Diam itu Bukan Emas

oleh Ferry Fadillah

"emas, semakin lama semakin berharga"

Diam adalah emas. Sebuah ungkapan klasik yang sering didengungkan orang untuk menggambarkan pentingnya diam ketika berbicara hanya akan menumbuhkan benih kemurkaan. Dan ‘diam adalah emas’ telah menjadi daya tarik tersendiri, sehingga orang memilih diam dalam setiap kondisi dan berbicara ketika memiliki hak untuk itu.

Ketika kita melakukan kesalahan kepada seseorang–keluarga, saudara, kekasih, sahabat dan teman–tentu akan ada beragam ekspresi dari kesalahan yang kita lakukan. Marah, kesal, jengkel, hinaan, kritikan pedas, dan bentakan dapat dipastikan akan terlontar dari mulut mereka kepada kita untuk mengirimkan sinyal bahwa apa yang kita perbuat adalah salah. Tidak selamanya ekspresi kekesalan berbentuk seperti itu, ada kalanya mereka kesal, diam dan berubah sikap sampai periode tertentu, seolah memberikan pesan : cari sendiri kesalahanmu, dan jangan ganggu aku.

Diam pada kasus seperti ini adalah kasus yang luar biasa. Karena mereka, yang berbuat kesalahan, akan sulit sekali menerka  kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Mungkin minta maaf telah terlontar dari mulut pesalah, tapi sikap diam dari mereka yang kita harapkan bersua untuk memberi tahu letak kesalahan kita–terdiam membisu, berubah sikap tidak menentu– hanya membuat tanda tanya besar dalam kepala si salah.

Yang salah tetaplah salah dan apakah kesalahan harus dibalas dengan kebingungan. Apakah mulut yang terpasang di kepala kita telah kehilangan ototnya untuk bergerak? Kesalahan yang berbalas diam hanya akan menimbun kesalahan tersebut menjadi besi rongsok yang tiada guna.

Keterbukaan antara 2 manusia dalam mengkoreksi kelakuan dalam hidup adalah sebuah kewajiban. Komunikasi harus  terjalin apapun permasalahannya, tulus menyatakan rasa bersalah dan jujur memberi letak kesalahan akan menempati posisi tertinggi dari sebuah sosialisasi manusia.

Keterbukaan dalam mengkoreksi masalah, dan ketulusan dalam meminta maaf atas kesalahan akan menjadikan kesalahan sebagai benda berharga yang berguna bagi kehidupan sosial berikutnya. Layaknya emas yang semakin mahal seiring berjalannya waktu.

Sikap diam, dan kebekuan dalam mengkoreksi kesalahan orang lain, hanya akan menjadikan kesalahan menjadi beban yang terus terpikul dalam kehidupan sosial. Seperti besi rongsok yang karat dimakan waktu. Tiada guna hanya mencemari.

Pada akhirnya saya berkesimpulan : Diam itu bukan emas, jika diam hanya membiarkan.

Ferry Fadillah, Denpasar, 25 Mei 2010

Haturan maaf bagi mereka yang tersakiti hatinya

sumber gambar : www.detikfinance.com

, ,

  1. #1 by Fitra on May 27, 2010 - 00:47

    lebih baik mengungkapkan berarti daripada diam.. .? ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: