannya.

Sebut saja, Opera Van Java, sebuah pertunjukan wayang orang yang multi kultural serta lebih bebas dalam mengekspresikan diri, sehingga bobodoran yang mereka bawakan sering mengundang tawa semua golongan masyarakat. Lalu, Sinden Gosip, yang pembawa acaranya selalu memakai kebaya dan terkadang bertukar pantun dengan sesamanya. Dan yang sedang menjadi trend di daerah saya adalah Indonesia Mencari Bakat, sebuah pertunjukan seni putra daerah dengan kesenian daerahnya masing-masing, tapi dengan beberapa reformasi, sehingga diharapkan dapat menarik minat kaula muda saat ini.

Masih banyak sebenarnya acara-acara serupa, mulai dari acara bobodoran, infotainment, pertunjukan musik dan sinetron, tapi disini bukanlah tempat yang sesuai untuk menyebutkan semua itu. Kita akan berbicara budaya pada umunya dan ruh budaya pada khususnya.

Ruh Budaya

Melihat semua perkembangan dan penyebaran budaya lokal melalui media masa dan elektronik di negeri ini, tentu ada anggapan bahwa budaya indonesia akan bangkit kembali. Menjadi budaya yang dapat diterima penghuni bumi ini, seperti yang telah cina dan jepang berhasil lakukan. Tapi jika kita mau berkerut dahi sejenak dan memikirkan hakekat dari semua bentuk di dunia ini, maka kita akan berkesimpulan bahwa semua usaha-usaha kebudayaan tersebut adalah hampa, kosong, tidak berisi! Dalam kata lain, tidak memiliki ruh budaya sama sekali.

Semaraknya gamelan, kebaya, keris, blankon, logat daerah, angklung dan sebagainya di media masa saat ini, hanya menggambarkan sebuah kecintaan terhadap benda. Budaya yang berwujud benda. Sehingga tidak heran jika mereka yang berkulit putih dan lahir di Moscow, bisa dengan mahirnya memankan gamelan, dan bisa mengalahkan seorang jawa dalam kontes gamelan internasional (misalnya). Karena benda itu bisa dikuasai siapa saja, tidak terikat oleh suku, bangsa, atau agama, tapi yang namanya ruh budaya itu sulit untuk dikuasai siapa saja, dan sangat berkaitan denangan asal-usul sebuah bangsa. Inilah yang harus kita kembangkan dan sebarkan.

Ruh Budaya sendiri lahir dari ajaran karuhun (nenek moyang) setiap suku di negeri ini. Ia dijadikan patokan bagi kehidupan, sehingga terciptalah keselarasan hidup antara Tuhan, Alam dan Manusia. Ada juga yang menyebutnya Kearifan Lokal atau local wisdom. Bentuknya beragam, ada yang berupa tulisan dengan aksara kuno di daun lontar, atau cerita-cerita kuno yang dituturkan turun menurun.

Dengan berpegang terhadap ruh budaya ini, tentu bangsa kita akan memiliki cara yang berbeda dalam memandang hidup dan kehidupan. Akan ada perbedaan yang jauh antara budaya kita yang amat religius dengan kebudayaan barat yang materialis. Misalkan saya sebagai orang sunda, memiliki sebuah prinsip kasundaan yaitu silih asah, silih asih dan silih asuh, yang artinya saling mencerdaskan, saling mengasihi dan saling menjaga. Setiap orang dari latar kesukuan yang berebeda tentu memiliki ruh budayanya masing-masing. Hanya sekarang, bagaimana caranya kita mencintainya, mengimplementasikannya dan merelevansinya dengan perubahan zaman. Tentu semua orang memiliki caranya masing-masing.

Menengok kembali ke belakang untuk mempelajari ruh budaya tentu akan menemukan banyak hal ghaib yang susah dicerna oleh akal. Saya sendiri yakin bahwa dari segala sesuatu yang ghaib pasti ada penjelasan yang rasional, ketidak pecahkannya rasionalitas itu yang menyebabkan segala sesuatu disebut misteri. Satu lagi, bahwa dalam mempelajari ruh budaya kita harus menghindari segala sesuatu yang berbau syirik. Sehingga saya terkesan akan sebuah konsep Suku Minang tentang Agama dan Adat yaitu, adat basandi syara, syara basandi kitabullah (adat berdasar syariat, syariat berdasar kitabullah). Tentu dengan hal ini, kita akan terhindar dari praktik syirik dan dapat beragama dengan tidak menghilangkan jati diri bangsa kita sendiri.

Diakhir celoteh saya ini, saya hanya mau berbagi kemirisan saya melihat bangsa ini. Saya seorang muda yang belum banyak pengalaman, bergaul biasa seperti anak normal lainnya tetapi berfikir bertentangan dengan para pemuda umunya, tidak jarang kata kolot sering terbesit di telinga saya. Ketika mereka tahu semua artis, saya tidak tahu. Ketika mereka hafal lagu-lagu zaman sekarang, saya hanya terdiam. Ketika mereka berdandan ala rocker, saya hanya bisa berdanda seadanya baju saya. Entah saya salah atau mereka yang salah, tapi yang saya tahu bahwa saya adalah bangsa indonesia dan harus bertindak  sebagai bangsa indonesia.

Hari ini saya menulis dan terus menyaksikan tergerusnya budaya kita di dunia internasional. Seolah menjadi bangsa yang kehilangan identitas dan kehormatan. Besar harapan saya, bangsa ini memiliki budaya yang mengakar kuat. Entah akan terwujud atau tidak. Jika melihat kondisi pemuda sekarang ini dan cara pandangnya terhadap budaya, pesimis memang, tapi mau bagaimana lagi, saya hanya bisa menulis dan berdoa kepada Tuhan yang katanya Maha Mendengar.

sumber gambar : matanews

  1. #1 by Layanan Bisnis Pulsa Dan Token PLN on December 7, 2015 - 22:29

    Awesome post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: