Tuna Netra adalah Guru Kita

oleh Ferry Fadillah

Tubuhnya tegap. Kemeja putih dan celana panjang yang ia kenakan menandakan bahwa ia begitu peduli dengan penampilannya. Kaca mata hitam dengan lensa persegi tidak pernah ia lepaskan, dan dalam setiap perjalanan, ia selalu ditemani oleh benda kesayangannya : tongkat berjalan.

***

Waktu itu puku 20.00 WITA, saat saya dan seorang kawan menyusuri jalan kota denpasar untuk mencari sebuah restoran sunda. Jalanan begitu padat, maklum malam itu malam minggu, malam yang telah menjadi ritual khusus bagi pasangan muda-mudi yang akan memadu kasih di taman kota, bioskop, tempat parkir atau pusat perbelanjaan. Setiap motor yang melintas selalu saja dilengkapi dengan pemandangan muda-mudi yang berpelukan, berpakain sexy dan tentu mementaskan sebagian dari tubuhnya.

Disudut sebuah hotel kelas melati, kami melihat seorang tuna netra yang berjalan dikegelapan malam tanpa ditemani oleh seorangpun. Tongkat putih dengan pegangan berwarna hitam lah yang membantunya menemukan jalan yang bisa dilewati. Tidak ada rawut wajah kekhawatiran pada dirinya, ia sendiri dalam keterbatasan tapi bisa begitu tenang dalam kegelapan dan ancaman kejahatan di malam hari.

Temanku bertanya, “fer, untuk apa Tuhan ciptakan dia, tapi ternyata dia tidak bisa meliat keindahan ciptaanya?”

Dengan nada setengah bercanda saya menjawab, “mungkin jika dia mendengar pertanyaan ini dia, akan menjawab : buat apa punya mata bisa melihat jika hanya digunakan untuk melihat yang tidak-tidak! Haha”

Percakapan ini singkat, tapi tiba-tiba saja saya terdiam dan berfikir sejenak. Ada benarnya juga pernyataan kawan saya itu, dan ada benarnya juga jawaban saya itu. Saya jadi teringat kata seorang ustadz waktu kecil dulu bahwa segala sesuatu yang tercipta di bumi ini pasti akan ada hikmahnya.

***

"mereka buta, tapi mereka adalah guru kita"

Kegelapan yang menyelimuti seorang tuna netra sifatnya bisa temporal bahkan permanen. Temporal  dalam artian ia masih punya harapan untuk menikmati indahnya dunia ini dalam waktu yang sudah digariskan Tuhan. Tapi permanen lebih dari itu, karena ia tidak akan pernah bisa melihat indahnya dunia ini sampai ia mencapai kesempurnaan (wafat).

Seorang yang berpenglihatan normal, mungkin akan merasa iba dengan para tuna netra. Seorang yang berjiwa dermawan, pasti akan terbesit niat untuk membantu pengobatannya agar lekas sembuh. Seorang perawat yang ikhlas, mungkin akan nenemai dan menjaganya agar ia terhindar dari marabahaya

Tapi saya sadar, bahwa yang harus diibakan adalah diri saya sendiri. Dan mungkin, mereka pun iba terhadap diri saya yang bisa melihat cahaya dalam dunia.

Dunia dengan panorama alam memang membuat kita mensyukuti nikmat Tuhan akan tapi mereka iba karena indahnya dunia dengan segala hal yang mencelakakan mata, telah merasuki manusia yang mempunyai mata normal, mempengaruhi setiap jengkal kehidupannya, dan mengubahnya menjadi tamak, rakus, gila wanita, gila harta dan gila kedudukan.

Dunia begitu indah, dan mereka yang tidak dapat melihat cahaya dalam dunia telah memiliki caranya sendiri untuk mensyukuri nikmat Tuhan, dan memberikan pelajaran bagi manusia yang masih bisa melihat cahaya.

Dari semua itu, saya menyimpulkan, bahwa seorang tuna netra tidaklah sia-sia hidup di bumi ini, karena ia memiliki tugas mulia : menjadi guru bagi kehidupan manusia.

.

.

.

Denpasar, 28 Mei 2010

sumber ilustrasi : foto.detik.com

,

  1. #1 by Zulfikar Akbar on May 29, 2010 - 09:27

    Uhm, ternyata punya Ferry. Tulisan seperti ini, sangat menginspirasi dek. Salut

  2. #2 by Zulfikar Akbar on May 29, 2010 - 09:46

    Dilihat lagi di widget tadi, ini [di bawah] yang harus dihapus biar tetep rapi tampak widgetnya:

    .fc__mbt_link:hover { text-decoration: underline !important; }

  3. #4 by Zulfikar Akbar on May 29, 2010 - 10:04

    Yap, sama2 dek. Selamat berkarya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: