Senyum itu dari hati

"Selalu Tersenyum"

oleh Ferry Fadillah

Beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum Bali. Arsitekturnya yang kental budaya dan kaya dengan nilai filosofis telah memikat hati saya–dan tentu semua pengunjung juga. Di sebuah taman, tepat di depan gedung pameran, ada 2 buah patung budha berdiri kokoh dengan wajah ramah sambil tersenyum. Senyum yang terukir dalam wajah mereka mendamaikan hati saya, karena baru kali ini saya melihat patung yang tersenyum seperti itu di dalam museum tersebut.

***

Karuhun (nenek moyang) maupun orang tua kita biasanya mengajarkan untuk tersenyum jika bertemu orang yang lebih tua, sebaya maupun yang lebih muda. Nilai-nilai inilah yang terikat kuat secara emosional dalam diri bangsa indonesia secara turun  menurun, sehingga senyum bukan lagi barang yang aneh di negeri ini.

Agama Islam pun mengajarkan keutamaan senyum. Muhammad saw sebagai pribadi yang menjadi suri tauladan umat islam seluruh dunia dikenal sebagai sosok yang ramah dan murah senyum. Tentu senyum beliau bukanlah senyum yang dibuat-buat tetapi merupakan cerminan dari hati yang begitu bersih dan suci. Hal ini bisa disimak dalam kisah berikut.

Suatu ketika Muhammad saw didatangi seorang Arab Badui, dengan serta merta ia berlaku kasar dengan menarik selendang Muhammad saw, sehingga leher beliau membekas merah. Orang Badui itu bersuara keras, “Wahai Muhammad, perintahkan sahabatmu memberikan harta dari Baitul Maal!” Muhammad SAW menoleh kepadanya seraya tersenyum. Kemudian beliau menyuruh sahabatnya memberi harta dari baitul maal kepadanya.”

Senyum dari hati bukan dari otot

Patung yang saya deskripsikan di awal paragrap saja telah memberikan sebuah kedamaian dalam hati, padahal dia tidak punya hati alias benda mati. Apalagi manusia yang jelas-jelas memiliki hati.

Hati setiap orang memang sebuah misteri yang tak berujung. Jutaan wajah manusia di seluruh dunia tentu memiliki pula jutaan hati dalam dirinya, dan jutaan pikiran-pikiran yang hanya akan diketahui oleh diri mereka sendiri. Ketika seseorang tersenyum, bukan berarti ia suka terhadap kita begitu pula ketika  seseorang cemberut, bukan berarti ia benci kepada kita.

Karena kita tidak pernah bisa menebak hati orang, bukan berarti kita tidak perlu tersenyum kepada orang lain. Senyum itu sebuah keharusan mutlak jika ingin menjalin hubungan yang damai dengan seseorang.

Senyum kepada orang lain berarti kita menyatakan bahwa keberadaan orang lain tersebut adalah positif bagi kita. Dengan memulai hal ini, maka kita telah membuka gerbang persahabatan yang luas dengan banyak orang. Karena tentu semua orang senang bersahabat dengan orang ramah dan murah senyum, bukan?

Dan ingat tersenyumlah dari hati yang ikhlas, bukan senyum palsu untuk tujuan duniawi semata. Karena hati seseorang akan menentukan kualitas senyum yang dihasilkan. Makin bersih dari segala maksud-maksud jahat, maka senyum kita akan menjadi pendamai hati orang-orang disekitar kita.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: