Jayakan Indonesia dengan Budaya

"Indonesia, coba bayangkan seandainya singapura menjadi kecamatan kita, malaysia dan filipina menjadi provinsi"

Hari ini, seperti biasanya, saya berkunjung ke salah satu kostan teman saya. Awalnya saya berniat untuk mengajak dia sarapan, tetapi berhubung dia sedang menonton sesuatu, saya pun menunda rencana sarapansaya. Rasa penasaran pun muncul terhadap apa yang dia tonton, ternyata ia sedang menonton sebuah acara entertainment korea(kata teman saya itu adalah band 2PM, After School dan SNSD), disana ditampilkan artis-artis terkemuka dari republik tersebut, pakaian sexy, cara bergaul dengan lawan jenis yang terlalu, tarian-tarian yang mengundang nafsu sexual, musiknya yang patah-patah dan semua hal sangat mencerminkan budaya liberal(kebebasan). Lantas saya berfikir, dimanakah korea? Yang ada hanyalah wajah putih orang korea, nama-nama korea (meskipun sebagian sudah berganti nama menjadi ke-baratan : stefani, steven, dll), dan basasa koreanya.

Jika kita melihat perang di semenanjung korea, antara Korea Utara yang didukung oleh kekuatan Komunis Uni Soviet, dan Korea Selatan yang didukung oleh kekuatan Demokrasi Liberal Amerika, tentu kita bisa menerka jawabannya. Dari dulu Korea Selatan adalah mitra strategis Amerika Serikat untuk membendung pengaruh komunis di Semenanjung Korea. Seorang yang bergaul dengan pedagang parfum maka akan terbawa berbau parfum juga. Inilah yang telah terjadi pada Korea, kerjasama dalam bidang militer tampaknya telah dilanjutkan dengan kerjasama dalam bidang kebudayaan, nahasnya budaya Amerika seolah telah merasuk ke dalam unsur-unsur budaya Korea, dan Amerika sendiri tetap menjadi Amerika dengan cara mereka sendiri. Tidak heran jika cara pandang, cara berpakaian, cara bergaul, cara belajar dan sebagainya telah teracuni oleh budaya liberal, dan saya yakin masih ada beberapa budaya mereka(korea) yang mengakar erat, tapi itu tidak seberapa.

Sekarang mari tengok negeri tercinta ini. Dahulu, sebelum masa penjajahan, kita pernah menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa lain. Bangsa kita maju, pendidikan (untuk seukuran zaman itu) amatlah berkembang. Tapi itu dulu sekali, setelah Belanda dan Jepang menginvansi Indonesia, negara kita mulai mengalami keterbelakangan pendidikan, banyak kerajaan-kerajaan yang dipecah-pecah dan dieksploitasi kekayaan alamnya. Tidak heran jika wilayah negara kita hanyalah sebesar yang terlihat di peta sekarang ini.

Setelah kemerdekaan, kita memiliki seorang pemimpin yang begitu menggalakan BERDIKARI. Berdiri di atas kaki sendiri. Pemimpin yang dengan tegas mengatakan, go to hell with your aid kepada Amerika, Pemimpin yang menentang pembentukan begara boneka malaysia, dan pemimpin yang dengan tegas tidak berpihak kepada blok barat dan timur, sehingga membentuk sebuah Gerakan Non Blok yang anggotanya terdiri dari sejumlah negara Asia dan Afrika serta Indonesia sebagai peloporya. Tapi hari ini, hari ketika saya menulis ini, Indonesia seolah telah hilang keperkasaannya, seperti Garuda yang kehilangan sayapnya.

Sejarah kita tentu sangat membanggakan dan menyulut semangat kebangsaan dalam diri. Tapi sejarah adalah sejarah, harus diambil pelajarannya bukan dipelototi dan dibangga-banggakan.

***

"gambar ini saya ambil dari salah satu televisi swasta(pagi hari), dengan perubahan seperlunya, dapat dilihat muda-mudi yang bercampur baur dalam kesenangan dan melodi"

Sekarang ini, pemuda–sebagai agent of change–telah hampir semuanya terpengaruh oleh budaya liberal. Kita tengok saja acara-acara di televisi, setiap hari dipenuhi oleh acara-acara musik yang tiada hentinya, dari pagi sampai malam selalu saja ada acara bertemakan musik, penonton dan pemainnya didominasi oleh pemuda. Tak apalah jika acara musik tersebut bertemakan kebudayaan Indonesia, tapi ini, begitu terbuka, begitu bebas dan liar (beberapa).

Anda tahu acara yang menjadi ajang pencarian jodoh di salah satu stasion TV swasta? Mungkin setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda, tapi saya, jika melihat acara itu selalu bergumam dalam hati : Dimana letak kesucian sebuah cinta? Itukah dinamakan cinta, terobral sedemikian rupa seperti barang di pasar. Ah, entahlah, tapi acara semacam itu, menurut saya, bukanlah cipta bangsa kita, bukan! Pasti ada camput tangan budaya liberal(kebebasan).

Jika kita perhatikan kelompok pemuda agamis–saya perhatikan ini dari lingkungan pendidikan saya–banyak dari mereka yang tidak ramah budaya. Cara-cara mereka berpakain, berbicara dan berbahasa sudah sangat mencirikan budaya lain. Padahal kita harus bisa membedakan mana Agama dan mana Budaya. Ketika kita beragama di Indonesia maka pergunakanlah Budaya Indonesia. Saya jadi ingat sebuah konsesus Adat Basandi Syarak, dan Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Syariat, Syariat berdasrkan Al-Quran) yang berasal dari ranah minang. Menurut saya, jika hal ini dipraktikan dalam kehidupan beragama maka akan menciptakan sebuah cara beragama yang ramah terhadap budaya bangsa ini, sehingga bangsa-bangsa lain akan melihat kita sebagai bangsa yang berbeda yang tidak mudah dipengaruhi asing (dalam hal kebudayaan).

***

"Gamelan, jika dimainkan akan mengkasilkan irama yang indah, nikmatilah alunan gamelan sambil menikmati manisnya teh asli indonesia"

Ketika saya menulis ini, saya mendengarkan alunan gamelan sunda. Rasanya begitu damai. Iramanya indah, dan ramah terhadap telinga. Saya merasakan ada ruh dalam alunan gamelan, ada ketenangan dan kedamaian dalam irama yang ditabuh para pemainnya.

Pada saat yang sama, diluar sana, penghuni kost lain sedang memasang musik Jepang dan Barat dengan keras. Nadanya menghentak-hentak, sesekali pendengarnya berteriak mengikuti lirik lagu tersebut. Saya pribadi merasakan kesemerawutan jiwa ketika mendengarnya, tidak ada ruh, tidak ada kedamaian, yang tercipta hanya anggukan kepala semu.

Tiba-tiba saya teringat sejarah masa lampau. Dimana para pelajar indonesia di zaman penjajahan, masih menggunakan pakaian adat ketika bersekolah. Unik memang, dan mungkin jika itu terjadi sekarang, banyak yang akan tertawa, karena memang zaman suda berubah, dan ini sudah bukan zamannya lagi, mungkin. Tapi jika boleh mengandai-andai, apalah salahnya jika hal tersebut terjadi, toh jika semua sudah sepakat tidak akan ada lagi yang mentertawakan kita. Dan kita bisa berbicara kepada bangsa lain, dengan lantang dan bangga : Ini lah kita!

"sekolah rakyat/tentu tidak seperti ini keadaan yang saya inginkan tetapi di-reform sedemikian rupa dan disesuaikan dengan zaman"

Dalam hati, saya ingin sekali melihat Indonesia dengan kekuatan budayanya yang sangat mengakar kuat, sehingga bangsa lain segan dan terpesona terhadap kita. Akan tetapi, semua itu hanya akan terwujud jika kita benar-benar memiliki kecintaan terhadap budaya karuhun (nenek moyang;bahasa sunda)kita, serta mempraktikannya dan menyebarkan kecintaan tersebut kepada semua orang yang kita kenal. Tentu harus diingat bahwa pengamalan budaya, haruslah berdasarkan Agama, jika tidak kita akan terjebak kepada syirik (mempersekutukan Tuhan), yang merupakan salah satu dosa yang tidak terampunkan.

Jika kita memulai hal tersebut (kecintaan, paraktik dan penyebaran) hari ini, dari diri sendiri dan dari lingkungan terkecil, Insya Allah, Indonesia akan Jaya kembali. Garuda akan mengepakan sayapnya dan mengabarkan keagungan negara kita kepada dunia. Saat itu juga kita akan tersenyum bangga dan bersyukur kepada Tuhan.

Ferry Fadillah, Denpasar, 18 Mei 2010

Bagi mereka yang peduli pada masa depan negeri ini.

sumber gambar :
1. Peta Indonesia : http://voiceofmuslimahbekasi.files.wordpress.com/2009/10/eastindies.jpg
2. muda-mudi : koleksi pribadi
3. Gamelan :http://anakdewa46.files.wordpress.com/2008/04/2007-07-0762-gamelan2.jpg
4. Sekolah Rakyat : http://farm3.static.flickr.com/2366/1705432558_2b79469f5c.jpg
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: